Relativitas – Adi Purnomo, sebuah resensi oleh wendi isnandar

Resensi Buku Relativitas – Adi Purnomo

Memahami “Relativitas”, mencari kata dari point-point yang saya tangkap, ada beberapa kata,pasangan kata,padanan kata yang dari sana dapat saya mulai semua.

Arsitek di ruang antara
Ide, gagasan, dan pemikiran sesungguhnya telah ada di dalam sebuah ruang di luar akal manusia, yakni ruang angan. Sampai pada kemampuan seorang Arsitek menariknya ke dalam akal mereka, mengolahnya dalam ruang nyata. Menjadi sebuah relativitas apabila ide-ide dari ruang angan tersebut berhadapan dengan ruang nyata yang lain. Arsitek tidak berdiri di ruang angan ataupun ruang nyata, arsitek berdiri di antara keduanya. Arsitektur tidak memihak pada ide maupun kenyataan, arsitektur harus dapat mensiasati keduanya. (Dimana) Posisi Arsitek? (Bagaimana) Menyiasatinya? Kedua hal itulah yang menjadi pertanyaan awal yang ditawarkan Adi Purnomo dalam “buku hitam” ini.

Memulai profesi dengan lingkup terkecil, ia berjalan, berproses, dan berpraktik sendiri. Tujuannya hanyalah bagaimana berarsitektur dapat sejernih-jernihnya? Bukan berarti terlepas dari disiplin ilmu lain, melainkan penggalian lebih dalam. Untuk menggali lebih dalam tentu saja butuh alat serta tenaga yang lebih dari biasanya,bukan?

Ruang dan Ruang-an
Ruang dapat bersifat fleksibel sementara ruangan seakan sudah terpatri dalam buku-buku standar arsitektur. Bagaimana bisa membuat sama suatu ruangan untuk tiap orang? (sementara fisik dan persepsi setiap orang berbeda). Bukan seberapa luas,seberapa sempit, namun seberapa cukup. Ruang yang mengikuti pengguna, bukan sebaliknya. Dengan begitu, luas dan sempit tidak akan ada.
Empati dan Kepekaan l Bagaimana keberpihakan a3834899rsitek terhadap bagian terkecil pembentuk wajah kota? Ada kah yang ingin menyentuhnya? Ruang nyata yang lain dimana di dalamnya terdapat batasan-batasan yang lebih kompleks. Dari mulai biaya hingga batasan yang paling puncak, yakni kepercayaan terhadap arsitek. “Jika ada dukun untuk apa menggunakan jasa dokter spesialis?”

Cermin diri Cermin Kota
Menyadari keberadaan diri dari apa yang telah terjadi. Adakah sesuatu yang dapat disumbang?. Tak perlu jauh berpikir, dimulai dari diri kita masing-masing. Adakah yang dapat kita sumbang untuk diri kita sendiri? Adakah yang dapat kita sumbang dari diri kita sendiri ke lingkungan? Adakah yang dapat lingkungan sumbang ke lingkungan yang lebih besar? Pertanyaan utama bukan apakah “diri” merupakan bagian dari lingkungan, namun lingkungan adalah bagian dari setiap “diri”. Dengan begitu setiap “diri” menjadi sel-sel baru yang ikhlas membantu lingkungan untuk jadi yang lebih baik.

Jakarta, apakah bagian kecil dari dirimu?

Sebuah Pencarian dan Sampai Pada Kekosongan
Memahami satuan terkecil tentang orisinalitas. Jujur dalam berproses dan menyadari jika kemajuan zaman justru menghambat proses menuju keaslian itu sendiri. Kemajuan teknologi justru berimbas pada seni tempel-menempel ide, tempel menempel gaya, dan lain sebagainya dengan arsitektur sebagai objek tunggal. Waktu dan kesadaran diri menjadi penting ketika “mencari”.

Bagaimana Arsitek meniada dalam arsitekturnya, Bagaimana material diolah, disusun menjadi sebuah ruang, antar ruang dihubungkan menjadi sebuah tempat, dan Sang Arsitek melebur di dalamnya. Konon pada tingkat yang paling indah ini sudah tak ada kata. Dimulai dari material, berakhir pada immaterial.
Masih ada yang belum tuntas dalam tulisan ini. Silahkan temui hal-hal itu. Jangan terbesit untuk mencari sesuatu yang nyentrik mengenai arsitektur. Buku ini sama sekali tidak memamerkannya, karena buku ini adalah buku yang mengajak.

11-12-2015
Wendi Isnandar

kontributor perpustakaan Rujak 2015.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *