Lagi-lagi Penggusuran

 

Repro: www.lensaindonesia.com
Repro: www.lensaindonesia.com

Lagi-lagi Penggusuran!

Jika dibandingkan dengan kelas menengah yang bawelnya minta ampun: minta dibuatkan jalan tol, transportasi masal, pusat perbelanjaan untuk memenuhi kegiatan konsumsinya, sekolah taraf internasional, subsidi bahan bakar, taman bertema, festival2 tiruan luar negeri, dll….

Masyarakat miskin kota, adalah kelompok masyarakat yang paling mandiri, paling tidak menuntut, dan paling tidak merepotkan. Dari negara, mereka hanya minta terpenuhinya kebutuhan dasar untuk hidup yang tidak bisa diselenggarakan oleh individu, yakni ketersediaan bahan pokok, jaminan kesehatan dasar (bahkan kalau sakitnya udah rumit pun mereka biasanya ikhlas aja dan menganggapnya sebagai takdir), serta keamanan untuk berusaha dan bertempat tinggal…. Bangunannya, mereka bikin sendiri, tanpa subsidi. Tanahnya ilegal? Ya emang mau darimana lagi caranya bisa tinggal? Beli tanah yang harganya 10 juta semeter? dari penghasilan yang cuma 2-3 juta sebulan?

Mereka saat ini dalam tekanan hebat untuk disingkirkan dari pusat aktifitas kota…. Karena dianggap bikin kotor? Karena tidak punya sertifikat tanah.. lalu dianggap melanggar peraturan.. karenanya ilegal… karenanya kriminal.. karenanya rumah2nya harus dibongkar, disingkirkan…

Lalu difitnah menjadi penyebab utama banjir jakarta? Sekarang secara rasional gw tanya, mana yang lebih bikin banjir kota ini… rumah2 tripleks dan seng, sebagian besar berbentuk panggung, dengan luas masing-masing tidak lebih dari 20 m2 dihuni tapi bisa sampai 6 orang…. Bandingkan dengan rumah beton di kelapa gading, pluit, pondok indah yang luasnya masing-masing sekitar 400 m2, halamannya disemen buat carport, dan hanya ditinggali paling 4 orang.. itu juga yang 2 orang pembantu…

Emang pernah kebayang, kalo mereka yang disebut “miskin kota” ini akhirnya benar-benar tersingkir dari pusat kota.. Apa yang akan terjadi? Lo udah siap kalo ga ada lagi yang bisa jual makan siang enak seharga 10-20 rb rupiah per porsi? Atau pas makan di restoran harus melayani diri sendiri? Ga ada satpam, pelayan toko, petugas kebersihan, pemadam kebakaran, suster, tukang ledeng, dll…

Semua kegiatan konsumsi kelas menengah, itu bergantung pada kesediaan kelas masyarakat bawah untuk memperoleh imbalan gaji rendah. Mereka hanya dipanggil ketika dibutuhkan jasanya, tapi disingkirkan hak-haknya untuk punya tempat tinggal di dekat tempat kerja. Kenapa harus dekat? karena gaji / pendapatan mereka tidak cukup untuk membayar ongkos transportasi jika rumah mereka jauh! 60 % pendapatan mereka habis untuk biaya makan, lalu 10 % hiburan, dan 30 % mereka kirim ke sanak keluarga di kampung halaman.

Disediakan rusunawa, katanya hunian murah bersubsidi… tapi lokasinya jauh banget… marunda! Lo pernah ga ke marunda? Ke pusat kota harus naik ojek, yg akhirnya mahal-mahal juga…

Nah, mulai sekarang.. Siapapun yang bilang bahwa penggusuran dengan kekerasan terhadap kaum “miskin” kota itu perlu dan wajar… mendingan lo beli tiket sekali jalan ke singapura, ngelamar jadi warganegara sana, dan jangan balik-balik lagi ke jakarta… ok?

AH.

One thought on “Lagi-lagi Penggusuran

  1. Hifzani Zweardo says:

    Halo.

    Menurut saya, mungkin akan lebih baik kalo artikel ini menyantumkan bukti-bukti yang menguatkan opini Mas/mbak pengarangnya. Misalnya, bisa dicantumkan pemetaan area yang terkena banjir. dari situ, kita bisa lihat apakah daerah yang tergusur masuk ke dalam pemetaan tersebut. Setelah itu, kita bisa berdikusi tentang solusi apa yang bisa kita ajukan ke pemerintah untuk menanggulangi banjir tersebut tanpa melakukan penggusuran apabila area tersebut memang masuk ke area yang terkena genangan air. Atau pengarang punya solusi lain yang lebih baik daripada penggusuran itu sendiri?

    Maaf, saya tidak mengamini penggusuran, namun setelah saya baca. artikelnya lebih berisi tentang opini. Tidak ada yang salah dengan opini, namun apabila kita mau mencerdaskan masyarakat dan membuka pola pikir, mari kita cari juga bukti-bukti yang menguatkan. Jadi berimbang. Mas/mbak punya opini tapi opininya kuat karena ada data-data akurat dan mari bersama mencari solusi. Daripada kita seakan-akan beropini, tapi tidak memberikan solusi yang lebih baik.

    atau mgkn lebih baik lagi kalo kita punya studi kasus yang punya masalah yang sama. Ini hanya opini saya ya. bagaimana?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *