Kembali ke Pasar?

Penunjuk Arah Menuju Ritel Raksasa di pintu keluar tol Tomang

Jalan Jendral S.Parman di bilangan Jakarta Barat memiliki panjang kurang lebih 4000 meter. 1500 meter pertama jalan tersebut begitu vital bagi Jakarta Barat, karena ada 3 universitas, 2 superblok besar hingga kantor-kantor pemerintahan.  2 jalan tol utama pun bertemu di ujung jalan ini. Lokasi strategis jalan satu ini disadari oleh salah satu peritel raksasa.

Sepanjang 1500 meter tersebut ada 3 papan penunjuk arah besar menuju peritel tersebut. Dari titik pintu keluar Jalan Tol Kebon Jeruk, calon pengunjung dapat memilih cabang peritel tersebut, ingin terus atau belok kiri. Sementara papan yang lain dilengkapi dengan jarak-jarak menuju cabang-cabang tersebut.

Papan Penunjuk di jembatan penyeberangan Universitas Tarumangara

Lain peritel raksasa, lain pula pasar tradisional. Tentu agak mustahil untuk menemukan papan informasi di lokasi premium dengan tulisan: ‘Pasar Bunga Rawa Belong, 2 km, ?’. Atau Pasar Kopro, Tanjung Duren ?. Saat Rujak hendak mengunjungi Pasar Rawa Belong, Rujak memerlukan pengarahan jalan dari wartawati Jakarta Post. Atau saya sendiri harus mencari-cari dan bertanya lokasi persis Pasar Rawasari (sebelum relokasi).

Mungkin papan petunjuk arah ala peritel raksasa diatas terkesan masalah sepele, tapi papan tersebut jika ditempatkan pada lokasi strategis, desain menarik dan infografis yang mengundang, maka papan tersebut menjadi gerbang masuk menuju pasar-pasar tradisional kita. Informasi, disini, kembali menjadi penentu.

Lalu masih ada harapankah untuk pasar-pasar tradisional? Pemerintah lewat Kementrian Perdagangan telah menganggarkan 30 milyar untuk tahun 2010 guna revitalisasi pasar tradisional di seluruh Indonesia. Salah satu programnya, konon dialokasikan juga untuk membangun pasar percontohan dengan tata kelola manajemen yang baik. Cukup atau tidak, tergantung dari kreativitas dan urgensi. Apa sih yang sebetulnya dibutuhkan pasar tradisional? Program apakah yang tepat, supaya pasar mampu bertumbuh-berkembang bersama di tengah era globalisasi, ini yang perlu dipikirkan bersama, tak hanya oleh Kementrian Perdagangan saja, tetapi juga oleh kota dan komunitas sendiri.

O ya, tahukah Anda, peraturan yang ada secara tegas mengatakan: peritel besar seperti Carrefour hanya boleh buka jam 10:00-22.00? Dan letaknya tidak boleh dalam radius 2.5 km dari pasar rakyat?

Lihat juga Editorial Ekonomi Perkotaan: Langka.

3 thoughts on “Kembali ke Pasar?

  1. Pingback: Ekonomi Perkotaan: Langka « Rujak

  2. David Hutama says:

    Peritel besar dan Pasar tradisionil punya konsumennya masing-masing. Di Muara karang, pasar ‘tradisionil’ sangat ramai tanpa perlu papan iklan. Tiap pagi semua orang, bahkan satu keluarga pergi berbondong-bondong ke pasar untuk ‘ngopi’ dan sarapan di pasar. Namun toh Carrefour di Emporium mal, pluit juga ramai. Saya tidak melihat ada relasi antara papan iklan dan kebijaksanaan pengembangan papan tradisional.

    Pasar tradisionil memang tidak perlu papan iklan karena ia hidup justru karena lokalitasnya. Di kota gede rasanya tidak ada papan iklan tertulis “pasar kota gede” tapi toh itu adalah jantung kehidupan masyarakat. Justru karena lokalitasnya ia ‘mengalahkan’ peritel-peritel besar.

    Banyaknya pendatang di Jakarta dan keterbukaan arus informasi memang membuat masyarakat menjadi semakin homogen. Atmosfir ini mngkin salah satu faktor yang mendorong orang memilih ke Carrefour (yang memang tidak bottom-up dan tidak lokal). Carrefour jelas lebih plural dan universal daripada pasar muarakarang misalnya yang umum menggunakan bahasa hokkien untuk menjajakan dagangannya :). Jadi wajar jika di kota besar seperti Jakarta, masyarakatnya cenderung memilih ke carrefour.

    Jadi menurut saya, isunya lebih kepada penataan pemukiman dengan perencanaan yang baik. Bagaimana agar pemukiman-pemukiman yang lama, yang sudah mempunyai jejaring ekonominya sendiri tetap bisa hidup. Saya tidak tahu bagaimana pelaksanaan peraturan tegas tersebut, tapi mungkin itu salah satu cara. Walaupun manjadi percuma jika pemukiman baru tidak ‘dibatasi’ dan diatur oleh pemerintah karena akhirnya bisa habis pemukiman-pemukiman lama tersebut dan ya ujung-ujungnya tidak perlu ada pasar tradisional.

    • Elisa says:

      Waduh, maaf reply diatas terlewat utk dibalas.
      Papan nama diatas menjadi representasi atas ‘pertarungan peritel raksasa VS pasar tradisional’.
      Muara karang mungkin adalah kasus berbeda dengan komunitasnya, tapi berdasarkan Laporan PD Pasar Jaya, ada 3 pasar di Jakarta Utara yg tutup dlm medio 2009-2010. Sebabnya menurut PD Pasar Jaya bermacam2, dari krn hipermart, minimarket sampai PKL.
      Sebagai mantan pengunjung setia Pasar Grogol selama 4 tahun mulai dari 14 tahun lalu, dan kembali kunjungi Pasar Grogol akhir-akhir ini, saya cukup kaget, krn keramaiannya sudah berkurang secara signifikan, dengan mudah dilihat dari jumlah los dan kios yg beroperasi.
      Dalam survey terakhir yg diadakan bekerja sama dengan JEMA Tour lewat tour pasarnya, setengah dari peserta tour tidak pernah ke pasar tradisional sama sekali, sementara radius pasar tradisional terjauh dr tempat mereka adalah 2 km – alias masih dlm jarak lokal (semoga). Sehingga saya secara prematur yakin, barangkali tidak ada hubungan kuat antara permukiman dengan tidak populernya pasar/orang tdk berkunjung ke pasar lagi.
      Lepasnya relasi pasar dan komunitas, bisa juga dilihat dari tendensi bahwa sebagian besar penduduk di belakang pasar rawa belong tidak berusaha di pasar rawa belong maupun pendukungnya – dan sebaliknya juga, sebagian yg berusaha di rawa belong banyak juga yg berasal dari luar Jakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *