Tulisan oleh Andi Sahcrul dan Elisa Sutanudjaja
Siti Maymunah, dari Komunitas Anak Kali Ciliwung, sudah 25 tahun tinggal di Kampung Tongkol, Jakarta Utara. Di akhir Desember 2018, dia menjadi salah satu pemandu untuk pameran Ini Kampung. May, panggilan akrabnya, menuturkan bahwa kolaborasi antara warga kampung dan penyelenggara pameran adalah hal yang jarang terjadi. Model pelibatan warga ini berjalan baik, terutama saat warga kampunglah yang menjadi narasumber utama dalam penyampaian konten pameran yang berkisah tentang seluk beluk kampung kota itu sendiri.
Keterlibatan warga kampung selama pameran ini memang total. Dari awal, penyelenggara pameran Rujak Center for Urban Studies berkomitmen untuk melibatkan warga tak hanya dalam perencanaan pameran, tapi juga dalam konstruksi bangunan, hingga menjadi pemandu pameran, vendor pameran, dan pengisi acara. Sebagai pemandu, warga kampung menjelaskan konten pameran yang beragam, mulai dari definisi kampung kota, problematika dan taktik mereka sehari-hari, bagaimana posisi kampung dalam kota Jakarta, hingga proses perencanaan dan penataan kampung yang ternyata telah berlangsung lama.

“Pameran ini positif dan bagus dalam mengangkat isu kampung, lalu banyak buku-buku tentang kampung yang bisa jadi bahan bacaan tentang apa itu kampung. Lalu kolaborasi dengan warganya dapet banget. Hanya mungkin kekurangannya adalah tempat yang tidak terlalu terlihat, jadi pengunjung tidak banyak tahu tentang lokasi ini,” ujar May saat diwawancari Minggu tanggal 23 Desember 2018 silam.
Pameran Ini Kampung berlokasi di dalam Museum MH Thamrin dimana bangunan tersebut terletak di dalam Kampung Kenari. Pameran ini pun cukup mendapatkan perhatian dari warga Kampung Kenari, dilihat dari banyaknya pengunjung segala usia yang berasal dari Kampung Kenari. Namun sayangnya, lokasi Museum kurang bersahabat bagi pengunjung umum, terlebih karena masalah akses menuju Museum, yang berada di bilangan Senen, Jakarta Pusat.
“Saya baru pertama kali liat pameran yang begini, unik aja gitu biasanya yang dipamerin tuh patung, atau barang barang bersejarah. Cuma kali ini yang dipamerin itu informasi tentang kampung, banyak tulisan tulisan gitu kita yang tadinya gak tau pas baca jadi tau, pokoknya bagus lah gitu,” ucap Ibu Yati, warga Kampung Kenari saat berkunjung ke pameran tanggal 23 Desember 2018 silam.
Dari berbagai opini warga-warga kampung yang tergabung dalam Jaringan Rakyat Miskin Kota ada harapan bahwa Ini Kampung bisa memberikan informasi mengenai kampung kota, sejarah kampung kota seperti asal muasal berdirinya kampung pertama di Jakarta hingga bagaimana posisi kampung saat ini.
Pameran Ini Kampung diselenggarakan oleh Rujak Center for Urban Stuides ini bertujuan untuk memberikan informasi yang lebih akurat tentang kampung kampung kota yang ada di jakarta. Menurut Elisa Sutanudjaja, kampung kota merupakan ciri Khas dari kota itu sendiri, kota tidak akan bisa berdiri seperti sekarang kalau tidak ada kampung kampung yang tumbuh bersama-sama dengan perkembangan kota. Kampung kota adalah identitas dari kota yang khas produksi sosial dari penduduk kota tersebut.
Pameran Ini Kampung berlangsung dari tanggal 12 Desember 2018 yang diawali dengan acara pembukaan dari Palang Pintu Betawi Rawa Belong dan akan diakhiri pada Tanggal 5 Januari 2019. Semoga dengan adanya Ini Kampung mampu mengangkat eksistensi kampung kota.
Tentang Penulis

Andi Sahcrul adalah warga Kampung Akuarium yang baru saja selesai mengikuti Program Fellowship Kampung selama 2 bulan yang diadakan oleh Rujak Center for Urban Studies.
Program Fellowship Kampung adalah program 2 bulan yang memperkenalkan pengetahuan urbanisme kepada warga kampung melalui berbagai kegiatan Rujak Center for Urban Studies. Dalam program ini, Sahcrul terlibat dalam perencanaan pameran, riset konten pameran serta penulisan artikel.
Baca tulisan Sahcrul lainnya disini.

