Infrastruktur Kota dan Data

Ditulis Oleh: Madyan, Mahasiswa Sosioloi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Teknologi telah menjadi sarana prasarana yang menopang kehidupan manusia sejak dahulu. Penemuan perkakas sederhana dari zaman pra-sejarah menunjukan bahwa kehidupan manusia tak lekang dari penggunaan teknologi. Perkembangannya  pun mempengaruhi arah perkembangan sejarah. Dalam pandangan materialisme historis, perkakas menentukan mode produksi dan struktur sosial masyarakat.

Misalnya, penggunaan cangkul dan perkakas sederhana melahirkan sistem produksi yang bergantung pada tanah. Hal ini memunculkan sistem ekonomi pertanian dan struktur masyarakat feodal (tuan tanah). kemudian, sejak ditemukannya mesin uap oleh James Watt sistem produksi sederhana mulai terganti oleh mekanisasi industri yang akhirnya mendorong revolusi industri dan sistem ekonomi kapitalisme.

Saat ini, perkembangan teknologi pun merembes keberbagai lini. Dibidang transportasi, teknologi telah banyak membantu mobilitas manusia sehari-hari. Mulai dari menghemat waktu juga memangkas jarak tempuh suatu tempat. Disamping itu, transportasi modern juga menawarkan kenyamanan bagi si pengguna. Namun, pemanfaatan teknologi menyimpan dampak implisit yang tidak terpikirkan sebelumnya. Sebut saja kemacetan di wilayah perkotaan yang disebabkan masifnya penggunaan kendaraan pribadi. 

Kini, merumuskan solusi kemacetan pun menjadi tantangan tersendiri. Sejak lama, pengentasan kemacetan telah diupayakan, salah satunya menambah dan memperluas ruas jalan. Menurut Udayalaksmana dalam sesi infrastruktur dan mobilitas kota di sekolah urbanis [1], berkaca dari pembangunan ruas jalan raya tahun 1970 sampai sekarang, membuktikan bahwa penambahan atau perlebaran jalan raya bukanlah solusi kemacetan.

Dari sini tentunya dibutuhkan solusi lain yang mampu mengurangi tingkat kemacetan. Namun, pertanyaannya adalah dengan cara apa? Dan asumsi seperti apa? Untuk merumuskannya bisa digunakan logika sederhana. Jika kemacetan diakibatkan oleh tingginya penggunaan kendaraan pribadi. Maka solusi mengatasinya dengan cara mengurangi penggunaan kendaraan pribadi.

Angkutan umum merupakan salah satu solusi, karena angkutan umum memungkinkan pengangkutan orang secara massal. Jika kendaraan pribadi hanya bisa mengangkut 1 sampai 7 orang. Angkutan umum bisa mengangkut lebih banyak dari kapasitas kendaraan pribadi. Sehingga keberadaan angkutan umum meminimalisir penggunaan kendaraan pribadi di jalan. Namun, angkutan umum memiliki tantangan dari pesaingnya, yakni kendaraan pribadi. Pertama, dari segi kenyamanan; Kedua, dari segi kecepatan. 

Dalam perkembangnnya, peningkatan pelanggan transportasi publik beriringan dengan peningkatan pelayanan transportasi publik. Di tahap pertama perkembangan, angkutan umum disediakan oleh swasta. Pemerintah hanya berperan memberi izin operasional perusahaan. Sehingga orientasi angkutan umum ditahap ini hanya keuntungan.

Ditahap kedua, pemerintah Jakarta mulai berkomitmen menyediakan layanan angkutan umum. Tersedianya transjakarta sebagai sarana angkutan umum menjadi penanda komitmen ini. Pada tahap ini, transjakarta beroperasi dijalur khusus, dan berorientasi pada operasional. Ditahap ketiga, transjakarta bertransformasi menjadi perusahaan. Pelayanan pun mulai berorientasi pada pelanggan dan mulai mengadakan ekspansi rute.

Per 31 Desember 2019, 8,3 persen dari 10 penduduk DKI tinggal 500 meter dari halte/bus stop transjakarta. 83 persen total populasi penduduk Jakarta sudah terlayani transjakarta dan 76 persen wilayah Jakarta sudah terlayani transjakarta. Biaya angkutan umum pun makin terjangkau semenjak dikeluarkannya Jak-Ligko. Seiring perbaikan dan peningkatan pelayanan terjadi peningkatan jumlah pelanggan. Di tahun 2015 rata-rata pelanggan hanya mencapai 300 ribuan, di tahun 2019 jumlah pelanggan mencapai lebih dari 700 ribu.

Di masa pandemi, transjakarta melakukan beberapa penyesuaian operasi seperti menerapkan protokol kesehatan, pembatasan kapasitas penumpang, dan kebijakan social distancing. Sifat adaptif ini sebagai bentuk respon terhadap kebutuhan konsumennya. 

Selanjutnya,  selain membantu mobilitas manusia dan penopang infrastruktur angkutan publik kota. Kemajuan teknologi, menurut  Mulya Amri [2] dalam sesi data sebagai infrastruktur di Sekolah Urbanis, menjelaskan, bagaimana data membantu kehidupan manusia, khususnya pemerintah dalam menyusun kebijakan dan mengelola kota.

Data sendiri merupakan sekumpulan fakta yang pemanfaatannya dibutuhkan proses agar menjadi informasi yang menghasilkan pengetahuan untuk bersikap dan bertindak. Secara historis, data telah sedemikian berkembang seiring kemajuan teknologi informasi. Dahulu, produksi data dan informasi dilakukan secara sederhana. Di Sumeria kuno, informasi dipahat di atas batu. Kemudian, dimasa ketika kertas dan percetakan sudah diproduksi massal, data dan informasi diproduksi di atas kertas.

Di era modern, produksi dan akses terhadap data lebih mudah dan cepat. Kemajuan teknologi informasi modern memungkinkan orang-orang untuk mengakses dan bertukar data dengan mudah. Digitilasisasi kehidupan telah menghubungkan orang-orang melalui perangkat elekteronik seperti handphone dan laptop. Bahkan, perangkat elektronik yang terkoneksi internet mampu merekam kegiatan setiap orang. Sehingga setiap orang memiliki jejak digitalnya, hal ini disebut big data.

Kini, perkembangan teknologi informasi memberi dampak besar di perkotaan. Digitalisasi kehidupan juga turut diaplikasikan dalam pengelolaan kota. Hal ini mendorong munculnya istilah Smart City, yakni penggunaan teknologi dalam pengelolaan kota.

Teknologi informasi memungkinkan pengelolaan kota lebih efisien karena tidak memerlukan resource banyak; efektif karena penggunaan data dan teknologi memudahkan pemerintah dalam merumuskan kebijakan; responsif karena digitalisasi memberikan kemudahan bagi warga untuk melaporkan suatu permasalahan yang belum ditangani; dan, akhirnya hal ini akan menjadikan pemerintah menjadi lebih bertanggung jawab (akuntable).

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *