Ketika para bocah ikut meramaikan acara diskusi

Oleh: Armely Meviana

para_bocahDi tengah sebuah acara diskusi mengenai pemukiman, tiba-tiba peserta dikejutkan oleh teriakan lantang seorang anak perempuan berusia 2 tahun yang baru saja masuk ke dalam ruangan, “Kakaaakk….kakaakk di manaa??” Ternyata si bocah bernama Uma sedang mencari sang kakak, Atta (9thn), yang duduk bersama orang tuanya di antara para peserta diskusi.

Walau sempat terkejut, namun kemudian peserta hanya tersenyum geli dan kembali memusatkan perhatian pada jalannya diskusi.

Kejadian unik ini terjadi di sebuah acara diskusi dengan tema “Cohousing: Membangun Perumahan, Merealisasikan Mimpi”, yang diselenggarakan oleh Komunitas Rumah Bersama pada Sabtu lalu (25/7). Kebetulan acara ini memang memungkinkan para peserta untuk membawa serta anak-anaknya, mengingat bahwa acara diselenggarakan di akhir pekan.

Untuk sebuah acara diskusi yang cukup serius, rasanya langka sekali bisa menemui kehadiran anak-anak di dalamnya. Apalagi bisa melihat mereka tetap asyik bermain di dalam ruangan yang sama, tanpa merasa takut akan ditegur.

Jangan heran ketika di tengah-tengah presentasi yang dibawakan oleh para mahasiswa arsitektur Universitas Pelita Harapan, terdengar suara seorang bocah berusia 4 tahun yang sedang asyik bermain sendiri dengan mainannya. Noe, nama bocah tersebut, juga tidak sungkan untuk merangkak dan berguling di lantai podium, sambil memainkan mobil-mobilannya.

Atau bahkan ketika Kaysan, bocah berusia 5 tahun, berdiri di depan bersama sang ibu yang sedang berbicara di depan para peserta diskusi.

para_bocah2Sementara di deretan bangku paling belakang, tampak dua kakak beradik – Toby (10 thn) & Thomas (8 thn) – asyik bermain game PSP2 sejak awal acara berlangsung. Dengan begitu, sang ayah dapat dengan tenang memberikan presentasi di depan forum, dan sang ibu pun tidak perlu pusing memikirkan anaknya selama acara berlangsung.

Para peserta diskusi tampaknya tidak terganggu dengan adanya kehadiran bocah-bocah lucu ini. Diskusi pun tetap berjalan lancar hingga selesai. Bahkan bagi pengunjung, tingkah polah mereka menjadi hiburan tersendiri di tengah diskusi.

Untuk sebuah acara diskusi yang membahas tentang pemukiman berbasis komunitas, kehadiran anak-anak di tengah-tengah peserta diskusi memberikan nuansa kekeluargaan yang sangat kuat.

Di akhir acara, salah seorang peserta yang juga ibunda dari Noe berkomentar,”Asyik juga ya kalau ada banyak acara diskusi seperti ini, yang membolehkan peserta untuk membawa anaknya.”

Wah ide menarik! Bagaimana, setujukah Anda, jika pada beberapa acara diskusi/seminar yang diselenggarakan di akhir pekan, peserta dimungkinkan untuk membawa serta anaknya?”

5 thoughts on “Ketika para bocah ikut meramaikan acara diskusi

  1. Pingback: Cohousing: Inisiatif Warga Jakarta untuk Membangun Perumahan Ramah Lingkungan « Rujak

  2. Rani says:

    Akar masalahnya adalah “mindset” yang membakukan segregasi / keterpisahan antara ranah domestik (pengasuhan anak) yang dikonotasikan sebagai ruang feminin, dengan ranah publik (fungsi selain domestik) yang dikonotasikan sbg ruang maskulin. Sebenarnya segregasi ini hanya konstruksi sosial saja. Penting untuk melakukan pendobrakan konstruksi sosial seperti ini, dan tempat2 / acara2 yang mengintegrasikan kedua ranah itu perlu diperbanyak. Sebab orang2 harus ditunjukkan bahwa hal itu mungkin untuk dilakukan, baru mindset itu bisa berubah.

  3. Pingback: Inisiatif dan Partisipasi Warga « Rujak

  4. Aditya Soekarno A.R. says:

    Selama ini dalam diskusi ataupun seminar yang serius kehadiran anak-anak tidak diperkenankan karena dikhawatirkan akan mengganggu kelancaran jalannya acara.Mungkin kalau kita coba bisa melihatnya dari sudut pandang yang lain dimana peserta justru bisa jadi tidak bisa berkonsentrasi mengikuti acara seminar ataupun diskusi karena setiap menit berjalan selalu memikirkan si kecil yang ditinggal dirumah hanya bersama pembantunya. Sekali telephone ke rumah tanya si adik makan apa, sudah minum susu atau belum, sudah minum vitamin atau belum, sudah ini-dan-itu. Tentu saja juga perlu diperhatikan tentang penyelenggarakan acara yang memperkenankan membawa si kecil namun tetap diantisipasi seandainya si kecil membutuhkan atau melakukan sesuatu dapat ditanggapi dengan segera.

  5. Tiyok Prasetyoadi says:

    Wah, anak2 saya main PSP ya… hehehe… biar pada diem. Sebelumnya sudah menjelajah Museum Bank Mandiri (sekarang taunya ambil dan setor uang di ATM).

    Perlunya Rumah Bersama karena sekarang kami tinggal di jalanan ramai, mau main sepeda pun harus ke rumah Eyang nya atau main badminton harus ke luar kota dulu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *