Ishack Sonlay lahir di Kiupukan pada tanggal 29 Maret 1988. Tamat dari Seminari Menengah Sta. Maria Immaculata Lalian (2008) dan Fakultas Filsafat Agama Unwira Kupang (2012). Bergabung bersama KMK Sastra Filokalia Seminari Tinggi St.Mikhael Penfui dan kelompok sastra regional Dusun FLOBAMORA-NTT. Sering menulis untuk majalah-majalah kampus seperti Logos, Veritas, Maranatha, juga pada Harian Pos Kupang dan Timor Express, serta aktif dalam pementasan puisi yang digagas Komunitas Rumah Poetica Kupang.
Puisi-puisi dan esai-nya tersebar dalam Tuah Tara No Ate (Bunga Rampai Temu Sastrawan Indonesia IV Ternate, 2011), Meretas Karya Anak Bangsa (World Art Games Indonesia, 2012), Poetry Poetry 120 Indonesian Poetry (2012), Berbagi Kasih (2012). Jurnal Santarang (Jurnal sastra Dusun FLOBAMORA), Pon Minimalis (Leanguage Theatre Indonesia), Buletin Jejak (Forum Sastra Bekasi). Cerpennya Hantu-Hantu Motel dipublikasikan dalam Antologi Cerpen Wanita Sepotong Kepala (2011).
Ishack telah menerbitkan Antologi Puisi Kuyup Basahmu(IBC, 2012). Selain menulis, dan bergiat di komunitasnya, Ishack juga menggeluti Seni Musik. Bersama Damian Group, Ia telah menghasilkan 7 Album Pop Rohani dan 1 Album Pop Daerah. Dalam kegiatan Pesanggrahan yang ia ikuti, Ishack mempersiapkan novel Dear Dilinov, berikut catatannya:
Dear Dilinov,
Saya dibentuk dari sebutir debu tanah, kemudian ditempatkan pada ruang yang sangat sederhana. Hingga saat ini pun, saya masih mencintaimu. Mencintaimu dengan cara yang sederhana, di dalam ruang yang ringkih. Di dalam ruang ini, burung-burung bebas beterbangan tanpa cemas akan ancaman pemburu. Di sini pinus-pinus terpancang dengan kokoh. Rumpun bambu tumbuh bertunas-tunas. Andai saja saya adalah salah satu ruas bambu, saya ingin engkau mengisi kekosongan ini. Engkau boleh datang sebagai merpati kipas. Saya akan mainkan simponi gemerisik daun-daun, menganyam mahkota dari sarang laba- laba, dan kita akan menjaring cahaya matahari.
Paragraf di atas merupakan penggalan awal dari novel yang saya tulis selama program Residensi BPR di Desa Muntuk- Dlingo. Saya sengaja menempatkan narasi tersebut pada mulut si-Saya untuk menujukkan syahadat kesenian yang saya akui. Bahwasannya, dalam cara apa pun (entah menulis, bermain musik, melukis, memotret, membuat video, dll) sebetulnya seorang seniman sedang berpartisipasi dalam usaha menampakkan nilai-nilai kekal ke dalam dunia yang sifatnya sementara.
Sebagai novelis pemula, saya tentu harus belajar dari berbagai cara kepenulisan novel yang sudah ada. Saya belajar menulis melalui tata-cara beberapa penulis profesional. Meski pun belajar dari tata-cara mereka, saya sendiri memiliki ukuran dan patokan saya sendiri, sehingga saya menjamin: novel Dilinov tidak akan lebih bagus, dan (mungkin) juga tidak lebih buruk dari novel-novel yang pernah ditulis. Pola khusus yang saya gunakan ialah: tidak menulis secara runtut bab per bab. Artinya, setelah saya membuat sketsa ceritanya, saya boleh menulis dengan melompat-lompat dari bab mana saja, sesuai ide yang datang di kepala saya.
Saya mendapat kemudahan selama proses berkarya dan interaksi saya dengan berbagai pihak di BP Dlingo, terutama saya mengamati salah satu mata pencaharian warga yaitu sebagai pembuat pintu. Selain melakukan pengamatan dan wawancara langsung, saya juga membuat berbagai pencarian lewat internet (goggle, youtube, dll) untuk menemukan data-data tambahan yang saya butuhkan. Saya beruntung, karena di BPR ada fasilitas wifi.
Salah satu kemajuan aspek kreatifitas saya selama residensi ini adalah usaha saya untuk berkolaborasi dengan Wukir Suryadi. Saya memiliki imajinasi pada performance art. tetapi mimpi saya itu tidak bisa terwujud di Kupang karena wawasan seni di sana yang masih sangat lambat bertumbuh. Seni hanya terbatas pada seni suara, seni rupa, seni sastra. Sementara itu, cabang-cabang seni lain semisal instalasi dan teater masih sangat baru.
Kesan selama Residensi di BPR Dlingo
Saya mendapat banyak hal selama dua bulan berkarya di tempat ini. Pertama, warga di sini sangat santun dan mudah diajak berkomunikasi. Saya dengan mudah dapat menjalankan riset saya. Selain itu, saya juga mendapatkan sesama residen yang bisa diajak berdiskusi, mau berbagi pengalamannya, dan saling menghargai.
Kedua, Saya mendapat banyak kemudahan fasilitas (baik material maupun moril) dari BPR, Pak Marco, Mbak Christi, Mas Antariksa, Mas Lilik, Mas Surya, dan semua warga yang setia mendukung saya. Untuk semua jasa dan budi baik ini, saya menyampaikan hormat; Matur sembah suwun.
Ketiga, Residensi BPR menurut saya lebih menekankan aspek kemandirian seorang artis. Awalnya saya berpikir, akan diberi materi oleh sejumlah narasumber seperti sebuah kulia; tetapi dugaan saya itu salah. Saya diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk merencakan dan melaksanakan proyek saya sendiri, dengan pemantauan dan pendampingan seperlunya. Ini membuat saya lebih mandiri dalam berproses.
Keempat, Saya mendapat banyak kesempatan untuk berinteraksi dengan sejumlah komunitas kreatif di kota yogyakarta. Saya terpesona dengan geliat seni di kota ini. Banyak event yang dilaksanakan. Berbeda dengan di Kupang, event sangat jarang, demikian pun halnya dengan komunitas-komunitas kreatif. Apa yang telah saya lihat ini membrikan sebuah memori untuk bisa melakukan sesuatu di Kupang. Semoga.
*Pesanggrahan untuk seniman dan peneliti kembali diadakan di Bumi Pemuda Rahayu, Bantul, Yogyakarta. Kegiatan pesanggrahan tahunan yang kembali diadakan tahun ini akan memilih 5 seniman dan peneliti muda yang memiliki komitmen untuk bekerja bersama warga dan lingkungan. Kesempatan pengajuan proposal masih terbuka hingga 15 September 2015 mendatang. Detil kegiatan dapat diunduh disini

