
Umumnya kita mengeluhkan para politisi dan pejabat yang dipilih melalui pemilu atau pilkada. Mereka memang sasaran kemarahan atas negeri yang bergeming di dalam ketertinggalan dan bergumul dalam kebusukan.
Tetapi mereka sebenarnya berganti tiap lima tahun.
Sedangkan yang “tetap”, terus menerus berhubungan dengan warga sehari-hari, adalah para birokrat. Dan, mayoritas mereka bekerja sudah lama sekali di dalam bagiannya masing-masing. Mereka hampir tidak bisa dipecat. Mereka tahu banyak hal dari pengalamannya. Mereka seharusnya mampu menerka masalah apa yang akan terjadi –banjir atau macet– jauh hari sebelumnya, menyiapkan pilihan-pilihan kebijakan, dan membuka mata para politisi, pejabat terpilih, tentang keputusan yang harus diambil dan program yang harus dijalankan.
Karena itu birokrasi seharusnya mendapatkan perhatian lebih banyak dari warga.
Interaksi warga-birokrasi ini tidak sederhana, sebab ada banyak beban pasca-kolonial dan pasca-Suharto, sementara Orde Baru berubah rupa tapi tetap hadir dengan beberapa watak buruknya. Selain itu, ada beban-beban baru pula: perubahan yang menjadi imperatif karena keadaan global. Memang kita dapat berpikir sederhana dan lurus, bahwa para politisi-lah yang wajib bertugas mengubahnya. Dan, mungkin benar, apabila ada “political will” maka birokrasi dapat berhasil dirombak sebagaimana ditunjukkan di beberapa negara seperti Singapura dan Korea Selatan.
Tetapi, ternyata pengalaman warga menunjukkan kebengalan sikap, kualitas, kompetensi dan kelambanan yang mencengangkan. Memang benar, di hampir seluruh dunia, hampir selalu pelayanan birokrasi pemerintah selalu lebih “buruk” daripada pelayanan swasta. Tetapi, bagaimana pendapat Anda tentang pelayanan birokrasi di Indonesia? Kami sajikan beberapa pengalaman pada sarian berikut sebagai bahan diskusi dalam rangka mencari cara memperbaiki: SPBU dan Protes Warga dan Warga dan Lika-liku Perijinan
Foto:
Atas: http://media.vivanews.com/images/2011/07/22/117141_birokrasi.jpg
Bawah: http://deandeon.files.wordpress.com/2011/06/birokrasi.jpg

Raja dan kasim.
Wow… tulisan ini seolah membuka mata saya…
Jangan melulu menyalahkan politisi…
Ternyata sebuah kebobrokan juga berasal dari birokrat…
Betul sekali politisi berganti tiap 5 tahun dan seharusnya itu sudah cerminan pilihan masyarakat.
Jangan melulu menganggap politisi gagal… tapi justru kebengalan para birokrat yang seharusnya harus dibenahi lebih dulu…
Salut buat tulisannya Pak Marco..
Salam
Ivan Prakasa