Lebih Jauh daripada Rokmini

Pernyataan Gubernur Fauzi Bowo bahwa sebaiknya perempuan tidak menggunakan rokmini di angkotan kota, setelah peristiwa perkosaan di dalam suatu angkutan-kota, memancing kemarahan perempuan ibukota. Berikut foto-foto mereka ber-demonstrasi di Bundaran HI pada hari minggu, tanggal 18 September 2011, jam 15:00.

Segera mencuat, bahwa persoalannya bukan sekedar seorang Gubernur yang salah ngomong.

Ucapannya itu mencerminkan suatu bias laki-laki yang memang masih menguasai sebagian (besar?) masyarakat kita: bahwa  kalau ada yang terangsang, maka ada yang “merangsang” atau bahkan “mengundang”, ialah perempuan itu sendiri, yang lalu dianggap salah, padahal mereka korban.

Selain itu, hal ini menyangkut persoalan kebijakan publik yang serius. Perempuan menuntut juga keamanan di semua ruang publik. Ini negara merdeka, sebuah republik, yang banyak perempuannya bekerja. Perempuan pekerja yang menggunakan angkutan umum lebih banyak daripada pekerja laki-laki, yang punya lebih banyak pilihan, misalnya sepeda motor. Kabarnya pembuat sepeda motor kini mengincar konsumen perempuan dengan transmisi otomatis.

Undang-undang ketenaga-kerjaan kita telah mengharuskan perusahaan untuk menyediakan angkutan antar jemput untuk yang bekerja dan/atau berangkat/pulang di antara jam 23:00-05:00. Adalah kewajiban pemerintah memenuhi menegakkan perintah tersebut. Selain itu patut dihargai semangatnya, bahwa siapapun berhak bekerja, dan itu perlu didukung dengan keamanan dan kondisi lainnya.

Angkutan umum kita sudah terkenal brengsek. Ini momentum yang tepat untuk sekalian memperbaikinya besar-besaran: mulai dari kualitas pengemudi dan awak, hingga ke sistem. Mengapa misalnya tidak ada semacam “SIM” untuk awak kangkutan umum? Bukankah seringkali mereka ini yang ngawur?

Yang saya maksud termasuk sistem angkutan umum adalah juga: fasilitas pejalan kaki yang baik. Sebab, tidak mungkin orang naik angkutan umum yang baik tanpa berjalan kaki cukup banyak.

 

5 thoughts on “Lebih Jauh daripada Rokmini

  1. Aditya Lesmana says:

    Sekedar analisa, peraturan pakaian untuk karyawati yang bekerja di perkantoran umumnya rapih dan sopan. Lain hal dengan yang bekerja di pertokoan, khususnya pada SPG yang sudah menjadi rahasia umum bila obyek ‘sensualitas’ menjadi daya tarik untuk membantu pemasaran perusahaan.

    Jika memang ‘rok mini’ perlu disalahkan, alasan terbaik seharusnya pada pendidikan moral anak-anak, bukan sebagai pembenaran dari kelemahan lelaki., terlebih membebani kaum perempuan yang terpaksa bekerja membantu perekonomian keluarga.

    Dan jika memang perlu dikaji, seharusnya lebih mengarah pada kebijakan perusahaan, bukan karyawannya. Lihat saja contoh peraturan pakaian untuk SPG di PRJ., ironis memang, karena Gubenur sendiri yang ‘merestui’.

  2. gambaria says:

    saya mau nanya:
    (1) kalo gubernur menganjurkan atau mengatakan “sebaiknya” (tentu dalam konteks rok mini)itu salah ngomong ya? sebab tulisan di atas menulis bahwa gubernur salah omong. saya tidak sedang membela sang gubernur, saya tidak punya kepentingan politik apapun, saya hanya mencoba melihat logika kalimat saja. jangan-jangan, kalo saya mengatakan “sebaiknya” itu juga nanti disalahkan orang lain.
    (2) secara semiotik, betulkah kalimat tersebut menyudutkan kaum perempuan? ini menarik, akan lebih bagus jika kalimat itu mendapatkan logika kalimatnya yang proporsional.

    mohon maaf, saya perlu keterangan jernih ihwal gonjang-ganjing logika kalimat di seputar rok mini tersebut. salam.

    • sijalu says:

      Saya malah lebih setuju kalau istilah “sebaiknya” dipertegas lagi menjadi “dilarang”, dalam hal ini konteknya dengan etika berpakaian di depan publik baik itu di jalan umum, di dalam kendaraan umum juga di dalam sarana publik lainnya. Saya pikir disini tindakan tegas pemerintah sangat dibutuhkan sekali dengan memberikan teguraan kepada warganya yang melanggar, walaupun tidak ada sangsi hukuman minimalnya akan ada efek jera dan meningkatkan kesadaran warga bahwa itu adalah guna kepentingan mereka juga akhirnya

  3. Yosio says:

    Saya sedang mcneari rumah, sy dengar ada KPR BTN Subsidi, saya sedang mcneari developer nya utk KPR subsidi tersebut, untuk daerah rumah di jakarta timur,jakarta selatan, depok ,..bisa kan saya mendapat rekomen2 tempat nya, harga, syarat2nya?tolong kirim ke email saya..terima kasih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *