Kampung Bustaman?

Oleh Anastasia (Ami) Dwirahmi

DSCN5366

20121214_164216

Sejak bulan Oktober 2012, tim UKD Semarang yang menyebut diri sebagai UGD (Unidentifid Group Discussion) telah menjalankan program di sebuah kampung di wilayah Semarang Tengah bernama Kampung Bustaman. Kampung ini terletak di antara situs penting Kota Semarang yaitu : Pecinan, Kota Lama dan Pasar Johar. Ketiganya mungkin sudah banyak kita dengar, namun Bustaman belum banyak yang mengenal.

Kampung Bustaman adalah sebuah kampung yang terdiri hanya dari 2 RT saja, dan dihuni oleh kurang lebih 90 keluarga. Ada 3 jalan masuk menuju kampung ini, dari Jalan MT. Haryono, Petudungan atau lewat Pekojan. Walaupun memiliki beberapa pintu, kampung ini senantiasa aman. Maka kata Bustaman sering juga dipelesetkan menjadi ‘Tembus Tapi Aman’.

Mendengar nama Bustaman, kita pasti teringat pada seorang tokoh seni lukis modern kebanggaan Indonesia, Raden Saleh. Ya, Raden Saleh Syarif Bustam memang memiliki kaitan dengan kampung ini secara tidak langsung. Kakek buyut dari Raden Saleh, yaitu Kyai Kertoboso Bustam, adalah orang yang mendirikan kampung ini. Kyai Bustam memulai kampung ini dengan membangun sebuah sumur, tanah kampung ini beliau dapatkan dari pemerintah Belanda atas jasanya menghentikan pemberontakan orang Jawa dan Cina. Kyai Bustam juga pintar menerjemahkan Bahasa Belanda, sehingga ia sangat disayang oleh pemerintah kolonial pada waktu itu.

Kebanggaan warga Bustaman akan sang Kyai sangat terasa. Walaupun begitu, ternyata tidak semua dari mereka sadar akan betapa berharganya ‘warisan’ yang mereka miliki. Tim UGD bersama beberapa komunitas berusaha untuk mengajak warga mengangkat kembali sejarah mereka demi kelestarian kisah dan kampung ini sendiri.

Selain Kyai Bustam, kampung kecil ini juga memiliki ‘warisan’ lain yaitu tradisi berdagang kambing. Perdagangan kambing sudah ada di Bustaman sejak berpuluh tahun yang lalu, bahkan Bustaman menjadi salah satu sentra pemotongan kambing di Semarang. Selain dagingnya, beberapa warga Bustaman juga membuat bumbu gule dan tengkleng, namun tidak ada yang berjualan masakan daging kambing siap makan. Pamor Bustaman sebagai pusat kambing membuat nama kampung ini diambil sebagai nama warung-warung gule di seantero Kota Semarang, walaupun yang berjualan sebenarnya bukan orang Bustaman.

Sejak tengah malam sampai menjelang sore, kegiatan yang berkaitan dengan pemotongan dan pendistribusian daging kambing terjadi di kampung ini. Mulai dari datangnya kambing hidup, disembelih, dibersihkan, dipotong menjadi bagian-bagian kecil, sampai diambil oleh para pedagang gule/tengkleng semua bisa kita lihat di Bustaman. Ditambah lagi dengan aroma bumbu gule yang sedang dimasak. Saat ini di Bustaman hanya tinggal tersisa 2 pedagang kambing yang masih aktif, yaitu Haji Toni dan Bapak Yusuf.  Sebagian pedagang lainnya sudah gulung tikar karena berbagai macam hal.

Bustaman adalah salah satu kampung bersejarah di Kota Semarang yang belum banyak diketahui orang. Di tengah perkembangan Kota Semarang, kampung-kampung seperti Bustaman ini sering kali dilupakan. Padahal jika dilihat dari kisahnya, Kampung Bustaman bisa menjadi salah satu aset sejarah dan budaya dari Kota Semarang.

Selamat datang di Bustaman!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *