Memproduksi Pengetahuan itu Hak Semua Orang

1.Workshop penentuan isu dan tokoh kampung - Awal 2013

Dinamika Penggalian Pengetahuan di Kampung Bustaman. Oleh Anastasia (Ami) Dwirahmi.

Beberapa bulan terakhir, warga Kampung Bustaman memiliki kesibukan baru. Di sela-sela kegiatan pemotongan kambing dan pengelolaan sanimas, remaja dan tetua kampung membuka-buka album foto lama, menelusur arsip kampung dan menceritakan kenangan-kenangan mereka. Pengetahuan mengenai kampung dikumpulkan dan akan didistribusikan baik ke dalam maupun ke luar. Program ini merupakan kolaborasi warga dengan beberapa komunitas di Semarang yang tetarik pada isu kampung.

Kebanyakan penelitian dilakukan oleh peneliti, tanpa melibatkan warga sama sekali. Warga hanya menjadi objek yang ditanyai dan diberi lembar kuesioner. Namun kali ini, warga terlibat cukup aktif untuk mengenal kembali sejarah mereka.

Ketika mendengar kata sejarah, ada beberapa warga yang merasa enggan untuk terlibat. Bagi mereka, kata itu terlalu berat dan mereka merasa tidak punya pengetahuan sama sekali. Maka yang pertama kali dilakukan adalah memetakan tema penelitian yang sekiranya lebih bisa diterima oleh warga, tetapi tidak menghilangkan misi untuk menggali sejara kampung.

Akhirnya setelah sekitar satu bulan mengadakan pertemuan informal dengan ketua RT, RW dan para remaja, ditentukan 6 buah tema turunan dari tema besar sejarah kampung. Tema-tema tersebut adalah : Profil remaja, Mushola, Rumah Pemotongan Hewan, Sanimas, Tokoh Bustaman, dan Pedagang. Metodenya para remaja akan menjadi ‘peneliti’ bagi kampung mereka sendiri dan mewawancarai orang tua mereka.

Untuk itu, remaja dibekali dengan teknik-teknik sederhana untuk menggali dan mendokumentasikan informasi. Tim UGD Semarang mengundang beberapa praktisi surat kabar dan televisi untuk berbagi pengetahuan pada para remaja mengenai teknik wawancara, pembuatan video dan pengolahan data.

Setelah mendapat pembekalan, remaja mulai bekerja dengan didampingi oleh beberapa fasilitator  untuk membantu mereka memecahkan masalah yang mereka temui selama melakukan penelitian ini. Mereka melakukan kegiatan ini sejak bulan Januari-April 2013. Mulai dari mewawancara tokoh kampung, mencari foto-foto lama, sampai digitalisasi arsip kampung.

Beberapa kendala bisa dipetakan dari metode seperti ini. Yang pertama adalah sulitnya membuat warga merasa terlibat dengan program ini. Mungkin karena warga terbiasa dengan ‘pendatang’ yang membawa uang segar dan melakukan proyek fisik. Sehingga ketika tim UGD datang dengan membawa tugas untuk mereka, warga sedikit malas ikut serta. Kedua adalah waktu. Para remaja harus berbagi dengan kegiatan sekolah dan pekerjaan mereka (karena banyak dari mereka yang juga bekerja).

Masalah ketiga adalah problem internal kampung. Ada beberapa gap yang terjadi, baik di antara remaja kampung maupun antara remaja dengan warga senior. Tapi tidak disangka-sangka, masalah yang terakhir ini cukup bisa diselesaikan dengan adanya program dari tim UGD. Beberapa kali kami berusaha mengupayakan dialog antara remaja dan para orang tua. Hasilnya adalah, Ikatan Remaja Bustaman yang sudah lama vakum kini bisa hidup kembali.

Setelah penelitian selama 4 bulan tersebut, data yang telah dikumpulkan diolah menjadi beberapa tulisan naratif mengenai kampung. Tulisan-tulisan inilah yang nanti akan dijadikan panduan untuk berkarya bagi seniman yang terlibat dalam festival Tengok Bustaman. Maksud dari penyelenggaraan festival ini, selain untuk menandai selesainya program Kampung Bustaman, juga untuk menyampaikan hasil penelitian warga dengan cara kreatif untuk menarik perhatian anak muda di Kota Semarang.

20130208_164309

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *