Menjelajah ke Timur, Bertandang ke Barat

Ini tahun kedua, Rujak Center for Urban Studies turut serta dalam pengorganisasian kegiatan berjalan kaki menjelajahi Pantai Utara Jakarta, dari Kampung Dadap di ujung Barat hingga ke Marunda di Timur. Para pejalan kaki adalah seniman, Irwan Ahmett, Tita Salina, Hannah Ekin dan Jorgen Doyle, di tahun 2018 membutuhkan 11 hari untuk menyelesaikan rute tersebut. 2019, keempat pejalan kaki mendapat teman perjalanan baru, termasuk dari Berlin hingga Jakarta, dan kali ini membutuhkan waktu 12 hari.

Melarut ke laut (foto oleh Jorgen Doyle)

Ziarah Utara, begitulah kegiatan berjalan kaki itu kami sebut. Ide nama itu muncul karena teringat akan kebiasaan sebagian masyarakat Indonesia untuk melakukan ziarah ke tempat yang dianggap penting, baik berdasarkan kepercayaan, tradisi maupun agamanya. Dan ritual ziarah itu pun kental terjadi di konteks pesisir, termasuk Pesisir Jakarta.

Jika kata eksplorasi itu kerap dekat dengan kolonialisasi, maka eksplorasi yang terjadi dalam Ziarah Utara ini justru ingin membebaskan diri dari kungkungan ruang dan sekat yang terbentuk dari produksi dan praktek perencanaan ruang dan infrastruktur yang buruk, segregasi kelas ekonomi hingga kerusakan lingkungan hidup. Jika boleh saya sebut, pejalan kaki sedang melakukan eksplorasi pembebasan. Mereka jelas bukan Flaneur dan tentunya tidak masuk dalam definisi proses berjalan kaki ala Michel de Certeau. Pejalan kaki ini tidak sedang membaca kota seperti layaknya membaca buku.

Ziarah Utara adalah perjalanan yang kontemplatif, mendengarkan tapi tidak membaca, menyerap tapi tidak (langsung) menganalisa, mempelajari tapi tidak menghafal. Ini mungkin dimulai dari perjalanan oleh seniman, namun perjalanan itu membuka begitu banyak pintu dan inspirasi, yang bisa dipakai untuk kebijakan hingga keilmuan. Jika mengikuti dengan tekun Ziarah Utara, maka kita mampu mengidentifikasi dengan tetap kebuntuan di Utara, mana jalur yang harus dibuka, dan mana yang terlupakan. Saya sendiri menulis panjang tentang Ziarah Utara disini dan bagaimana pengalaman tersebut mampu membantu saya memahami kajian geografis.

Kini, sepenggal dari catatan refleksi Ziarah Utara tersebut sedang mampir di Museum Sejarah Jakarta, sejak bulan Mei silam, dan akan berakhir tahun 16 Juni 2019 nanti.

 

Pameran akan berlangsung hingga 16 Juni 2019

 

Nah ikuti beberapa tulisan lain soal Ziarah Utara disini dan disini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *