Dukung anak-anak bersepeda ke sekolah

Oleh Shanty Syahril.

Senin pagi minggu lalu (3/1) tampak siswa-siswi SDN Penggilingan 05 dan 07 Pagi, Jakarta Timur kembali datang dengan bersemangat mengendarai sepedanya di hari pertama sekolah tahun 2011. Setiap harinya tak kurang dari 100 unit sepeda berbaris rapi di halaman dua sekolah dasar negeri yang berbagi gedung tersebut.

Proporsi siswa yang bersepeda ke sekolah mencapai 12,5% dari total jumlah siswa kedua sekolah yang berlokasi di komplek Perkampungan Industri Kecil (PIK) tersebut. Suatu jumlah yang cukup luar biasa untuk ukuran ibukota saat ini. Memang jarak rata-rata antara rumah para siswa ke sekolah relatif dekat, karena hampir seluruhnya tinggal di keluarahan yang sama dengan sekolah. Tapi sungguh disayangkan jumlah siswa yang bersepeda kian menyusut.

“Dua tahun yang lalu jumlah sepeda yang memenuhi halaman sekolah bisa mencapai 300-400 unit. Kini makin banyak siswa yang diantar dengan sepeda motor,” ungkap Pak Ratijo, petugas keamanan sekolah yang sudah lebih dari 5 tahun mengabdi.

Sukma, ibu dari tiga anak yang semuanya bersekolah di SDN Penggilingan 07 Pagi dan putri tertuanya telah lulus hampir dua tahun yang lalu, turut mengamini apa yang disampaikan Pak Ratijo. Lebih lanjut Ibu Sukma menambahkan, “Jumlah siswa yang bersepeda menyusut setelah ada kejadian sepeda anak direbut paksa oleh orang tak dikenal. Banyak orangtua akhirnya khawatir.”

Selain keamanan, faktor keselamatan juga ditenggarai menjadi penyebab lainnya. Pak Ratijo menyampaikan, “Belakangan ini makin sering kejadian siswa yang naik sepeda kena serempet sepeda motor. Kejadiannya tidak selalu di dekat sekolah.”

Sebenarnya berjalan kaki atau bersepeda ke sekolah dulunya bukan hal yang asing di Jakarta. Namun sejalan dengan makin jauhnya jarak rumah ke sekolah, maka proporsi siswa yang berjalan kaki dan bersepeda terus menurun. Apalagi ditambah ancaman keamanan dan keselamatan seperti yang dialami di atas.

Sebuah kajian transportasi (SITRAMP Fase 2, 2004) mencatat jarak rata-rata dari rumah ke sekolah di Jakarta memang makin jauh. Meningkat dari 2,7 km pada tahun 1985 menjadi 5,5 km pada tahun 2002. Padahal makin jauh jarak maka perjalananpun makin tergantung dengan kendaraan bermotor.

Sulit untuk dipungkiri, masih tidak meratanya kualitas sekolah mendorong para orangtua memilih sekolah yang jaraknya relatif lebih jauh demi kualitas. Terlebih bagi keluarga yang memiliki mobil atau motor pribadi, jarak praktis tidak terlalu menjadi kendala.

Terlepas dari beragam persoalan yang mendera Jakarta, di awal tahun ini tersimpan sebuah harap, semoga di awal tahun 2012 mendatang masih bisa disaksikan sepeda terparkir sebanyak sekarang di halaman SDN Penggilingan 05 dan 07 Pagi. Walaupun mungkin tidak pernah terpikir olah para warga cilik ini, mereka sesungguhnya sudah berperan aktif dalam menjaga kualitas udara dan tidak menambah parah kemacetan di kota tempat tinggalnya.

Kini tantangannya adalah bagaimana mencari strategi yang tepat agar siswa merasa aman menggunakan sepeda ke sekolah; bagaimana agar jumlah siswa yang menggunakan sepeda kian tahun tidak kian menurun, namun terus bertambah. Di sini dibutuhkan peran orang dewasa untuk mendukung anak-anak bersepeda ke sekolah.

Beberapa orang tua murid di sekolah tersebut sedang memikirkan langkah apa yang kiranya bisa diterapkan untuk mendukung anak-anak bersepeda ke sekolah. Namun terbuka juga kesempatan bagi Anda yang memiliki solusi praktis untuk persoalan di atas.

Hal lain yang bisa dilakukan adalah mengamati sekolah di sekitar tempat tinggal Anda. Sekiranya masih ada sekolah yang sekelompok siswanya masih bersepeda ke sekolah, namun memiliki masalah yang serupa. Barangkali Anda pun bisa ikut memulai langkah kecil mendukung para warga cilik ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *