Makan Saprahan: Partisipasi Warga Mempertahankan Budaya

 

 

 

Pontianak, Minggu, 18 Oktober 2015, Pukul 06.00 WIB warga kampung Banser, Kelurahan Banser Laut, Kecamatan Pontianak Tenggara Kota Pontianak berbondong-bondong turun dari gang-ke gang menyiapkan perlengkapan kegiatan makan bersama yang lebih dikenal makan saprahan.

Ada sekitar 600 orang turun ke gang Banser tepatnya di RT 003/RW001 masing-masing warga sudah diberi tugas , seperti menyiapkan makanan, menyiapkan peralatan makanan, menyambut tamu dan memberi hiburan.

Walau Kota Pontianak lagi diselimuti kabut asap, warga kampung Banser seolah lupa dengan bahaya kabut asap sewaktu-waktu berbahaya bagi kesehatan mereka. Demi mensukseskan kegiatan kegiatan saprahan.

Masuk gang Kampung Banser para tamu disambut gerbang berukir emas dengan tiang berorak motif khas Pontianak, motif Corak Ingsang. Serta dentuman meriam Karbit. Dan ada sepanduk yang cukup mencolok berukuran 5 M X 4 M bertuliskan Paret Ilang, Peradapon Ilang dengan latar paret dan sampan khas Kota Pontianak.

Ableh
Salah satu peserta saprahan berphoto di depan spanduk kampanye penyelamatan parit di Kota Pontianak (18/10). Photo Deman.

Gang kampung Banser yang panjangnya diperkirakan sekitar 200 meter sudah penuhi makan khas melayu secara mendiri disiapkan warga kampung. Lokasi tempat makan saprahan dibagi dua shaf (baris), beris perempuan 100 meter, shaf laki-laki 100 meter.

Saprahan2
Saprahan 1Ratusan warga Kampung Banser, Kota Pontianak mengikuti acara budaya saprahan (makan bersama) di Gang Kampung Banser (18/10), Photo:Deman

Kegiatan ini diiringi juga musik khas melayu dari kelompok Bujang Terdodok yang berasal dari warga Banser, warga bersemangat menyiap acara makan saprahan.

Ade Hermanto pengagas acara saprahan mengatakan, acara ini bertujuan untuk membangun kebersamaan dan rasa solidaritas antar warga, serta mempertahankan kebudayaan melayu Kota Pontianak yang sudah hampir punah.

“Semua kegiatan ini merupakan partisipasi warga Kampung Banser, kami tidak ada bantuan pemerintah ataupun pihak lainya, kami sengaja ingin mengembalikan partisipasi warga dalam menghidupkan kembali adat budaya masyarakat,”kata Ade yang merupakan ketua RT 003/RW 001.

Ade menjelaskan, kegiatan ini digagas berawal dari beberapa orang Kampung Banser yang peduli sejarah Budaya, bahwa banyak budaya Kampung Banser hilang, seperti saprahan, dendang melayu, dan hilangnya beberapa paret, tradisinya warga yang mulai hilang. Ade dan teman-temanya berinisiatif mengadakan kegiatan yang bisa melibatkan seluruh masyarakat Kampung Banser tepatnya warga RT003/001, Kelurahan Banser Laut, Kecamatan Pontianak Tenggara Kota Pontianak.

“Saya bersama-sama beberapa teman sepakat dalam membankitkan kebersamaan warga dengan melaksanakan acara makan saprahan dulu, kalau sukses akan dilaksanakan kegiatan lain, seperti mendesai kampung tampa sampah, mengembali parit sebagai identitas kampung, dan menjadikan Banser sebagai Kampung kreatif, ”kata Ade

Ade tidak menyangka, warga menyambut antusias rencana kegiatan ini, para tokoh masyarakat Kampong Barser langsung mengadakan musyawarah untuk merencana kegiatan tersebut.

ade
Ketua RT 003/RW001 , Kelurahan Banser Laut, Kecamatan Pontianak Tenggara, Kota Pontianak, Ade Hermanto (Ketua Panitia) sedang meberi kata sambutan dan orasi kebudayaan (18/10). Photo:Deman Huri.

“Kami sepakat acara ini akan dilaksanakan tampa membuat proposal pada perintah atau swasta, kita akan membangkitkan partisipasi warga, ternyata Alhamdulillah berhasil,”kata Ade Hermanto yang merupakan ketua Forum RT se Kota Pontianak.

Padaa saat acara dilaksanakan, panitia menggunakan baju khas Melayu yaitu baju Telok Belanga, para tamu undangan yang menghadiri acara disambut dengan dentuman meriam dan ditabur beras kuning.

Beraneka ragam makanan khas melayu Pontianak disuguhkan yang disuguhkan, seperti roti kap, sayur nanas, nasi kebuli, asam pedas, korket, cengkarok, apam pusoi, madu kandes, tar susu,adas, air secang, berbagai jenis buah-buahan seperti pisang, jeruk, nanas, opor kambing, sapi dan ayam, dll.

Sebelum acara makan saprahan dimulai, kegiatan dibuka dengan membaca do’a oleh tokoh agama agar acara diberkahi oleh Allah SWT.

Setelah Do’a selesai dipanjatkan, ketua kampung didahulukan untuk menyantap hidangan yang telah disediakan, setelah ketua kampung sudah siap menyantap hidangan, baru para peserta yang hadir ikut menyiapkan hidangan kepiring masing-masing setelah ini dimakan-bersama-bersama.

“Selama makan dipantangkan untuk bicara, seluruh peserta harus fokus menikmati makanan yang sudah disipakan,”kata Ade.

Ade mengatakan, kegiatan tidak selesai sampai disini hanya makan-makan saja, ada kelanjutan kegiatan,  salah satunya warga berpasrtisipasi dalam pembangunan kampung Banser.

“Dengan acara makan saprahan, mengingatkan warga pada sejarah masa lalu Kampung Banser, berbagai kegiatan selalu dilaksanakan bersama-sama, kampung Banser dulunya dikelilingi parit, kini paritnya sudah berkurang karena tidak diurus, parit-paritnya menjadi dangkal dan hilang,”kata Ade.

Kekompakan di Budaya saprahan akan menjadi modal sosial dalam meningkatkan partisipasi warga, termasuk membangun kampung, seperti membersihkan parit, mewujudkan kampung tampa sampah, mewujudkan Banser menjadi Kampung Kreatif.

Menurut Ade seperti dekat gerbang masuk ke gang, adalah spanduk besar bertuliskan Paret Ilang, Peradapon ilang berlatar belakang paret-paret yang ada perahunya.

“Dulu didepan Gang Banser memang seperti itu ada paret, anak-anak bisa mandi, bisa main sampan, tetapi sekarang paretnya sisa setengah ja karena pembangunan, kami akan meminta kekelurahan untuk membuka sekat-sekat yang menutup parit segera dibukan biar warga Banser merawatnya,”kata Ade.

Spanduk besar kampanye tentang penyelamatan parit di Kampung Bansir dipasang digerbang, dimana paritnya sudah sampai hampir hilang.

“Kami sengaja pasang didepan biar warganya bertanya, apa maksud isi sepanduk tersebut, nanti kalau warga bertanya baru kita jelasnkan pentingnya parit untuk Kampong Banser, sehingga harus di Jaga secara bersama biar tidak hilang,”kata Ade Hermanto.

Abu salah satu warga yang hadir pada acara tersebut mengatakan, ini mengingakan massal lalu waktu dia kecil, abu sering mengikuti acara makan saprahan, hampir 25 tahun budaya ini hilang.

“Syukur sekarang saya merasakan kembali melaksanakan budaya Saprahan, kalau bisa dilaksanakan setiap tahun atau pada saat ada acara haris besar keagaaman atau nasional. Sehingga memperkuat ikatan silahturahmi antar masyarakat di kampung,”kata Abu.

Ali Budayawan Kalimantan Barat yang hadir pada acara tersebut mengatakan, ini penting mempertahanakan kebudayaan yang syarat filosofi kebersamaan antar warga.

“Budaya merupakan bagian peradapan masyarakat walaupun tataran kampung wajib kita mempertahankanya, sehingga warganya menjadi berbudaya,”kata Ade. (Deman)

 



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *