FESTIVAL KOTA MASA DEPAN II: Urbanisme Warga

Pada tanggal 21 – 25 Januari 2016 kemarin, Rujak Center for Urban Studies bersama 8 kota pegiat Urbanisme Warga dan berbagai komunitas di Semarang menghadiri dnan meramaikan Festival Kota Masa Depan II di Semarang. Tepatnya di Gedung Arsip Kota Semarang. Acara ini merupakan peringatan hari jadi Hysteria yang ke-10 tahun dan bagian dari rangkaian Lokakarya Urbanisme Warga. Festival Kota Masa Depan II yang bertajuk Urbanisme Warga ini terbagi atas beberapa rangkaian acara, yaitu pameran (16-20 Januari 2016) dan workshop (21-25 Januari 2016).
Pada acara ini, Hysteria mengajak warga Semarang untuk membayangkan kota mereka di masa mendatang. Hysteria juga mengajak publik dan seniman untuk bersama – sama peduli terhadap masa depan Kota Semarang. Apa saja sih kegiatannya?
Day #1: 21 Januari 2016

1
Workshop hari pertama dibuka oleh Kepala BAPPEDA Kota Semarang yaitu Bapak Ir. Bambang Haryono.
2
Acara selanjutnya ialah diskusi diseminasi informasi dan berbagi Urbanisme Warga
3
Acara selanjutnya ialah Welcoming Dinner. Pada kesempatan kali ini, Walikota Semarang berhalangan hadir dan digantikan oleh perwakilannya.

Day #2: 22 Januari 2016
4
Pada hari kedua ini, acara dimulai dengan lokakarya mengenai Open Data dari Open Data Lab. Sekarang ini hampir seluruh data yang bersifat publik sudah mulai dapat diakses dengan bebas melalui portal http://data.go.id/. Menurut halaman webnya, data.go.id adalah portal resmi data terbuka Indonesia sebagai wujud operasionalisasi inisiatif One Data. Portal ini berisi data Kementerian, lembaga pemerintahan, pemerintahan daerah, dan semua instansi lain yang terkait yang menghasilkan data yang berhubungan dengan Indonesia.
Kegiatan selanjutnya ialah lokakarya mengenai Theory of Change. Materi ini disampaikan oleh Dani Wahyu Munggoro. Ia adalah founder and director dari INSPIRIT INNOVATION CIRCLES (INSPIRIT). Kemudian, dilanjutkan dengan makan malam yang diselingi oleh dialog bersama Jongkie Tio, penulis buku Kota Semarang dalam Kenangan. Acara selanjutnya adalah Eksplorasi Sejarah di Lawang Sewu. Hmm, cukup menegangkan ya!
56

Day #3: 23 Januari 2016
Hari ketiga dimulai dengan kegiatan Tilik Kampung. Peserta kemudian dibagi atas 4 kelompok berbeda sesuai dengan berbagai kampung yang memiliki perbedaan isu yang diangkat. Keempat kampung tersebut adalah Kampung Kemijen dengan isu penurunan tanahnya, Kampung Purwodinatan dengan isu kampung kota, Kampung Kandang Gunung dengan isu resapan daerah atas, dan yang terakhir adalah Kampung Tapak Tugurejo dengan isu konservasi mangrove. Isu yang diangkat merupakan isu yang berkembang dan sesuai dengan keadaan di kampung tersebut. Setelah melakukan “survey”, seluruh peserta kemudian mendiskusikan hasil kunjungannya. Diskusi berjalan cukup menyenangkan dan seru karena banyak hal baru yang didapatkan.
789

Kampung Tapak Tugurejo dengan konservasi mangrove.
Acara selanjutnya adalah diskusi kota dan ekspresi urban oleh Stars and Rabbit yang bertempat di Grobak Art Kos. Lalu, dilanjutkan dengan makan malam dan menghadiri sambutan warga di Kampung Bustaman. Selain makan malam, kami juga disuguhi pertunjukan wayang dari Wayang Kampung Sebelah dan pertunjukan musik oleh Pyong-Pyong.
181011

Day #4: 24 Januari 2016
Walaupun hari ini adalah hari Minggu, seluruh peserta tetap bersemangat untuk mempresentasikan kota mereka serta mengikuti diskusi panel. Diskusi panel terbagi atas tiga tema yaitu Lingkungan Binaan Lestari (Pengelolaan Lingkungan bersama Warga) oleh LabTanya, LPS-AIR, DAG, dan peserta lainnya. Tema kedua adalah Pusaka dan Pengetahuan Warga (Pemetaan Sosial dan Spasial Ruang Kota) bersama Kampoeng Bogor, Gres Institut, DAG, dan peserta lainnya. Tema terakhir adalah Media Informasi Pengetahuaan Perkotaan (dokumentasi dan pengembangan diskursus perkotaan dalam kegiatan offline dan online) bersama Hysteria, C20, Kampungnesia, dan lainnya.
Kegiatan selanjutnya adalah melakukan eksplorasi sejarah ke Kota Lama bersama Komunitas Lopen.
1312

Tidak hanya itu, peserta juga diajak ekplorasi ke Pecinan. Setelah itu, peserta kembali ke Kampung Bustaman untuk melakukan berbagai kegiatan di sana.
14

Kampung Bustaman memiliki ‘Wasiat Bustaman’ yang merupakan keinginan dan cita – cita terhadap masa mendatang. Wasiat ini kemudian dibacakan dan ditanam ke dalam “time capsule”. Time capsule ini akan dibuka kembali pada tahun 2030. Penanaman ini dihadiri oleh perwakilan dari Walikota Semarang yang berhalangan hadir. Selain itu, terdapat pula berbagai pertunjukan dan lomba menyanyi yang diikuti oleh warga Kampung Bustaman.

15
Day #5: 25 Januari 2016
Hari terakhir dimulai dengan eksplorasi ke Kampung Purwodinatan untuk melihat Vernacular Heritage yang ada dan Sam Poo Kong. Di Purwodinatan, peserta keliling kampung dan disambut oleh dinding yang berisikan mural.
sambutan mural di kampung purwodinatan.
1617

*Narasi dan foto dirangkum dari hasil pencarian #UrbanismeWarga di Facebook dan Twitter oleh Nadhyra Maharani Putri, Dinda Putri Ramadhani, Radin Suryopranoto dan Brian Kusuma.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *