Ekonomi Perkotaan: Langka

Menata akik, memulai hari perdagangan di pasar batu perhiasan Rawabening, Jatinegara, Jakarta.

Teks dan Foto oleh M. Kusumawijaya dan E. Sutanudjaja. Rujak hari ini mengunjungi pasar khusus perhiasan batu-batuan, Pasar Akik Rawabening di Jatinegara, karena ingin coba belajar tentang Ekonomi Perkotaan.

Sebab, ternyata salah satu cabang studi perkotaan yang paling sulit dicari ahlinya adalah Ekonomi Perkotaan. Dari sisi disiplin ilmu ekonomi pun didapat kesan tidak ada ekonom yang sungguh mengkhususkan diri mempelajari Ekonomi Perkotaan. Sebabnya, menurut Lin Che Wei, tidak ada permintaan dari sektor swasta atas data dan nasehat dari perspektif Ekonomi Perkotaan. Ekonomi pembangunan yang berorientasi pada mengundang investasi formal, besar, dari luar, hanya perlu melirik data ekonomi nasional, serta cuaca politik ekonomi.

Tetapi, Ekonomi Perkotaan diperlukan semestinya oleh sektor publik, oleh pemerintah dalam menyusun kebijakan perkotaan. Rujak dalam tulisan yang lalu tentang Pasar Bunga Rawabelong, misalnya, mencoba menunjukkan bagaimana intervensi pemerintah berupa pembangunan pasar dapat mengembangkan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan komunitas di Rawabelong; dan sebaliknya perkembangan yang dibiarkan saja tanpa perencanaan seperti pembangunan universitas di dekatnya, dan perkembangan eksternal seperti menurunnya permintaan akan bunga oleh perubahan gaya hidup, dapat mengurangi secara tidak semestinya vitalitas ekonomi komunitas Rawabelong. Kalau saja ada pengetahuan dan kesadaran lebih tinggi, maka perubahan-perubahan itu dapat dijadikan faktor dalam rencana pengembangan ekonomi komunitas pasar bunga tersebut.

Koalisi Warga untuk Jakarta 2030, sayangnya, juga menemukan sedikit sekali pengetahuan yang diterapkan pada buram Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi DKI Jakarta 2010-2030 yang bisa diunduh di situs Koalisi tersebut.

Selain itu di dalam rujak ada tulisan Abdoumaliq Simone tentang komunitas ekonomi di Jakarta Utara, yang antara lain menggambarkan kompleksitas ekonomi komunitas yang memiliki dimensi hubungan-hubungan sosial yang terjalin kuat dengan produktivitas ekonominya. Produktivitas ekonomi dan reproduktivitas sosial saling jalin menjalin dalam kehidupan sehari-hari, dalam komunitas yang tidak secara formal dan kaku memisahkan ruang kerja dan ruang hidup.

Apakah Anda melihat citra Tembok Besar Cina pada batu ini?

Sedang perdagangan perhiasan batu punya keunikannya sendiri, setidaknya yang di Rawabening, Jatinegara, Jakarta. Misalnya, menurut pengakuan para pedagang, ia tidak mengenal siklus yang sungguh terkait dengan irama kehidupan massa seperti adanya lebaran dan lain-lain. Orang belanja batu perhiasan karena hobi, kapan saja ada waktu. Iramanya mengikuti selera individual. AL yang datang dari Medan, mengaku berdagang batu perhiasan karena berawal hobi. Sedang pekerjaan utamanya adalah kontraktor. Dia ke Pasar Akik Rawabening membawa batu-batuan untuk diasah serta dipoles oleh artisan langganannya berpuluh tahun di pasar ini. Ketika Rujak menemui mereka, batu yang sedang diasah dan dipoles adalah Giok Putih. AL mengaku sering ke Myanmar lewat Thailand untuk memperoleh batu bermutu. Selama ini dia sudah lebih dari lima kali mengunjungi Myanmar. Berlainan dengan Pasar Bunga Rawabelong yang para pedagangnya banyak yang berasal dari komunitas setempat, para pedagang di Pasar Akik Rawabening banyak pendatang dari mana saja dengan berbagai keperluan. Selain berdagang batu, orang seperti Al juga datang untuk mengasah, memoles, melubangi, dan mungkin lain-lainnya lagi.

Akik sintetik yang diolah dari debu batu-batuan asli

Sebagian pedagang mengatakan lebih 50% pedagang di Pasar Rawabening adalah orang Minang.

Rujak baru mulai belajar tentang ekonomi perkotaan, dengan mencoba melihat kasus-kasus ekonomi komunitas di bagian-bagian Jakarta.  Anda punya pengalaman atau pengamatan tentang ekonomi perkotaan Jakarta? Mohon serta berbagi untuk semua, dapat dikirim ke info@rujak.org

Banyak terima kasih sebelumnya.

Giok Putih bongkahan dan yang sedang diasah

Lihat Juga di news: Kembali ke Pasar?

2 thoughts on “Ekonomi Perkotaan: Langka

  1. Pingback: Kembali ke Pasar? « Rujak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *