
Sembilan kategori sampah: Garbage without soup, soup, papers, flammables, uninflammables. dishes, glass bottles, pet bottles, cans. Lokasi: Hibiya Park Tokyo, pada kesempatan International Cooperation Days, 3-4 October, 2009. Perintis daur ulang sampah di Jepang antara lain adalah Chubu Recycle. Pendirinya adalah penggiat Green Map Japan di Nagoya, Aichi Prefecture. Pemilahan sampah yang rinci ini menunjukkan setidaknya tiga hal: efisiensi daur-ulang memerlukan pemilihan yang rinci, yang didukung oleh industri daur ulang yang berkembang, dan tergantung juga pada konteks/budaya konsumsi setempat.

Wah… luar biasa. Kebanyakan baru kenal 4 kategori. Sampah makanan, Gelas, Kertas, Plastik. Memang membingungkan kalau harus membuang jenis2 ‘can yg mengandung gas’ seperti: bekas obat nyamuk atau hairspray dan batu batteri, lampu dsb.
Kalau di sini sepertinya baru sampai ditahap Sampah Kering dan Basah; tapi pemulung justru sudah ‘advance’… mereka sudah punya spesialis: plastik, puntung rokok, botol plastik, botol kaca, botol parfum (keliling malahan), kertas2 berbagai jenis (koran, majalah dll), dll lagi.
Jadi siapa yang lebih ‘advance’… yang membuang sampah2 gaya kehidupan yg katanya ‘educated’ atau pemulung yang sudah pandai memisahkan sampah?
Salam,
Dian
saya kira soal “advance” atau tidak itu memang ada tergantungnya konteks. Nah, kalau ternyata pemulung lebih “advance” daripada sistem “formal” yang ada, itu baru masalah. Persoalannya memang bagaimana membuat sistem dan menumbuhkan sistem untuk menampung/akomodasi unsur-unsur yang ada, bahkan yang sudah lebih “advance” itu.
It’s high time pihak otoritas melakukan sesuatu yang nyata. Agar setiap lingkungan RT-RW di Jakarta dan kota-kota besar di Indonesia untuk memfasilitasi, meng-edukasi dan mensosialisasikan, serta menerapkan sistem pemilahan sampah seperti yang telah dilakukan di banyak negara berkembang lainnya. Bila perlu ada law-enforcement bagi yang tidak peduli pada BUMI kita yang sudah sakit sekarat ini. GO GREEN…. Reduce-Reuse-Recycle…
I mean … ‘advance’ dalam tanda kutip, plus ingin mempertanyakan warga jakartanya termasuk saya… yang tidak kunjung ‘advance’ dalam mengatur kehidupannya… dalam hal melatih diri membuang sampah dengan teratur.
Bak sampah dilingkungan saya cuma ada 2 macam, kering dan basah.
Saya sendiri sedang mengatur supaya rumah saya bisa bebas plastik saja… tidak berhasil sampai sekarang… menyedihkan.
I complaint to myself about this…
Dian yb….sabar-sabar, akhirnya nanti akan kesampaian juga. Selangkah demi selangkah.
Pemulung betul2 sudah lebih maju sama yang membeli dari dia ……sampai di daur ulang. Saya tinggal di apartemen yang sama sekali tidak ada pemisahan sampah. Bagaimana caranya bisa nyambung ke sistem pemulung?
Pingback: Bagaimana nyambung ke sistem pemulung? « Rujak
Mungkin kita bisa tiru cara yang sudah canggih tersebut. Tetapi mungkin sebelum memberikan penjelasan pada para warga, para pemulung perlu dilatih dan diberi pengetahuan tentang beberapa hal di bawah ini:
1. Memisahkan sampah beracun dan tak beracun (toxicated vs intoxicated)
2. Memisahkan sampah luruh dan tak luruh dgn tanah “gradable dan ungradable)
3. Memisahkan sampah dapat dipakai kembali dan tak dapat dipakai kembali (reusable vs unusable.
Jadi memang kita masih sulit kalau mulai dari warga yang notabene masih tak peduli terhadap sampah sendiri sampai nanti ada bencana besar akibat sampah. Mungkin Bung Marco bisa menginisiasi juga kesadaran akan datangnya bencana besar.
Saya pernah melihat di salah satu kampung hijau, sudah ada loh kotak sampah khusus untuk sampah kimiawi.
marco… kalo di Bandung udah ada yang ngelola sampah untuk didaur ulang. Namanya bu jajang, kita suka ngumpulin sampah bekas beng-beng, sabu cuci (attack, rinso) kemasan2 seperti itu untuk dibuatkan kerajinan. Seandainya sudah ada yg bisa memilah sampah demikian, kumpulin aja deh.. transfer buat dibikini dompet dan tas.
Ada penggiat nya juga Regeneration.org. nanti bisa diajak kerjasama.
Salam kompak!
Selain pemisahan berdasarkan kategori jenis sampah, yang tidak kalah pentingnya adalah waktu buang sampah dan waktu pungut sampah oleh petugas, hal ini penting sekali untuk kota seperti di jakarta yang akan berkaitan erat dengan mengurangi resiko polusi bau dan kemacetan akibat management sampah yang salah. Di Jepang warga boleh membuang sampah dimulai jam 8 malam s/d jam 6 pagi karena jam 6 pagi merupakan waktu terakhir petugas melakukan pengambilan sampah yang telah dipisah oleh warga menurut jenis sampah dan sampah ditampung di plastik transparan sehingga memudahkan petugas untuk memilah.
Hebat tuh metode pemisahan sampah…tapi di kebiasaan masyarakat kita, jangankan kepedulian untuk memisahkan sampah, kepedulian untuk buang sampah yang benar aja masih sangat kurang…berapa banyak tempat umum yang dipenuhi sampah plastik makanan dan minuman..nih dulu yang perlu dibenahi seiring dgn pemisahan sampah spt yang diuraikan diatas..Salam Peduli!!!!
Dulu juga orang Jepang tidak punya kebiasaan itu. Jadi “kebiasaan” yang ada tidak boleh jadi alasan. Ya, kebiaasaan itu harus diubah, dengan metoda, dengan bantuan dan peraturan, dll.