Pentas Perdana Sekolah Pedalangan Wayang Sasak: GUMI PAER, BUKAN BUMI BARU

galery9 galery10 pentas wayang

TERSEBUTLAH kisah tentang penemuan para ilmuan tantang sebuah planet yang menyerupai bumi; namanya BUMI BARU. Sebuah planet yang disebut-sebut memiliki tanda-tanda kehidupan seperti di Bumi. Orang-orang ramai membicarakannya, mereka punya satu keinginan bersama. pindah ke BUMI BARU. Mereka jenuh dengan bumi atau Gumi Paer yang ditempati hari ini, karena sudah rusak. Hutan rusak, sungai, dan udara tercemar.

Sementara semua orang bergegas untuk pindah ke Bumi Baru, Amaq Asih dan Anaknya, Iwoq memilih bertahan. Memilih menjaga Gumi Paer. Maka berangkatlah orang orang ke Bumi Baru dengan harapan akan ada hidup yang lebih baik ketimbang tingal di Gumi Paer.

Singkat cerita, di Bumi Baru orang-orang mulai membuat rumah, membangun gedung, membuka jalan. Mereka menebangi pohon, membakar hutan untuk membuka lahan. Sesaat mereka berbahagia menikmati alam di Bumi Baru yang masih asri. Akan tetapi ini tak berlangsung lama. Hutan yang lebat dengan mata air yang berlimpah pelan-pelan gundul. Mata air menyusut dan mengering. Air sungai penuh sampah. Udara tercemar polusi. Bumi Baru yang sebelumnya hijau lestari dalam sekejap berubah menjadi coklat kering kerontang.

Pemandangan berbeda terjadi di Gumi Paer. Amaq Asih dan anaknya yang bertahan di Gumi Paer perlahan-lahan menanami kembali hutan-hutan gundul dan lahan kering. Pohonpun tumbuh lebat memunculkan mata air berlimpah. Sungai-sungai yang penuh sampah perlahan-lahan dibersihkan dan airnya jernih kembali. Udara yang tercemar kembali segar, membuat paru-paru Gumi paer menjadi berdenyut kembali. Semua mahluk bergembira menikmati alam Gumi Paer yang asri.

Cerita ini adalah gambaran pertunjukan pertama para siswa Sekolah Pedalangan Wayang Sasak yang berlangsung di Pasar Sesela, Lombok Barat, Selasa (24/11) Pukul 20.00 wita. Lakon wayang yang berjudul Gumi Paer, Bukan Bumi Baru ini akan dibawakan dalang muda Bayu, salah seorang siswa Sekolah Pedalangan Wayang Sasak.

“Pementasan ini adalah hasil proses belajar di Sekolah Dalang sejak enam bulan yang lalu,” Kata Muhaimi, selaku Kepala Sekolah. Menurut Emy, sebelum pentas di pasar Desa Sesela, para seiswa sempat melakukan uji coba pementasan ketika salah seorang warga Sesela memilik hajatan pernikahan anaknya. “Alhamdulillah sambutan warga sangat baik, mereka meminta untuk mementaskan pertunjukan wayang para siswa di tempat yang lebih luas, biar bisa ditonton oleh banyak orang,” tutur Emy.

 

 

Wayang dan Lingkungan

Dalam sejarahnya, Wayang Sasak hadir di Lombok sebagai alat untuk berdakwah menyebarkan agama Islam. Wayang Sasak adalah media penyuluhan yang sangat efektif dan bisa diterima masyarakat secara luas. Beragam pesan moral bisa dengan mudah diterima penonton tanpa mereka merasa digurui. Persoalan lingkungan adalah salah satu persoalan bersama yang menjadi konsentrasi Sekolah Pedalangan Wayang Sasak. Pementasan ini dihajatkan untuk mengingatkan masyarakat bahwa persoalan lingkungan di sekitar kita harus disikapi bersama.

Satu hal yang berbeda dari pertunjukan wayang biasanya, kegiatan pementasan wayang oleh siswa Sekolah Pedalangan Wayang Sasak ini tak sekedar membuka persoalan-persoalan seputar lingkungan, tapi mereka juga menawarkan aksi bersama untuk memperbaiki kerusakan itu. Salah satunya adalah dengan membagi bibit pohon kepada penonton. “Di akhir pertunjukan, dalang dan siswa Sekolah Pedalangan Wayang Sasak akan membagikan bibit pohon secara gratis kepada para penonton.” kata Abdul Latif Apriaman, aktivis IDEAKSI–sebuah perkumpulan yang turut membgun Sekolah Pedalangan Wayang Sasak.

Bibit pohon yang dibagikan itu adalah sumbangan pusat pembibitan Pondok Pesantren Nurul Haramain – Narmada, Lombok Barat. Bibit-bibit pohon itu diharapkan akan ditanam para penonton untuk mengembalikan kondisi lahan-lahan kritis di sekitar mereka. Pembagian dan penanaman pohon ini akan dilakukan di setiap lokasi pertunjukan Siswa Sekolah Pedalangan. “Melalui aksi sederhana ini kita berharap ada kesadaran dikalangan penonton terutama generasi muda dan anak-anak untuk mau mengambil bagian dalam upaya pelestarian lingkungan. Jangan sampai kita menyesal kemudian.” kata Latif.

***

Di akhir lakon, orang-orang yang jenuh dengan Bumi Baru mereka yan telah rusak karena ulah sendiri, kembali mencari Bumi baru yang lain. Pada puncak kegelisahannya, orang-orang kembali melihat sebuah Bumi Baru muncul di jajaran galaksi. Bumi itu terlihat sangat menawan, hijau dengan udara biru yang jernih. Maka orang-orangpun kembali bersiap pindah ke BUMI BARU. Betap kagertnya mereka ketika mengetahui bumi yang mereka tuju kali ini adalah bumi lama, Gumi Paer yang mereka tinggalkan. Bumi yang dulu mereka rusak bersama-sama.

Cerita ini menggambarkan bahwa Gumi Paer yang kita tempati hari ini sangatlah cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh umat manusia. Akan tetapi seberapapun luasnya Bumi Baru tak akan cukup untuk menampung kerakusan manusia. Kita tak butuh Bumi Baru, yang mesti kita lakukan adalah Menjaga Gumi Paer kita.

____________________
untuk info lebih lanjut kontak:
Muhaimi : 0818362584
Abdul Latif Apriaman : 0818365843

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *