Mengurangi Sampah Lewat Pertunjukan

Tulisan dan Foto oleh Lieke Soe, relawan Peta Hijau Yogyakarta, penikmat pertunjukan seni.

Setiap hari kita menghasilkan sampah. (Hampir) setiap hari kita dapat menikmati sebuah pertunjukan. Jika saja dua hal ini bergabung, apa yang dapat kita hasilkan?

Bayangkan jika dalam satu pertunjukan semalam, satu saja propertinya dibuat dari bahan daur ulang sampah.

Bayangkan seorang biduanita mengenakan gaun ini, menyanyikan sebuah lagu indah dari suaranya yang termurni. Bayangkan, sebuah sajak yang menyertai gaun ini, menembus kesadaran pendengar-pendengarnya. Bayangkan seorang tokoh yang terbalut gaun ini sedang membawa kita ke suasana lakon sandiwara. Atau siapapun yang ada di panggung.

Ini artinya, dalam satu malam, kita telah memperjelas nasib setidaknya setara 200-an bungkus mie instant daripada menjadi sekedar onggokan sampah.

Kita dapat menyelesaikan permasalahan sampah dengan mengubah bentuknya. Yang diperlukan hanyalah sedikit imajinasi dan sedikit tenaga untuk mengucek.Bicara tentang lingkungan dan masalah persampahan tidak harus selalu masalah teknis yang memusingkan. Bicara soal seni bisa jadi bicara soal kreasi dan inovasi.

Kita dapat mulai mempopulerkan sampah sebagai bahan properti pertunjukan kita!

foto: baju dan gaun kreasi Lestari, Lembaga Studi dan Tata Mandiri, Pendampingan Masyarakat untuk Pengelolaan Lingkungan dan Sanitasi. Beberapa gaun dipertunjukkan dalam Biennale Yogyakarta X 2009 dan Grarebeg Sampah, 22 Februari 2010 di TPA Piyungan, Yogyakarta. Beberapa gaun anak-anak dibuat oleh seorang guru SMK di Yogyakarta.

CP: Agus Hartono, 08562861257, Semoyan RT 01 DK II Singosaren, Kotagede, Yogyakarta p: 02748255509, e: a_hart01@yahoo.com, fb: lestari_cling@yahoo.co.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *