Membedah Arsip Ziarah Utara

Diskusi Bedah Arsip Ziarah Utara

“Pusaka yang terhapus dan pesisir yang tergerus, sebuah kisah tentang ziarah Utara Jakarta,”tutur Irwan Ahmet.

Ziarah merupakan makna terdalam bagi empat orang peziarah seperti Irwan Ahmet, Tita Salina, Jorgen Doyle dan Hannah Pekin. Ziarah yang mereka lakukan bukan menuju ke makam-makam seperti pada umumnya orang berziarah. Namun kali ini mereka melakukan ziarah mengunjungi kota Jakarta Utara dengan penuh keringat dan dahaga, lantaran jalan kaki yang mereka pilih untuk mengelilingi pantai Utara Jakarta dari daerah Dadap sampai ke Marunda Jakarta Utara. Cara ini memang agak heroik, tapi apa mau dikata, keempat orang tersebut adalah seniman dengan pola imajinasi yang terkadang tidak sampai kita membayangkannya.

Kaget dan rasa penasaran yang tinggi ketika mereka lakukan perjalanan ziarah, pasalnya banyak orang mengerti tentang kata “Jakarta Utara”  namun tak banyak orang tahu bagaimana kondisi disana saat ini, tak banyak orang tahu juga bahwa ada sebuah kebenaran yang harus di cari dan disambangi, tentunya dengan mata kepala sendiri. Oleh sebab itu, pada akhir kegiatan pembedahan dokumen ziarah Utara Jakarta Irwan mengatakan “izinkan kami untuk melakukannya lagi, tentunya bersama teman-teman semua yang ada disini,”tutur irwan, penuh semangat.

Menurut Hannah Pekin bahwa berjalan merupakan metode ampuh untuk mengamati hal-hal yang jarang orang lihat, dari situ kami mengamati pola perubahan masyarakat dan pembangunan yang sedang berlangsung.

Sebuah video utama mulai di putar berselingan dengan kata-kata ampuh sang seniman seorang Irwan, secara perlahan meluluhkan pikiran lantaran para pengunjung disuguhkan oleh kenyataan kehidupan warga Utara Jakarta tentang dilematisnya “pembangunan,” tentang anak-anak yang putus sekolah, dan rela bekerja demi sebuah harapan akan kehidupan, anak-anak itu pula kerap rentan dengan sebuah kehidupan berbau transaksional, juga tentang sebuah baying-bayang buruk tentang penghancuran atas rumah-rumah mereka dengan cara penggusuran.

Juga tentang sebuah makna laut bagi warga pesisir laut Utara Jakarta. “tidak ada Utara kalau tidak ada nelayan, sebagai saudara tua yang telah menghubungkan Nusantara, masih terdapat nilai-nilai yang kuat tertanam di kampung Dadap, religiusitas, dan hubungan yang begitu dekat antara nelayan dan laut, bahkan mengalahkan kedekatan dengan istri mereka,”tutur Irwan Ahmet.

“Malam pertama kami begitu berkesan di kampung Dadap, apa yang terjadi saat malam di kampung Dadap? “tutur Irwan.

Isun ketua  forum kampung nelayan Dadap mengisahkan tentang sebuah video nyata dan sedang terjadi di Dadap malam itu. Maret 2016 ada sebuah sosialisasi bahwa katanya akan ada penggusuran lokalisasi. Padahal selama bertahun-tahun tidak pernah ada apa-apa di kampung kami. Semenjak kehadiran pulau palsu, kampung kami kerap dihinggapi kabar penggusuran, dengan dalih pembenaran untuk melakukan penggusuran di area seluas 12,5 Hektar persegi itu. Konon ada kabar bahwa tempat kami berteduh di kampung Dadap itu merupakan akses yang strategis menuju sebuah pulau palsu, karena memang hanya berjarak puluhan meter saja.”tutur Isun, mengisahkan hantu malam di kampung Dadap.

“kami tidak saja diam, kami sebagai orang kecil hanya bisa melawan. Perlawanan yang kami lakukan dari mulai tahun 2014 sampai dengan 2016 membuahkan hasil penundaan penggusuran dari Bupati setempat, meski truk-truk loreng kerap datang tiba-tiba tengah malam, ketika gelap-gulita,”tutur Isun.

“Kami memperjuangkan kampung kami adalah keharusan, bahwa itu adalah tanah kelahiran yang usianya bahkan sudah tiga generasi kami mendiami tempat ini,” Tutur Isun. Menurut Isun bahwa dahulu yang sekarang berdiri berupa Taman Impian Jaya Ancol adalah tanah nenek moyang kita, pintu utama gerbang taman impian jaya ancol itu dahulu berdiri kampung nelayan sebelum adanya mega proyek taman impian jaya ancol.

Panci di bawah ini adalah saksi perlawanan kami di jam tiga pagi hari, ketika anak-anak dan keluarga kami sedang terlelap tidur. Semua seolah harus dibayar dengan penghancuran, padahal dahulu kami membangun kampung tanpa ada uluran tangan dari pemerintah, jalan yang membentang dan sarana warga adalah dana swadaya masyarakat. Tutur Isun. Panci ini menjadi alat pembangkit gairah warga yang sedang terlelap dengan suaranya yang nyaring dan bising.

Panci Penyelamat ini akan dipamerkan pada pameran ziarah utara di aula rujak center for urban studies.

“Situasi mendesak di kampung Dadap, karena sudah dengan tingkat ketegangan tinggi,“ tutur Irwan Ahmet..

***

Kisah Tentang Air di Utara

Di Utara Jakarta, air begitu jadi problematis dan paradoks keberadaaannya, di satu sisi sangat melimpah, lalu tumpah kejalan-jelan warga kampung. Sementara di sisi lain nyaris kosong. Kehidupan sangat berbeda antara penanggulangan melimpahnya air antara warga kampung Dadap dan permukiman Pantai Utara. Kita harus menyaksikan banjir dua kali sebulan, dan satu minggu lama banjir di kampung Dadap. Sementara di permukiman Pantai Utara, mereka memiliki mekanisme tersendiri mengelola air dan tidak tumpah kedalam lingkungan komplek mereka.

Selama perjalanan di utara Jakarta yang paling sulit kita hadapi ialah air, air dan air. Banyak tempat seperti Ancol misalnya, 24 jam mengalir terus, terutama di pulau reklamasi. “tutur Irwan Ahmet. Lebih lanjut Irwan Menjelaskan bahwa ada hal menarik di kampung Dadap sampai PIK ternyata tidak bisa ditempuh dengan jalan kaki, ada jalan tersambung di PIK (Pantai Indah Kapuk), sedangkan ada akses lain yang tertutup. Seoalah ada sekat yang mendefinisikan dua tempat yang berbeda pula baik dari penghuni dan latar sosial warganya.

“Saya baru bisa masuk ke kawasan PIK, sampai harus menyamar sebagai pembeli, gelagat hamper mirip dengan seperti parlente, karena memang saya bule,”tutur Jorgen sambil tertawa.

Ada pula kesan menarik di kawasan Utara Jakarta. Kadang tidak selamanya kita mengandalkan kecanggihan google map. Di google map kami lihat bahwa kami sedang berjalan di atas air. Padahal kami berjalan di atas tanah yaitu pulau reklamasi.

Selain persoalan yang harus kita lihat di Utara Jakarta, ada hal yang perlu kita lihat. Tentang sebuah makna yang jika kita merasakannya akan membuat hati begitu terbuka. Suara azdan menggema bercampur lantunan pengajian, meski demikian kadang beriringan dengan dentuman musik-musik handphone warga.

“Lantunan doa membentang disepanjang Utara Jakarta, mulai dari kampung Kramat, Luar Batang, Muara Baru membentang disepanjang Utara Jakarta adalah doa untuk Jakarta,“ tutur Topas warga kampung Aquarium.

“Utara adalah Pusaka yang terhapus, dan pesisir yang tergerus,” tutur Irwan.

Ada ilmu lain yang baru kita tahu setelah mengunjungi Utara Jakarta, komunitas pasar Seni Ancol, tempat ini dahulu ternyata menjadi tempat seniman-seniman penting seperti Afandi dan Sudjoyono yang bermula mengembangkan kreatifitas seninya dari tempat ini.

“Seni terbaik di utara Jakarta hanya ada di tempat ini,“Tutur Irwan.

Kerinduan warga terhadap laut begitu kental sekali. Mereka membangun jembatan, meski kemudian rusak mereka membangunnya kembali, semua itu asalkan mereka tetap terkoneksi dengan laut.”imbuh Irwan.

Melihat Cakrawala Utara

“Pada tahun 1995 ketika presiden Soeharto meresmikan pembangunan reklamasi, alasannya bgitu sederhana hanya ingin membuat Jakarta menjadi “kota berkelas dunia.” Entah atas perintah atau perspektif siapa pikiran kita mampu membayangkan kota kelas dunia itu. Kita pun tidak tahu siapa yang menaruh narasi kota berkelas dunia kemudian di taruh di utara Jakarta dan dikampung-kampung sampai saat ini kita tidak tahu,“ tutur Elisa Sutanudjaja.

Lebih lanjut menurut Elisa Sutanudjaja bahwa “Disini kita menyaksikan, bahwa seni mampu mendemokratisasikan dan menjebol tembok-tembok kebisuan. Fragmentasi ruang-ruang yang membentang di Utara, energi listrik Jakarta yang di suplay dari Muara Karang, kita tidak tahu dan lupa hal itu.”

Mayoritas orang miskin membangun lingkungannya sendiri, dengan dana seadanya dan swadaya, membangun ruang bersama tentunya hal ini menjadi asset paling berharga. Tentunya disadari pula bahwa cara bermukim orang tentunya beragam,itu semua tergantung pada latar sosial-ekonomi seseorang, seperti halnya permukiman nelayan, belum tentu sama dengan permukiman buruh pabrik. Heterogenitas dan solidaritas yang ada bisa membantu mengurangi masalah Utara Jakarta hari ini terutama momok menakutkan tempat singgahnya seniman mendunia di pasar seni Ancol yang hampir punah riwayatnya oleh bahaya penggusuran.

“Kami rindu dengan ziarah ini, Februari nanti izinkan kami kembali,”tutur Irwan Ahmet.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *