Ulasan Buku Menuju Kampung Pemerdekaan

Penulis Buku : Darwis Khudori

Tahun Terbit : 2002

Penerbit : Yayasan Pondok Rakyat

Penulis Review :

Azzahra Saffira Pradita, Mahasiswa Sosiologi Universitas Gadjah Mada

Jessy Jarwono, Mahasiswa PWK Universitas Diponegoro

Muhammad Farhan Ahsani, Mahasiswa PWK Universitas Diponegoro

Raulendhi Fauzanna, Mahasiswa Geografi Universitas Negeri Semarang

Dalam buku Menuju Kampung Pemerdekaan menjelaskan tentang arti sebuah merdeka yang sesungguhnya, seperti dalam kalimat kutipan diatas. Darwis khudori, sang penulis ingin menjelaskan bagaimana Indonesia ini memerlukan pemerdekaan dengan melihat perjuangan Romo Mangun dalam membangun permukiman Ledok Gondolayu di Kali Code.

Romo Mangun merupakan seorang pastur dan arsitek yang berusaha memperjuangkan warga golongan lemah – masyarakat miskin kota – yang hidup tertindas dari penggusuran oleh pemerintah dengan caranya yang menarik melalui pendekatan pembangunan masyarakat. Pada tahun 60-an Kali Code bukanlah sebuah kampung, keberadaannya dianggap sebagai permukiman ilegal dan merusak pemandangan kota, yang juga memiliki beberapa permasalahan lainnya dan disebut oleh masyarakat sekitar “daerah hitam”.  Munculnya stigma demikian menyebabkan para penguasa di kalangan pemerintah mengusulkan untuk dilakukan penggusuran dan dijadikan kawasan sabuk hijau kota, namun dalih ini ditentang oleh Romo Mangun.

Kali Code sebelum Romo Mangun hadir (Sumber : Juli Hantoro, Tempo.com)

Sebagai seorang aktivis yang memiliki latar belakang arsitek, beliau menentang aksi penggusuran dengan cara yang apik tidak dengan emosi atau kekerasan. Dalam aksinya Romo mencoba mendekat pada masyarakat dan mengajak untuk merubah Kampung Code menjadi lebih baik, salah satunya dengan cara menjaga kebersihan Kali Code. Hal selanjutnya dilakukan penataan permukiman dengan konsep 3M (Mundur, Munggah, Madep ke Kali Code). Tidak hanya itu, Romo Mangun juga membangun ekonomi masyarakat juga pendidikan. Tentu saja Romo Mangun tidak sendiri, Ia dibantu oleh relawan dari kalangan mahasiswa yang berasal dari golongan menengah ke atas, siswa – siswa SMPS (Sekolah Menengah Pekerja Sosial), dan tokoh pemerintah yaitu Lurah Terban untuk membangun Kampung Code. Keberadaan Romo Mangun merubah stigma masyarakat untuk lebih peduli dan bangga terhadap kampungnya dan menjadikan Kampung Code seperti sekarang.

Tiga tahun sepeninggal Romo Mangun, Darwis yang merupakan seorang murid almarhum dan juga sukarelawan proyek Kali Code mencoba memaparkan tentang perubahan-perubahan yang terjadi di Kampung Kali Code. Selama dua setengah tahun keterlibatan Romo Mangun, berbagai perubahan Kampung Kali Code baik kondisi kemanusiaannya, perekonomiannya, serta lingkungannya dapat nyata terlihat. Dalam konteks kemanusiaan, sebagaimana dikemukakan sebelumnya masyarakat ledok Gondolayu terdiri atas orang-orang yang tersingkir dari masyarakat lumrah sehingga kerap dianggap liar. Namun sejak mereka terlibat dalam kegiatan Bina Manusia, perilaku mereka pun menunjukkan tanda-tanda perubahan ke arah yang lebih baik, seperti misal, berkurangnya pertengkaran antarsuami-istri atau antartetangga, peningkatan kecerdasan anak-anak, dan menurunnya penyakit kulit di kalangan anak-anak Kampung Kali Code. Selanjutnya pada hal perekonomian, dengan adanya program Bina Usaha yakni berupa kegiatan Koperasi Simpan Pinjam dan arisan secara tidak langsung meningkatkan penghasilan penduduk dan memungkinkan mereka mendapat pertolongan jika terjadi musibah. terakhir, beralih pada konteks lingkungan, sebelum Romo Mangun dan kawan – kawan masuk permukiman Ledok Gondolayu benar-benar merupakan kampung kumuh dan suasananya menjijikan. Melalui program Bina Lingkungan kualitas perumahan, tata letak perumahan, kualitas sarana prasarana, keamanan lingkungan, dan kualitas estetika telah berubah jauh lebih tertata.

Kampung Code setelah Romo Mangun hadir. (Sumber: codetourism.blogspot.com)

Menurut John F.C. Turner, permasalahan permukiman merupakan proses yang berkelanjutan, sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan penghuninya, tidak bisa distandarisasikan. Berkaitan dengan pengatasan permasalahan permukiman, menurut Turner, pemerintah tidak lagi berperan sebagai perancang, pembangun, dan pemasok perumahan melainkan sebagai fasilitator yang diwujudkan melalui tiga tindakan meliputi penyediaan prasarana umum, Penetapan aturan hukum yang bersifat lebih legislative daripada eksekutif, menyediakan dan melindungi akses rakyat kepada sumber – sumber proses pembangunan perumahan. Namun pendapat ini ditolak oleh ilmuan lain, yaitu Burgess. Burgess menilai masih terdapat kecenderungan imperialis dalam usaha pemerintah terkait permasalahan permukiman ini.

Pada akhir bab dua, Darwis menyimpulkan dua  permasalahan yaitu masih mungkinkah untuk memperbaiki keadaan hidup masyarakat melalui gerakan permukiman? Jawaban atas pertanyaan ini terdiri atas dua pokok yaitu peningkatan taraf hidup dan melalui gerakan permukiman. Peningkatan taraf hidup masyarakat miskin kota dapat dilakukan karena adanya sarana dan sumberdaya. Sarana yang dimaksud adalah partisipasi politik masyarakat miskin kota dan koperasi sektor informal. Sedangkan sumberdaya yang dimaksud adalah kaum miskin kota itu sendiri dan juga pendukung kaum miskin kota; pengajar universitas, mahasiswa, pegawai pemerintah, maupun kelompok ormas dan LSM.

Romo Mangun. (Sumber: Laksono Pambudi, www.validnews.id)

Pembahasan selanjutnya mengenai Romo Mangun yang menemukan Kampung Code sebagai sarana untuk mengungkapkan visinya sebagai seorang arsitek. Berbekal ilmu arsitek yang dianutnya, bahwa arsitek dan tata kota lebih berkepentingan dengan sosial-politik daripada teknik dan estetik. Hal tersebut ditemukannya dalam masalah Kampung Kali Code yaitu, pertama mengenai “Kultural” tentang bagaimana Kampung Code yang tidak dianggap di masyarakat Yogyakarta atau lebih tepatnya “wong cilik” yang tinggal di tengah Pusat Kota Yogyakarta tidak layak menerima penghormatan, kasih sayang dan perlindungan dari “priyayi” (petinggi dsb.). Kedua mengenai “struktural” dimana penduduk Kampung Kali Code sudah dua kali menjadi korban pembangunan ekonomi. Pada akhirnya Romo Mangun menemukan konsep yang tepat untuk pembangunan kampung Code, yaitu konsep pembangunan masyarakat. Konsep pembangunan masyarakat tersebut, termasuk didalamnya proses dan hasil akhirnya tidak ada hubungannya dengan dengan rumus – rumus pembangunan perumahan yang baik. Hal itu dikarenakan Romo Mangun membentuk masyarakat menjadi partisipasi masyarakat agar dapat mengelola permukimannya sendiri. Konstruksinya pun sederhana, didasarkan atas prinsip “kerangka” (dari beton bertulang) dan “pengisi” ( dari anyaman/bilik bambu). Jadi dapat dikatakan bahwa Romo Mangun ingin memperkenalkan perencanaan dan pembangunan bukan hanya top-down tetapi dengan pendekatan bottom-up.

Dalam pembahasan terakhirnya, Darwis menuliskan mengenai lika-liku seorang Romo Mangun yang membentuk pribadi dirinya sampai menjadi Romo Mangun yang kita tahu. Berawal dari dua “rupture” dan dua “pencerahan”, rupture yang dimaksud ialah mengenai agama dan pendidikan. Dalam agama, seperti yang diketahui Romo Mangun atau Bilyarta (nama kecilnya) merupakan anak yang lahir dan besar di Jawa, hal itu diketahui bahwa sebelumnya kakek dan neneknya adalah penganut muslim secara tradisi seperti orang jawa pada masanya. Akan tetapi orang tua Romo mangun merupakan penganut katolik yang taat, keluar dari pengaruh atau setidaknya mampu mengatasi keterbelakangan intelektual massa Jawa yang secara tradisional menganut islam. Selanjutnya rupture dalam pendidikan, kala itu Romo Mangun mendapat pendidikan bukan hanya di sekolah kolonial, namun juga pendidikan rumah karena orang tua Romo Mangun seorang guru sekolah “moderen” (kolonial). Keluar dari rupture tersebut Romo Mangun belum menemukan kepribadiannya, sampai dia mendapatkan pencerahan. Pencerahan pertama terjadi saat Ia masih bersekolah menengah namun harus terlambat lulus karena mengikuti perang gerilya dan perang itu sukses membawa kemenangan, tentara yang baru saja pulang disambut rakyat dan disanjung – sanjung sebagai pahlawan. Akan tetapi pesta tersebut terhenti karena pidato dari Mayor  Isman, yang isinya kurang lebih mengatakan “bahwa kami (tentara) tidak pantas disanjung karena tangan kami sudah berlumuran darah, tetapi bimbinglah kami agar menjadi orang biasa di tengah masyarakat untuk membangun Indonesia yang merdeka ini”. Pada saat itulah Bilyarta memilih untuk menjadi seorang pastur dan mengesampingkan keinginan remaja pada umumnya (orang terhormat dengan rumah besar, mobil bagus, dan istri cantik). Ia percaya bahwa pekerjaan paling mulia adalah mempersembahkan hidupnya bagi rakyat yang menderita.

Pencerahan kedua dia dapatkan pada saat studi masa akhirnya di Jurusan Arsitektur Sekolah Teknik Aachen, bahwa arsitektur dan tata kota tidak hanya “teknik” tetapi terlebih “politik”. Akan tetapi pencerahan tersebut membutuhkan waktu yang lama untuk menjadi sebuah karya nyata. Setelah limabelas tahun berlalu, pencerahan tersebut mulai terlihat efeknya. Romo Mangun memutuskan untuk meninggalkan kehidupan tradisional gereja dan hidup di tengah-tengah penduduk Kali Code, mula – mula di Terban lalu Gondolayu, untuk mendorong pengembangan permukiman dan masyarakat yang dianggap “liar” oleh pemerintah dan masyarakat pada umumnya.

Terlepas dari semua pemikiran Romo Mangun, terdapat buku tua yang penting dan mendasar, yang mewakili kedua kecenderungan di muka. Buku pertama lahir dari seorang arsitektur Mesir, Hasan Fathy: Housing for the Poor. Dalam bukunya dia menjelaskan bahwa permukiman rakyat tidak bisa distandarisasikan, oleh karena itu dalam membangun desa Gourna Baru Ia menghidupkan kembali gaya arsitektur tradisional. Akan tetapi penduduk yang menempati merubah rumahnya sesuai dengan selera “moderen” atau bahkan berpindah ke kota lain. Buku kedua ditulis oleh arsitek Inggris Jhon F.C. Turner: Housing by People, merupakan hasil pengalaman kerjanya di bidang perumahan rakyat selama delapan tahun di Peru. Turner  menyimpulkan bahwa masalah perumahan rakyat di negara – negara sedang berkembang selama ini timbul, bukan karena ketidakmampuan rakyat membangun, melainkan karena kesalahan politik pemerintah. Akar dari masalah tersebut ada pada anggapan dasar tentang hakikat perumahan itu sendiri. Menurut John Turner, nilai suatu rumah bukan terletak pada “what it is” akan tetapi “what it does”. Kemudian ia menambahkan pula bahwa perumahan jangan dilihat sebagai “product” akan tetapi sebagai “process”.

Dari kedua kutub pemikiran itulah kita melihat kekhasan pemikiran Romo Mangun. Dalam kasus permukiman Code-Gondolayu, kita dapat melihat bahwa Romo Mangun berperan sebagai “abdi” dan “pandu” dengan rakyat. Perjalanan hidup Romo Mangun menunjukan untuk kesekian kalinya bahwa gagasan – gagasan mengenai cinta kasih kepada si miskin, si lemah, si tertindas tidak muncul pada kebudayaan pribumi (Jawa khususnya), melainkan dari Barat. Dengan adanya pengaruh kebudayaan barat dan kristen atau dalam istilah Humanisme Kristiani. Ia tidak memisahkan pribadinya sebagai seorang arsitek, rohaniawan, budayawan, maupun aktivis.

Salah satu karya penting dalam sejarah Jawa, melalui analisa longue durẻe (jangka panjang), Denys Lombard memperlihatkan diantaranya, bagaimana mentalitas manusia Jawa mengalami transformasi terus menerus sejak mendapatkan sentuhan pertama dari Hindu dan Buddha hingga saat ini. Selain itu ada pula islam yang dibawa saudagar – saudagar muslim, tetapi perlu diingat bahwa kedua agama itu semua memiliki keinginan yang kuat kepada “Keselarasan”, yang menjadi prinsip dasar kebudayaan Jawa. Kemudian setelahnya datang lah kebudayaan Barat yang memperkenalkan peralatan intelektual dan semangat keilmuan. Atas dasar tersebut perlu ditambahkan bahwa kristen memperkenalkan manusia Indonesia pada gagasan – gagasan kemanusiaan “humanitarian”. Ajaran tentang kemanusiaan memang bukan unsur asing dalam Islam (dan agama lainnya), tetapi pada praktiknya ditundukkan pada ajaran yang dianggap sebagai “tugas suci” setiap muslim: “mengislamkan” orang lain atau pada agama kristen terdapat “misi kristiani” yaitu mengkristenkan orang.

Dalam konteks tersebutlah Romo Mangun menempati tempat terhormat, karna baginya “misi kristiani” buka soal tentang mengkristenkan orang, melainkan “mewujudkan cinta kasih dalam berbagai bentuk diantaranya: membantu, memudahkan atau memungkinkan orang menemukan dan mengembangkan jati dirinya” – sebuah konsep yang masih sulit dipahami, apalagi diterima oleh Islam. Dan bila kelak Indonesia memiliki semangat kemanusiaan “tanpa pamrih” apapun agamanya, berterima kasihlah pada Kristen dan selayaknya mereka berterimakasih pada Hindu dan Buddha yang menanamkan sifat “mistik” dan “estetik”, juga kepada Islam yang mendorong munculnya dimensi “individu” dan mengarahkan ke “masa depan”. Begitulah Darwis menceritakan kekagumannya pada Romo Mangun, seorang cendekiawan yang mengabdikan dirinya untuk rakyat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *