CaPing Tanpa Sampah

urbanisme warga tengerang selatan

Setelah periode Februari-Mei 2015 kemarin LabTanya bersama warga RW 08 Camar Pinguin (CaPing) Bintaro Jaya melakukan kegiatan riset, eksperimen, sekaligus sosialisasi gagasan Kota Tanpa Sampah, maka pada perayaan 70 tahun kemerdekaan Republik Indonesia hari Minggu yang lalu, pengurus RW 08 bersama kedua belas Ketua RT di CaPing serta warga yang hadir mencanangkan komitmennya untuk wujudkan CaPing sebagai kawasan yang bebas dari persoalan sampah: CaPing Tanpa Sampah*.

CaPing Tanpa Sampah memiliki arti tidak hanya sebagai kawasan lingkungan yang (nantinya) tidak lagi memiliki persoalan terkait sampah, tapi juga kawasan CaPing dengan segenap warga penghuninya mampu pahami serta praktikkan secara aktif dan nyata: gaya hidup terkait konsumsi juga produksi yang berkesadaran daur hidup.

Sekedar mengingat kembali, CaPing adalah klaster di kawasan pemukiman Bintaro Jaya yang dua tahun berturut-turut (2014 dan 2015) menjadi juara kedua lomba K3 (Kebersihan, Kelesetarian, dan Keamanan) Lingkungan dari seluruh klaster di Bintaro Jaya.

Penghargaan dengan parameter kebersihan dan kelestarian lingkungan ternyata masih menyimpan persoalan penting yang kompleks dan rumit serta indikasikan bahwa penghargaan ini tidak beri kontribusi penting atas problematika sampah perkotaan.

Sebagai data, dengan rata-rata jumlah sampah tiap rumah tangga sebesar 4 kg, jumlah seluruh sampah CaPing dengan jumlah penduduk sekitar 840 kk, menghasilkan sampah tidak kurang dari 3.340 kg setiap harinya. Kemana sampah ini pergi? Tidak berbeda dari catatan penelitian dari Bank Dunia, bahwa Indonesia termasuk negara yang perjalanan limbahnya berakhir di Tempat Penampungan Akhir (TPA). Dalam hal ini sampah CaPing dibawa setiap harinya ke TPA Rawa Kucing Cengkareng Tangerang.

Jumlah sampah harian ini bila diakumulasikan selama setahun, maka tidak kurang dari 1.226.400 kg sampah berpindah dari kawasan CaPing Bintaro ke TPA Rawa Kucing Cengkareng Tangerang. TPA Rawa Kucing sendiri tidak terlepas dari persoalan klasik TPA-TPA lain yang ada di kota-kota besar di Indonesia, mulai dari persoalan teknis pengelolaan sampah yang tak tertangani, dampak lingkungan dan sosial bagi kawasan sekitar TPA, hingga persoalan kapasitas lahan yang selalu ketinggalan (dan tak pernah cukup) tangani peningkatan volume sampah yang masuk.

Pencanangan komitmen CaPing Tanpa Sampah, merupakan kegiatan penting yang mewarnai perayaan hari kemerdekaan kali ini, yang juga dimeriahkan dengan acara lomba utama yakni lari dengan tema ‘Color Run’ , serta ragam lomba khas tujuh belasan lainnya, dan kegiatan bazar kuliner.

Komitmen ini kemudian ditandai dengan penandatangan sekaligus penyerahan bibit tanaman sirsak dan rosella oleh Ketua RW Ibu Puji Susilo kepada tiap ketua RT. Sebagai catatan, Bintaro Jaya sebagai sebuah kawasan lingkungan binaan hampir tidak memiliki ragam tanaman produktif (seperti tanaman buah atau tanaman obat), hampir sebagian besar vegetasi yang ditanam adalah tanaman ‘estetik’ yang bahkan cenderung homogen. Pemberian bibit tanaman ini juga sebagai langkah awal keseriusan lingkungan CaPing untuk menanam ragam tanaman buah dan obat di lingkungan mereka, sebagai satu langkah kongkrit kesadaran daur hidup.

Pada perayaan ini, LabTanya juga memakai kesempatan untuk membuka pendaftaran para relawan warga dan agen CaPing Tanpa Sampah yang akan berpartisipasi dalam rangkaian kegiatan pemetaan, belajar, mengembangkan, sekaligus bertukar pengetahuan terkait gaya hidup ekologis yang berbasis atas pemahaman atas daur hidup. Relawan-relawan inilah yang kemudian diharapkan akan menjadi motor penggerak komunitas CaPing yang solid serta konsisten mempraktikkan serta menjawab tantangan-tantangan nyata atas gagasan Kota Tanpa Sampah.

Setelah di kegiatan sebelumnya mampu yakinkan sebagian warga bahwa masa depan tanpa sampah itu mungkin, di kegiatan ini sebagian warga CaPing lainnya, lewat pengurus dan sebagian relawan yang mendaftar tunjukkan adanya kemauan.
Yang kemudian menjadi tantangan berikutnya adalah keseriusan membangun konsistensi dan keyakinan bahwa tidak ada satu pun upaya serta inisiatif positif tiap warga masyarakat, walau pun kerap dianggap kecil dan remeh, yang akan sia-sia.

CaPing Tanpa Sampah, Kota Tanpa Sampah, Masa Depan Tanpa Sampah, mungkin!

 

catatan:

*CaPing Tanpa Sampah merupakan bagian dari kegiatan Urbanisme Warga di kota Tangerang Selatan

**Tulisan ini disalin dari halaman Facebook LabTanya

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *