Cohousing: Inisiatif Warga Jakarta untuk Membangun Perumahan Ramah Lingkungan

4_Anggota Komunitas Rumah Bersama modified

Oleh Armely Meiviana.

Ada ratusan kawasan permukiman yang tersedia di Jakarta dan sekitarnya, mulai dari rumah sederhana hingga rumah mewah. Semuanya menawarkan berbagai kelebihan, seperti harga murah, lokasi strategis dekat tol, bebas banjir, desain mengikuti bentuk rumah di Eropa atau AS. Belum lagi fasilitas olahraga dan rekreasi keluarga,  fasilitas perkantoran, sekolah, rumah sakit serta pusat perbelanjaan yang mudah dijangkau. Belakangan pasar properti bahkan diramaikan oleh proyek hunian baru yang mengklaim dirinya berwawasan lingkungan.

Lalu apa yang kurang? Apa yang membuat sekelompok warga Jakarta yang menamakan diri Komunitas Rumah Bersama, berupaya untuk mengembangkan konsep cohousing, jenis permukiman yang didesain oleh komunitas?

”Permukiman yang ditawarkan oleh para pengembang hingga hari ini didominasi oleh jalan mobil, . walau berbentuk cluster sekalipun. Konsep cohousing menawarkan hal yang berbeda. Parkiran mobil diletakkan di pinggir lahan permukiman, sementara di antar rumah cukup disediakan jalan setapak untuk berjalan kaki atau bersepeda. Dengan begitu saya tidak perlu merasa khawatir meninggalkan anak saya bermain. Selain itu dengan berjalan kaki kemungkinan interaksi antar warga juga jadi meningkat. ”, jelas Shanty Syahril, Koordinator Komunitas Rumah Bersama yang juga seorang ibu dengan anak berusia 5 tahun.

Hal ini disampaikan pada sebuah acara diskusi dan pameran yang bertemakan ”Cohousing: Membangun Perumahan, Merealisasikan Mimpi”. Acara yang diselenggarakan oleh Komunitas Rumah Bersama bertujuan untuk membuka mata warga Jakarta mengenai keberadaan berbagai real estate yang tidak dapat menjawab kebutuhan pasar serta memunculkan ide cohousing sebagai alternatif solusi untuk mengatasi hal tersebut.

”Pengembang sejauh ini hanya menjual mimpi kepada pembeli dengan menyediakan desain-desain rumah hunian yang meniru desain rumah-rumah di luar negeri untuk memberikan kesan seolah-olah mereka sedang berada di negara lain,”ujar Tiyok Prasetyoadi, seorang arsitek yang juga anggota Komunitas Rumah Bersama. Dalam presentasinya, ia memperlihatkan beberapa gambar desain hunian yang ditawarkan oleh pengembang.”Padahal jenis desain seperti itu tidak cocok dengan alam Indonesia yang tropis,”lanjut Tiyok.

Konsep cohousing sendiri merupakan sebuah permukiman yang dibangun secara partisipatif oleh sejumlah calon penghuni, sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan tiap individu. Selain itu, permukiman jenis ini ditandai dengan adanya fasilitas-fasilitas yang digunakan bersama, seperti ruang serbaguna yang diantaranya sebagai tempat berkumpul anggota komunitas, tempat bermain anak, perpustakaan, ruang ibadah, gudang, dan parkir mobil, guna menghemat lahan.

Dengan konsep cohousing, setiap rumah tidak harus memiliki semua hal. Beberapa peralatan yang tidak digunakan secara rutin, seperti gergaji, tangga, & bor, bisa digunakan bersama. Begitu juga dengan mobil, tidak semua rumah harus memilikinya karena bisa melakukan carpooling atau satu mobil beramai-ramai. ”Jadi konsep cohousing ini menawarkan gaya hidup yang ekonomis,  ramah lingkungan dan meningkatkan interaksi sosial antar warga,”tegas Shanty.

Komunitas Rumah Bersama mulai diinisiasi pada 25 November 2007, dan sejauh ini terdiri dari 9 rumah tangga dengan beragam latar belakang profesi, usia, suku, dan agama. Kesemuanya ini telah sepakat untuk berproses mengembangkan hunian dengan konsep cohousing.

Sejauh ini komunitas telah melakukan 9 kali pertemuan untuk membahas langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk merealisasikan cohousing. Saat ini tantangan yang dihadapi adalah mengidentifikasi alternatif skema pembiayaan, mengingat bahwa anggota komunitas seperti halnya rumah tangga kelas menengah pada umumnya secara finansial tidak mampu untuk membeli lahan serta membangun rumah dengan cara kontan.

Idealnya cohousing ini terdiri dari 15 sampai 25 rumah tangga. “Oleh karena itu kami masih mencari beberapa individu/keluarga yang berminat untuk bergabung menjadi calon tetangga kami,” ucap Shanty.

Namun mengingat proses terealisasinya cohousing membutuhkan waktu relatif lama dibanding membeli rumah jadi, maka beberapa pasangan yang sedang mencari hunian pun memilih mundur.

Selain itu, tak sedikit yang berprasangka bahwa cohousing yang tampak seperti permukiman yang sangat ideal membutuhkan biaya yang lebih mahal dibanding membeli rumah biasa. ”Padahal prinsip membangun rumah di cohousing adalah menggunakan lahan secara minimal. Jadi jika lahan rumah pribadi yang dibutuhkan kecil serta kemampuan finansial juga seadanya, maka biaya yang harus ditanggung juga minimal. Dan pembayarannya pun diharapkan bisa dengan skema cicilan”, jelas Shanty.

”Mengingat bahwa ide cohousing ini masih baru, di mana komunitas berperan sebagai pengembang kawasan, maka kami berharap bisa menemukan bank yang mempunyai skema perbankan yang sesuai,”tambah Shanty.

Pada acara ini juga dipresentasikan beberapa bentuk desain cohousing yang merupakan hasil eksplorasi beberapa mahasiswa arsitektur Universitas Pelita Harapan. Desain tersebut menggunakan prinsip-prinsip cohousing sesuai permintaan Komunitas Rumah Bersama, yaitu menggunakan lahan minimal, dengan memerhatikan aspek-aspek lingkungan, seperti penggunaan material, pemanfaatan cahaya matahari & angin sebagai sumber energi, pendaurulangan air, dsb.

Elisa Sutanudjaja, Dosen Arsitektur UPH, yang berinisiatif menyelenggarakan workshop cohousing bagi mahasiswanya menjelaskan,”Konsep cohousing ini bertolak belakang dengan urbanitas Jakarta yang individualis. Selain itu menawarkan pendekatan yang berbeda dengan perumahan massal yang ada, di mana membutuhkan partisipasi dalam proses perwujudannya.Dan ini adalah kesempatan yang langka bagi mahasiswa, karena melalui workshop mahasiswa mendapatkan pengalaman mendesain untuk memenuhi keinginan klien yang nyata, yang tidak hanya satu orang, namun sekaligus 9 rumah tangga dalam satu desain yang utuh

Saat mengawali acara diskusi, Marco Kusumawijaya, seorang pegiat isu perkotaan yang juga anggota Komunitas Rumah Bersama menegaskan,“Apa yang menjadi realitas saat ini, yang ditawarkan oleh para pengembang, belum tentu realistis. Dan mimpi yang ditawarkan oleh Komunitas Rumah Bersama sesungguhnya sesuatu yang sangat realistis untuk diwujudkan

Acara diskusi & pameran Cohousing: Membangun Perumahan, Merealisasikan Mimpi, diselenggarakan di Museum Bank Mandiri, 25 Juli 2009, pk.10.00-14.00. Acara ini cukup mendapat sambutan hangat dengan dihadiri oleh sekitar 100 peserta yang terdiri dari para pegiat arsitektur, lingkungan, permukiman, dan isu perkotaan serta mereka yang sedang mencari hunian.

Info lebih lanjut kontak: Shanty Syahril di 0812 203 5903 atau sshanty@gmail.com

Catatan :

–       Konsep cohousing pertama kali dikembangkan di Denmark pada tahun 1960an oleh sekelompok keluarga yang tidak puas dengan kondisi permukiman yang ada pada saat itu. Pada tahun 1980an, ide ini dikembangkan di AS. Saat ini konsep cohousing sudah diterapkan di banyak negara, seperti Eropa Utara, Kanada, Inggris, Australia dan AS. Untuk tahu lebih lanjut tentang konsep cohousing, bisa dilihat di: www.cohousing.org

–       Cohousing bisa dibangun di kota, pinggiran kota atau desa. Secara fisik bentuknya bisa berupa apartemen, townhouse, apartemen yang tidak tinggi (maks.4 lantai), dll.

–       Karakteristik cohousing (6 hal):

  • Proses partisipatif, calon penghuni terlibat sejak awal dalam mendesain permukiman serta bentuk komunitas yang sesuai dengan kebutuhan
  • Desain perumahan harus mendukung kehidupan berkomunitas. Biasanya berbentuk cluster, bebas kendaraan bermotor dan memudahkan tiap anggota untuk selalu berinteraksi satu sama lainnya.
  • Adanya fasilitas bersama yang dirancang untuk digunakan sehari-hari untuk menghemat lahan & pengeluaran
  • Dikelola oleh penghuni, ada pembagian tugas di antara sesama penghuni untuk mengelola kawasan permukiman
  • Pengambilan keputusan harus dilakukan secara konsensus, bukan berdasarkan hierarki.
  • Sistem ekonomi tidak komunal, di mana tiap penghuni mempunyai sumber penghasilannya sendiri yang tidak berasal dari komunitas.

–       Catatan perjalanan Komunitas Rumah Bersama untuk mewujudkan cohousing bisa dilihat di http://www.scribd.com/doc/17815910/2Komunitas-Rumah-Bersama

–       Dokumentasi workshop cohousing mahasiswa Universita Pelita Harapan bisa dilihat di cohousingjakarta.wordpress.com.

Lihat juga pengamatan dan ide tentang suasana diskusi warga yang menyenangkan: http://rujak.org/2009/07/para-bocah-yang-ikut-meramaikan-diskusi/

3_Diskusi modified

3 thoughts on “Cohousing: Inisiatif Warga Jakarta untuk Membangun Perumahan Ramah Lingkungan

  1. Pingback: Inisiatif dan Partisipasi Warga « Rujak

  2. Nic Wachid says:

    Interesting idea. Ada gotong royong 🙂 dan kita bisa memilih siapa saja yang akan menjadi tetangga kita.Tapi masihkah ada lahan untuk mendirikan bangunan di jakarta?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *