Catatan Pesanggrahan Lintang Rembulan

Lintang 7

Saat Pesanggrahan 2013 berlangsung, Lintang Rembulan merupakan mahasiswi Teknik Arsitektur di Universitas Sebelas Maret Surakarta. Sebagai seorang mahasiswi Lintang aktif dalam mengikuti berbagai sayembara arsitektur, fotografi maupun paduan suara. Beberapa prestasi yang pernah ia raih diantaranya adalah sebagai finalis lomba paduan suara antar perguruan tinggi tingkat nasional 2009 yang diadakan di ITB Bandung, Grand Champion of The World Choir Games kategori Mix Chamber Choir di The 6th World Choir Games, Cina pada tahun 2010, Juara I lomba fotografi Badan Pers Mahasiswa Fakultas Ekonomi UNS dengan tema Solo Movement dan juara di berbagai sayembara arsitektur tingkat mahasiswa di UNS, Universitas Trisakti, Universitas Indonesia dan Universitas Petra Surabaya.

Kegiatan Pesanggrahan di BPR (Bumi Pemuda Rahayu) diikuti Lintang dengan tujuan untuk membuka peluang pertemuan arsitektur dengan bidang ahli lain untuk berkarya bersama. Menurut Lintang, arsitektur seharusnya berkolaborasi dengan pengetahuan lain seperti sosial, budaya, seni dan lingkungan agar mampu menciptakan kehidupan yang selaras. Berikut catatan Lintang pada kegiatan Pesanggrahannya di BPR:

Pesanggrahan Bumi Pemuda Rahayu (BPR) selama dua bulan ini saya habiskan untuk berproses bersama warga Banjarharjo 1 dan Sanggrahan 1. Keseharian saya adalah bertemu, berdiskusi dan berlatih bersama para warga. Begitu beruntung karena mereka semua sangat ramah dan semangat bekerja sama.

Bersama bapak-bapak Rt 03 kami merancang gardu di depan BPR yang lalu dibangun melalui kerja bakti kampung. Pada awalnya proses merancang dilakukan bersama Pak Barno, Pak Sarbini, Mbah Sogiran dan Mbah Darno. Mereka merancang serta menggambar sendiri angan-angan serta keinginan terhadap bentuk gardu tersebut. Lalu rancangan bapak-bapak tersebut dibuatkan gambar kerja dan maket, kemudian kami ajukan di rapat Rt untuk meminta persetujuan warga yang nanti akan membangun bersama. ternyata cukup alot mengajukan bambu sebagai material alternatif & ramah lingkungan karena para warga berpendapat bahwa bambu tidak awet. gardu jaga yang berbentuk joglo dari bambu ini diyakini Pak Barno akan menginspirasi warga bahwa bambu jika dibangun dan ditata dengan benar akan indah dan bagus. Pembangunan joglo bambu ini dikerjakan bersama-sama kurang lebih 1 minggu menggunakan material yang dimiliki BPR sisa dari pembangunan sebelumnya. Pembangunan tahap awal membuat kolom utama (saka) tiap kolomnya terdiri dari 4 batang bambu setinggi 1,5 meter. Lalu kemudian 4 kolom utama tersebut dirangkai satu per satu sebagai rangka utama. Di waktu bersamaan juga membuat ander atap untuk nantinya diangkat dan ditaruh di atas rangka tiang yang sudah terangkai. Pembangunan atap memakan waktu cukup lama karena warga belum pernah membuat atap joglo dari bambu sehingga butuh banyak percobaan. Baru setelah rangka utama atap berupa ander dan dudur terpasang, dilanjutkan pemasangan usuk yang dibuat rapat seperti halnya bangunan tradisional bambu. Penutup atap sendiri menggunakan genteng yang masih dimilik BPR dari sisa pembangunan sebelumnya.

Lintang 5Lintang 6

Seluruh konstruksi bangunan ini dari atap, tiang serta lantai menggunakan bambu yang sebisa mungkin dikaitkan menggunakan pasak bambu serta mur baut. tahap akhir melapisi bangunan tersebut dengan getah damar yang dicairkan dengan bensin agar tidak mudah pecah jika terkena panas.

Lintang 2Lintang 3Lintang 4

Di sini saya belajar merancang dan membangun bersama masyarakat serta melihat bahwa sesungguhnya itu adalah cara yang baik untuk membuat bangunan tersebut memasyarakat dan dimiliki bersama. nyatanya, setelah satu minggu gardu itu dibuat, setiap malam selalu dipakai warga untuk srawung juga tidur sampai subuh. Saya juga mempelajari bagaimana para warga menyampaikan pendapatnya, seperti apa sebenarnya hal ideal bagi mereka. Saya hanya bekerja sebagai pengumpul dan perangkai setiap keinginan yang keluar melalui pendapat mereka dan mengajak mereka sendiri untuk mampu menggambarkannya secara nyata. Selebihnya, saya sangat menikmati waktu-waktu sebagai laden atau pesuruh walau hanya bisa menggotong bambu, genteng serta membuat pasak bambu. Di sini letak kekurangan saya yang tak memiliki kemampuan bertukang langsung seperti berpikir teknis di lapangan serta menggunakan alat-alat manual.

Sungguh beruntung karena Mbah Sogir mau mengajarkan saya bagaimana menggunakan pisau dengan baik, membelah bambu, meratakan sisi dalam bambu dan banyak pelajaran tak terduga. Inilah kelas sesungguhnya, belajar dari masyarakat.

Proyek ke dua saya membuat instalasi sambungan bambu yang saya gabungkan dengan pembuatan batik jumputan bersama anak-anak SD. Proses ini mengalami banyak hal tak terduga yang akhirnya mendorong anak-anak untuk mau menampilkan gerak tari dan lagu dolanan di acara pameran akhir. Instalasi sambungan bambu berkolaborasi dengan Sakini,seorang ahli bambu dari Dusun Sanggrahan yang turut pula membangun balai bambu BPR. Instalasi ini berisi modul-modul sambungan bambu tradisional yang sudah jarang dibuat oleh masyarakat karena membutuhkan kerapian, ketelitian dan kesabaran lebih. Seringkali kita melihat sambungan bambu ditutup penuh oleh tali ijuk sehingga kita tidak tahu benar bagaimana bambu tersebut bertemu. tujuannya adalah dengan glosarium sambungan bambu ini, masyarakat bisa mengembangkan teknik membangun rumah mereka dari bambu, bahwa bambu jika dikerjakan dengan rapi dan benar akan bagus. juga memperlihatkan bahwa teknik menali bambu itu bukan dengan menutupnya penuh tapi membuat tali yang berfungsi menarik dan juga menekan dengan seimbang. Sakini secara personal saya kenal sebagai seorang tukang yang teliti, rapi dan komunikatif. Beberapa detail dan keputusan dari instalasi tersebut juga merupakan inisiatif Sakini. Dia juga memiliki kemampuan mengajarkan teknik bambu pada saya dengan menarik seperti membuat cekungan dan lubangan bambu. Sambungan bambu yang ditali dengan menggunakan ijuk tersebut memberi rangka pada batik jumputan karya anak- anak Dusun Banjarharo dan Sanggrahan.

Lintang 1

Ide membuat batik jumputan berangkat dari keinginan saya untuk berkolaborasi atau membuat kegiatan bersama anak- anak. Lalu saya mendapat ide kegiatan melukis bersama namun bagaimana caranya bisa menggunakan pewarna alami hingga akhirnya terpilihlah teknik mewarna kain dengan mencelup yang kita kenal dengan teknik jumputan. Pewarna alami didapat dengan merebus rempah rempah seperti daun jati dan kayu secang untuk warna merah, kunyit untuk warna kuning, daun suji dan daun papaya untuk warna hijau serta kayu manis untuk warna cokelat. Proses membatik bersama anak-anak dilakukan beberapa kali karena dengan teknik ikat, celup, jemur sampai kering lalu ikat dan celup kembali secara berulang-ulang membuat mereka menghabiskan tiap siang hingga sorenya di BPR. Mereka juga sempat membuat pewarna alami dengan membawa daun jati dari rumah mereka sendiri-sendiri, kala itu mereka membuat pewarna merah. Bagian yang menarik adalah setelah kami mencelupkan kain, kami harus menjemurnya hingga kering dan waktu menjemur ini akhinya berkembang karena kami memutuskan mengisinya dengan latihan gerak dan lagu. Setelah beberapa kali kami latihan gerak dan lagu, saya tawarkan mereka untuk berani menampilkannya waktu pameran akhir. ternyata mereka justru semakin bersemangat dan ide berkembang lagi dengan membaca puisi, pantun dan menyanyikan lagu dolanan. Anak-anak ini total berjumlah 20 anak yaitu 15 perempuan dan 5 laki-laki. Mereka berasal dari dusun berbeda dan Rt berbeda namun beberapa merupakan teman satu sekolah dasar. Setiap hari selama 9 hari mereka berlatih gerak dan lagu tanpa bosan. Busana yang mereka pakai berupa jarik kemben adalah kain jarik yang mereka punya sendiri entah meminjam ibunya atau mbok tua (nenek). Mereka sungguh cantik dan tampan.

Pada akhirnya, masa pesanggrahan di Bumi Pemuda Rahayu ini merupakan laboratorium saya bermasyarakat dan berkehidupan ekologis. Saya layak berterimakasih untuk semua masyarakat Desa Munthuk yang begitu baik dan ramah, bapak-bapak, ibu-ibu, simbah- simbah dan anak-anak yang memberi warna pada hidup saya dua bulan ini, alam yang indah, udara yang bersih, hutan pinus, sawah hijau, lereng-lereng kapur, pemandangan Kota yogya kala malam, kabut tebal serta guru dan pengasuh yang setia dan baik hati, Pak Marco, Mas Antariksa, Mas Lilik, Mba Kristie, Mas Surya, Pak Sugiran (tepos), Mbah Sogiran dan Pak Sarbini. Terima kasih.

 

*Pesanggrahan untuk seniman dan peneliti kembali diadakan di Bumi Pemuda Rahayu, Bantul, Yogyakarta. Kegiatan pesanggrahan tahunan yang kembali diadakan tahun ini akan memilih 5 seniman dan peneliti muda yang memiliki komitmen untuk bekerja bersama warga dan lingkungan. Kesempatan pengajuan proposal masih terbuka hingga 15 September 2015 mendatang. Detil kegiatan dapat diunduh disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *