Plastic Straw even for Water? Are We Drinking or Sucking?

Plastic straw at Penang Bistro, Jalan Kebon Sirih, Jakarta

Text and Photo by E.Sutanudjaja and M. Kusumawijaya.

An unnecessary “new” habit is being introduced everywhere: plastic straw, even for drinking water.  It is not even necessary to use plastic straw to drink anything, as a matter of fact. Would you like to talk to any restaurant’s manager whenever and wherever you find it? Perhaps speaking softly, but convincingly, not to patronise, but just to suggest, that we, as consumers do not really need, let alone appreciate, it?

We might even lose the word “to drink”, as we are changing to “to suck”.  So far, wine and beer are safe from the straw. So, we do not need to yet change the expression “Let’s go for a drink” to “Let’s go for a suck”.

Jika kita pergi ke restoran dan memesan minuman, sering sekali dijumpai pihak restoran mengirimkan minuman kita dilengkapi dengan sedotan. Malah untuk tempat-tempat tertentu, kita bisa mengambil langsung sedotan, karena kebetulan sudah tersedia di hadapan kita.

Sedotan dengan bahan dasar plastik, tentunya hanya sekali pakai, dan setelah itu dibuang. Sedotan mungkin memiliki dimensi kecil, namun jika dikalikan dengan jumlah restoran dan rumah makan di Jakarta atau kota-kota lain yang menggunakan dan menyediakan sedotan, maka jumlah itupun menjadi luar biasa.

Kata “minum” malah akan kehilangan makna, karena kita menjadi “menyedot”?

Pertanyaanya, perlukah kita minum dengan menggunakan sedotan?

2 thoughts on “Plastic Straw even for Water? Are We Drinking or Sucking?

  1. Felix says:

    Sebenarnya kita lahir degan kebiasaan menyedot (asi) ya? jadi memang memiliki naluri untuk minum dengan cari “menyedot” mungkin.

    Saya menikmati minum dengan sedotan walau tidak semua minuman cocok diminum menggunakannya. Permasalahannya mungkin memang di bahan dasarnya. Setahu saya Muji melalui kompetisi yang karyanya juga terinspirasi dari kehidupan zaman kuno menggunakan sedotan dari bahan dasar batang gandum kalau tidak salah. Mungkin produk tersebut salah satu solusi.

  2. Marco Kusumawijaya says:

    Sedotan dengan bahan bio-degradable boleh juga! Apakah Felix tahu siapa produsen-nya? Menyedot akan cenderung memasukkan minuman langsung ke bagian belakang/dalam mulut, padahal minuman sebaiknya dinikmati perlahan di dalam rongga mulut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *