Mal dan Universitas, Kambing Hitam baru Kemacetan Jakarta?

Hari Minggu, 14 November 2010 lalu, Detik.com mengeluarkan artikel menganjurkan pemindahan mal dan kampus ke luar kota Jakarta sebagai solusi macet. Detik.com mewawancarai Danang Parikesit dan Emil Salim sebagai sumber argument artikel. Danang Parikesit mengatakan, “Mal dan kampus pasti menyumbang kemacetan karena menyebabkan mobilitas orang bergerak”, dan “Itu bagian dari strategi besar. Jangan lupa kalau mau relokasi siapkan jaringan angkutan umum yang massal. Karena kalau tidak itu hanya memindahkan kemacetan baru ke pinggir kota”. Sementara Emil Salim mengambil contoh Washington DC, menurut beliau mal tidak terdapat didalam kota. Tambahnya, “Gula-gula mari kita distribusikan ke Jabodetabek. Siapa yang pergi ke mal? Itu orang bermobil, dan mal selalu punya kawasan pelataran parkir.”

Lalu pertanyaannya, benarkah demikian? Dan benarkah semudah itu?

Tentu opini ini tidak ingin menyoroti ketidakakuratan komentar Emil Salim, soal keberadaan mal di dalam kota Washington DC. Nyatanya ada mal sebesar 2 kali luas tanah Plaza Semanggi dan memiliki 1000 tempat parkir, dengan jarak 5 kilometer dari Gedung Putih. Selain mal berukuran sedang yang bertebaran di pusat kota, kampus utama Georgetown University menempati lebih dari 40 hektar (atau lebih dari 40 kali lapangan sepak bola) di distrik Georgetown dengan jarak kurang dari 5 kilometer juga dari Gedung Putih.

Jika menengok kawasan Grogol, ada 3 kampus besar berdekatan, yaitu Fakultas Kedokteran Gigi Trisakti, Sekolah Tinggi Trisakti, Universitas Trisakti dan Universitas Tarumanagara. Sementara di sisi Barat terdapat Fakultas Ekonomi Universitas Tarumangara dan UKRIDA.  Memang benar jika keberadaan kampus tersebut menimbulkan mobiitas. Tapi tidak benar jika mobilitas tersebut menimbulkan kemacetan. Sebagian besar mahasiswa tersebut tinggal di dekat kampus, atau tepatnya di rumah kost maupun apartemen dengan jarak kurang dari 1 kilometer dari bangunan kampusnya. Ada yang berjalan kaki, ada yang naik angkutan umum, dan ada yang memilih motor, serta memilih mobil.

Ternyata titik kemacetan bukan berada di universitas-universitas tersebut, melainkan sekitar 100 meter dari Universitas Tarumangara, lokasi kongesti pertemuan antara jembatan layang Grogol, pintu masuk tol dalam kota, jalan layang masuk tol Kebon Jeruk-Tangerang hingga perputaran balik. Jalan Jenderal S.Parman menjadi gerbang menuju Utara-Selatan sekaligus pintu transportasi logistik antar kota dan pulau. Kondisi diperparah dengan penyempitan lebar jalan dari 30 meter menjadi 17 meter sebelum pintu masuk Tol Dalam Kota, hingga tinggal 12 meter saat menaiki jembatan layang masuk ke Jalan Tol Kebon Jeruk-Tangerang.

Lalu apakah mal dapat dijadikan kambing hitam karena fasilitas parkirnya? Adalah terpulang bagi pengembang dan arsitek mal dalam memanfaatkan Koefisien Dasar dan Luas Bangunan sesuai peraturan, termasuk besaran alokasi tempat parkir. Jangan-jangan yang menjadi masalah bukan berapa sedikit jumlah parkir, melainkan masalah aksesibilitas mal tersebut terhadap transportasi umum dan trotoar. Bangunan-bangunan di Jakarta jarang memberikan akses murah hati menghubungkan bangunan dengan halte dan trotoar; dimana pengunjung tanpa mobil dan pejalan kaki dapat mudah memasuki bangunan tanpa berpeluh maupun kehujanan. Bahkan hanya sedikit bangunan dan mal rela memberikan kemudahan perpindahan pengunjung dari gedung satu ke gedung yang lain, entah itu dalam memberikan jembatan penghubung hingga pintu masuk yang berhadapan, atau minimal tidak memagari seluruh batas bangunan. Masalahnya bukan di pemanjaan terhadap yang bermobil, tapi penganaktirian terhadap yang tidak bermobil.

Lalu masalah berkembang tak berhenti pada aksesibilitas, tapi bagaimana menarik minat golongan menengah untuk mau menggunakan transportasi umum. Jika hal seperti ini tidak dipecahkan, percuma saja ada fasilitas transportasi umum di mal luar kota.  Jika mau ditarik lebih panjang lagi, bagaimana dengan tata ruang permukiman Jakarta, serta kecenderungan suburbanisasi kota.

Penyebaran gula-gula di luar Jakarta pun bagai pindahkan masalah, bahkan cenderung memperburuk kondisi. Gula-gula di luar kota akan mendorong pertumbuhan sporadis dan menyebar, atau kerap disebut sprawling. Sprawling tak terkendali sudah terjadi di periperi Jakarta, seperti Serpong, Bintaro, Cinere, Cimanggis, Depok, Cibubur, dan lain lain, yang tak hanya mengikis daerah resapan air di Selatan Jakarta juga mengurangi lahan pertanian perkotaan. Dari sekian pengembangan sporadik tersebut hanya segelintir seperti Depok dan sebagian kecil Serpong dan Bintaro yang terhubung dengan trasportasi rel, sementara sisanya bergantung pada pertemuan jalan-jalan tol, termasuk diantaranya Jakarta Outer Ring Road 2 yang belum selesai dibangun. Sedangkan arah kebijakan transportasi terkini adalah pembangunan MRT di dalam kota Jakarta, melewati jalur yang sama tempat Universitas Atmajaya hingga Plaza Indonesia berada. Sementara Universitas Tarumanagara, Trisakti, Central Park, ITC Roxy Mas hingga Mal Taman Palem nantinya akan berdekatan dengan rencana koridor MRT Timur-Barat.

Jika begitu ingin memreteli fungsi di Jakarta serta memindahkannya keluar Jakarta, mari jeli dulu perhatikan Jakarta. Contoh mengingat mahalnya tanah Jakarta maka pindahkanlah kegiatan yang memakan lahan besar namun nilai ekonominya rendah. Tentu tidak masuk akal jika masih ada pabrik plastik dan sepatu dalam radius 10 kilometer dari Monas. Sama tidak masuk akalnya keberadaan penampungan mobil baru berlokasi strategis di Sunter dan akan dilewati TransJakarta, dengan luas total lebih dari 15 hektar.

Teliti dulu sebelum serta merta menuduh Universitas Atmajaya dan Plaza Semanggi menyumbang mobilitas tinggi lewat kendaraan pribadi sehingga menimbulkan kemacetan di mulut Jembatan Semanggi. Jeli melihat kondisi Jalan Sudirman-Thamrin sebagai pertemuan koridor Utara-Selatan, dan Timur-Barat, tentunya beban jalan tersebut sudah menumpuk dari sejak hilir hingga ke hulu, jangan mudah mereduksi langsung pada keberadaan universitas dan mal. Keberadaan kedua fungsi tersebut hanyalah dua dari sekian banyak faktor penarik mobilitas kendaraan pribadi di kota yang memang belum memiliki sarana transportasi umum yang memadai, aksesibilitas antar bangunan serta penghubung sarana pejalan kaki yang ideal dan nyaman. Permasalahan kota Jakarta tidak bisa dipecahkan jika kita hanya dengan mudahnya mereduksi masalah yang ada, dan mengabaikan yang lain.

7 thoughts on “Mal dan Universitas, Kambing Hitam baru Kemacetan Jakarta?

  1. Marco Kusumawijaya says:

    Jangan-jangan ada kepentingan komersial mau mencaplok Atmajaya, maka mau membentuk opini umum mau kampus tidak layak di situ?
    Memindahkan kampus Atmajaya dari semanggi saya yakin akan menambah kemacetan, sebab sudah dapat dibayangkan bahwa penggantinya akan punya dalih untuk lebih besar lagi dan lebih komersial, lebih banyak mobil akan datang ke situ. Maka benar, penyebab macet itu bukan serta merta “fungsi”, melainkan volume dan jaringan prasarana (terutama angkutan umum) yang sepadan dan aksesibel.
    Pada contoh lain: Kedutaan Besar Perancis memutuskan untuk membangun kembali kedutaannya di lokasi yang sama di Jl. Thamrin, bahkan akan ditambah dengan fungsi pusat kebudayaannya (yang sekarang ini tersebar di Matraman dan Kebayoran Baru). Lebih lanjut: http://rujak.org/2010/12/kedutaan-perancis-akan-bangun-gedung-baru/ . Ini nampaknya justru mempertimbangkan keragaman fungsi kota, dalam hal ini fungsi kebudayaan/kesenian di Jl. Thamrin. Mengapa tidak?
    Komentar Emil Salim dan Danang Parikesit menunjukkan miskinnya pengetahuan kita akan keunikan kota-kota yang ada di dalam Jakarta (ya, Jakarta bukan lagi sebuah kota, melainkan aglomerasi beberapa kota). Lihat: http://rujak.org/2010/12/pertemuan-urban-knowledge-network/

  2. andre says:

    hahaha.. makanya kadang yg dimintai saran belum tentu ahlinya.. yg ahli aja masih adem2.. belum lagi kemacetan ke tanjung duren yg alasanny sepele.. krn dikalahkan oleh kndaraan yg parkir di bahu jalan.. trotoar jd tempat jualan..

  3. ryo says:

    wow, kebetulan saya kuliah d situ (untar).
    kenapa dikambing hitamkan? dan kenapa tidak diaktifkan aksesbilitas yang memadai dulu (misal busway pluit-pinangranti). padahal halte2 dan jalur sudah tersedia, namun hingga sekarang (halte2 & separator rusak) belum juga aktif. ngaret lah dari jadwal awal pengaktifan. alasan inilah,alasan itulah. gak jelas.!!

    saya rasa pemindahan itu tidak efektif (terutama kampus).
    pada kenyataannya mahasiswa-mahisiswi di kampus saya sebagian besar berasal dari daerah, jadi ya benar mereka tinggal dalam radius sekitar 1km (kost/apartmen).

  4. Ari says:

    Fungsi tertentu, dalam hal ini fungsi pendidikan (tinggi) dan fungsi komersial dengan skala layanan luas tentunya akan memberikan dampak (relatif besar) terhadap kinerja jalan di sekitarnya, sebagaimana yang byk dijelaskan dalam bbrp teori (a.l Suwardjko Warpani) yang menunjukan terdapat kaitan erat antara kinerja jaringan jalan terhadap fungsi peruntukan.
    Kearifan (pemerintah, developer, arsitek) dalam mengembangakan suatu fungsi (intensitas, jarak bebas dan fasos-fasum) seringkali diabaikan, misalnya menyediakan area parkir dengan luas yang sesuai dengan kebutuhan (peraturan daerah/universal standar), dll. Yang terjadi adalah munculnya kantung-kantung parkir ilegal bahkan bnyk yg memanfaatakan badan jalan sehingga mengurangi lebar efektif jalan.
    Hal lain yang muncul adalah kegiatan informal yang memanfaatkan trotoar bahkan badan jalan di sekitar fungsi tersebut yang secara langsung membebani kemampuan jalan melayani pergerakan kendaraan. Dengan demikian masalah yang muncul adalah kemacetan.

    Untuk skala makro, sy kira Bung Marco sdh sedikit menguraikan bahwa disitu ada persoalan sdari sisi supply, a.l jaringan, moda massal yang belum optimal.

    Penyebaran gula-gula ato dekoentrasi pun penting, karenan DKI Jakarta tidak manunggal, tetapi (saling) membutuhkan daerah di sekitarnya, yg penting semangatnya pemerataan, pemindahan fungsi harus memperhatikan kemampuan dan daya dukung, misalnya ‘gula2’ apa yang bisa dibagikan ke Kab Bogor (misal: wisata alam), Bekasi (industri), dsb.

  5. Tarun says:

    Sesungguhnya ada beberapa cara yang relatif lebih murah yang dapat diimplementasikan untuk mengurangi kemacetan guna melihat lebih banyak anggota masyakarat yang ingin berpaling atau berpaling kembali terhadap utilisasi transportasi umum. Sebelumnya, daripada mengkambinghitamkan mal dan universitas yang sudah memang terlanjur dibangun dan digunakan sebagai fungsi tertentu, kita lebih baik sebagai masyarakat berpikir cara-cara pasti yang dapat mengakomodasikan para pedestrian dengan penggunaan serta penambahan sarana sarana tertentu untuk memadai pengguna jalan dan pengguna transportasi umum. Menurutku, kebanyakan dari masalah ini adalah masalah estetika dan kenyamanan Pertama: semua bis dan angkot yang kurang baik, rada sempit, pengap, gelap, dan seringkali panas tanpa ac mesti diganti dengan yang baru, bersih, dan yang sering dibersihkan dan juga sering diuji emisinya (di mana tampilan menyerupai trans jakarta tetapi menggunakan rute rute berbeda). Kedua: Jalur pedestrian yang kurang nikmat dilihat mesti dirombak dan diperbaiki dengan bahan yang lebih enak dilihat dan lebih enak dijalani (bukan batu bata yang akhirnya malah berdebu). Ketiga, pada malam hari, pastikan bahwa lampu-lampu jalanan nyala semua agar para pedestrian dan pengguna transportasi umum dapat melihat jalur mereka dengan cahaya yang memadai serta ketenangan hati. Hal ini sangat penting sebab pada malam hari, banyak sekali jalanan yang sebenarnya dipadati pedestrian yang semi-layak tetapi tidak diterangi oleh lampu lampu penuntun (padahal banyak bergelantung hanya saja tidak nyala dan lebih ironis lagi ada banyak lampu yang nyala pada siang hari -___-). Juga, lampu lampu tersebut mesti diganti dengan yang putih (agar lebih terang, serta lebih energy efficient). Jika ketiga hal ini diamati, dijamin lebih banyak pengguna mobil dan motor pribadi akan berpaling. Sebab, dengan situasi tersebut, jalannya terasa lebih enak, naik ke sarana transportasi enak, dan pulang pada malam pun jauh lebih enak dan terasa lebih aman dan nyaman. Jangan cuman urusin transportasi memadai saja. Urusin juga jalan memadai, pedestrian memadai, lampu memadai. Lagipula, solusi ini jauh lebih murah (dan dapat dilakukan terlebih dahulu) daripada mrt, brt, toll road, jorr, outer ring, dll.

  6. iwan says:

    menurut aku, mahasiswa hanya sebagian saja karena jam mata kuliah saja kebayakan di luar jam kemacetan, jam kemancetan di jakarta antara sekitar jam 07.00 wib sampai 10.00 dan terbanyak adalah orang karyawan dan pekerja. jadi solusi itu kurang mendukung.
    yang perlu diperhatikan oleh pemerintah dan pakar penataan kota adalah bagaimana mencarikan solusi bagi pengendalian karyawan yang berada di daerah pingiran kota seperti bekasi, bogor, dan tangerang yang jumlahnya cukup besar.
    sebenarnya membangun gedung bertingkat atau sebagainya di dalam kota sama dengan membuka lapangan pekerjaan di dalam kota dan biasanya karyawan yang berkerja adalah mereka yang bukan tinggal di dalam kota.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *