Cinta di Ruang Publik

Cinta di Ruang Publik
Wedding at Taman Fatahilah, Jakarta Kota. (August 17, 2009@Marco Kusumawijaya)

 

 

Oleh Laksmi Prasvita. Kekerasan dibalik wajah agama semakin marak dihadirkan di ruang publik Jakarta. Bom di Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton, tembak menembak melawan teroris di Temanggung yang dihadirkan melalui televisi kepada publik Jakarta, pernyataan Abu Bakar Ba’asyir di media masa yang terbit di Jakarta tentang pemaklumannya atas bom di Marriot dan Ritz Carlton sebagai akibat negara yang tidak mau mengadopsi Syariah Islam, Buku 34 Kiat Mendukung Mujahidin di terbitkan di jual di toko buku dengan jaringan terluas: Gramedia, dan banyak lagi yang lain.  

Ruang publik yang seharusnya dijaga netral, demi kehidupan warga Jakarta aman dan damai, terus mengalami ancaman radikalisme.

Tepat pada malam ulang tahun Republik Indonesia ke 64, sebuah stasiun TV swasta menayangkan hiburan musik dimana seorang penyanyi kondang dengan jutaan penggemar menitipkan pesan kepada para penggemarnya: “Jalankan perintah agama, taati hukum, hidup adalah perjuangan”

Selintas mendengar, mungkin pesan tersebut wajar adanya. Namun setelah didera oleh teror bom dan penumpasan teroris, wajar pula bila kita menjadi sensitif dengan pesan agama yang disajikan di ruang publik apalagi jika pesan jalankan perintah agama diteriakkan  dalam setarikan nafas dengan perjuangan. Jihad menjadi sebuah momok bagi mereka yang menginginkan kedamaian.

Saya cenderung untuk melarang pesan agama di ruang publik, kecuali pesan itu mengenai cinta. Namun demikian larangan akan mengkhianati semangat demokrasi.

Indonesia telah mengadopsi konsep demokrasi dengan segala konsekuensinya. Kebebasan berekspresi dan berpendapat harus dijamin. Dalam iklim demokrasi, kita menjadi rikuh ketika harus melarang. Akibatnya kita rikuh untuk melarang Ba’asyir memaklumi pengeboman, rikuh membredel buku mengenai gerakan radikal, rikuh melarang peredaran buku melalui toko buku ternama. Toh, jika dilarang dengan suatu mekanisme, mereka akan menemukan jalannya sendiri. Bisa melalui media baru, seperti blog, twitter, facebook, yang tidak bisa dibendung. Kini Indonesia sudah memasuki tahap jargon: “Dilarang Melarang” sebab larangan juga tidak akan efektif.

Lalu apakah demi menjaga ruh demokrasi kita harus membiarkan pesan agama yang penuh kebencian dan kekerasan terus menerus melanda ruang publik?

Tentu saja tidak.

Caranya?

Dengan memperbesar proporsi cinta  di ruang publik.

Kita biarkan ustad dengan kotbah radikalnya, namun kita harus memperbesar jumlah barisan orang yang menolak untuk mendengarkannya. Sehingga dia akan berbicara kepada relatif sedikit orang saja dan lama-lama dia akan berbicara di ruang kosong.

Kita biarkan buku radikal diterbitkan, namun kita harus memperbesar barisan orang yang mentertawakan isi buku tersebut dan juga meningkatkan penerbitan buku dan tulisan mengenai cinta dan perdamaian dan hal-hal positif yang berguna bagi kehidupan.

Alih alih penyanyi kondang diatas meneriakkan pesan agama dan perjuangan, ia kita himbau untuk  meneriakkan: “Jalankan perintah agama, hormati perbedaan, hidup adalah perjuangan untuk saling mencintai sesama”

Dengan memperbesar pesan cinta di ruang publik, maka proporsi pesan kekerasan menjadi relatif lebih kecil dibanding pesan cinta.

Namun demikian kita membuat ruang publik menjadi tidak netral, yaitu condong atau didominasi oleh cinta. Tidak apa. Siapa sih yang tidak mau cinta? Semua orang senang cinta, semua orang butuh cinta bukan?

4 thoughts on “Cinta di Ruang Publik

  1. Ladyloud says:

    Kalo dibebaskan berbicara tapi yang dibicarakan adalah hate preach gimana dong?

    Topik ini menarik sekali untuk saya, seorang Indonesia beragama muslim yang tinggal di Inggris karena disini sedang heboh dengan partai BNP. Partai ini pendukungnya tidak banyak tapi gerakannya sangat agresif dengan agenda utama mengembalikan negara Inggris ke bentuk yang ‘pure’ yakni ke penduduk berkulit putih beragama Kristiani.

    Metode utama BNP adalah menjanjikan pada partisannya untuk mengeliminasi imigran-imigran dari kalangan minoritas seperti Yahudi, Muslim, keturunan Cina, keturunan India, keturunan INDONESIA dll. Mengembalikan mereka ke ‘negara asalnya’ (saya pakai tanda kutip karena banyak diantara mereka lahir dan tumbuh kembang di Inggris tapi BNP tidak mau tahu ini, menurut mereka semua yang tidak kulit putih adalah ‘dirty immigrants’!)

    Tentu saja di Inggris di jaman globalisasi konsep BNP sungguh mengherankan. Multikulturalisme merupakan pertanda suatu negara dengan dewasa mengembangkan sayapnya, simbolisasi Inggris yang senantia dinamis, hidup dan terbuka. BNP dengan cara-caranya yang sering tidak etis tentunya tidak pantas untuk berdiri di negara maju manapun walau begitu pendukungnya selalu berteriak ”demokrasi”, ”free speech” dll.

    What if a party/individual practices the free speech of hate, condemnation and even violence should they get away with it? As long as they promote separation among the countrymen I would say not. This goes to ”Jihad” lovers like Ba’asyir as well.

    http://www.youtube.com/watch?v=hpcKqU0hTBc

  2. Laksmi Prasvita says:

    Dear Ladyloud,
    Memang sebuah situasi dilematis.

    Di satu pihak, kita memerlukan perangkat hukum yang tidak merepresi namun memberikan disinsentif bagi mereka yang berkutbah kebencian. Sewaktu saya tinggal di Inggris, Inggris sedang heboh menangkap Abu Hamzah yang rajin berkutbah untuk membunuh Yahudi dan musuh Islam. Inggris berhasil menangkap Abu Hamzah dengan pasal: Offences Against the Person dan melanggar Public Order.

    Memang para penganut aliran radikal itu selalu berlindung dibalik freedom of speechnya demokrasi.

    Ini yang menjadi dilema demokrasi.

    Kebetulan sekali, kemarin Ulil Abshar Abdalla dalam wawancara yang dimuat di Tempointeraktif.com ketika ditanya bagaimana caranya melakukan deradikalisasi teroris? Beliau menyatakan (saya kutip dengan copy and paste):

    “Ada dua bentuk. Pertama terhadap mereka yang sudah terpapar ideologi ini. Program seperti ini sudah pernah dilakukan negara seperti Mesir dan Yaman. Orang-orang yang pernah bergabung dengan organisasi radikal dengan metode kekerasan, tapi kemudian bertobat, dipakai pemerintah Mesir untuk menyadarkan rekan-rekannya. Cara ini ada hasilnya. Polisi Indonesia sepertinya juga sudah memakai metode ini. Yang kedua adalah melindungi orang-orang yang belum terkena ideologi tersebut. Ulama muslim perlu membuat tafsir tandingan supaya orang tidak terpukau dengan doktrin jihad kekerasan”

    Metode yang kedua yang dikatakan mas Ulil tersebut HARUS diberi porsi lebih besar. Dalam alam demokrasi yang sehat, sebuah ide diberi kesempatan untuk di challenged dengan ide yang lain, sehingga ide yang lebih lemah akan gugur secara alamiah karena tidak ada pengikutnya lagi.

    Ini yang saya maksud dengan membesarkan barisan yang menolak radikalisme dengan pesan cinta yang lebih memukau dibanding doktrin kekerasan.

    Dibeberapa negara di Eropa, termasuk Jerman, Prancis, buku Hitler: Mein Kampf yang dibredel setelah perang dunia kedua, kini diterbitkan kembali dan dijual di toko-toko buku, bahkan di endorse oleh organisasi yahudi. Alasannya: untuk peringatan kepada semua orang betapa berbahayanya ideologi tersebut.

    Kaum yahudi di jerman percaya diri bahwa kini ide xenophobic itu sudah tidak laku. Tahun 2002 Jean-Marie Le Pen akhirnya bisa dimarginalisasi dan dikalahkan di Prancis.

  3. Kamil says:

    Semua orang mempunyai cinta: terhadap diri sendiri, sesama, binatang, tumbuhan, ideologi, ataupun tuhan. Tapi orang2 yg terbawa arus terorisme/radikal itu adalah orang2 yg merasa bahwa dunia ini tidak adil terhadap mereka DAN hal2 yg mereka cintai. Para politikus, pastor atau ulama pun akan mencari justifikasinya di dalam kitab suci untuk membenci mereka yg tidak memberikan keadilan.

    Uniknya, kalo saya baca latar belakang para pelaku teror, biasanya mereka dalam kesehariannya adalah orang2 yg baik, ramah, santun, dan bermasyarakat. Seenggaknya terhadap orang2 yg mereka anggap “seiman” dengan mereka. Walaupun mereka mudah untuk di “kobarkan” semangat perang/juangnya (lagi2 demi hal2 yg mereka cintai).

    Nah saya agak rancu dengan apa arti dari “cinta” di artikel ini. Mungkin Mbak Laksmi bisa menjelaskan lebih dalam?

    Dan satu lagi, mengenai ruang publik yg netral. Menurut saya, ruang publik tidak akan pernah netral, apalagi di kota2 metropolis. Ruang publik biasanya memihak ke pemerintah dan ke kapitalisme.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *