Praktik Seni  Dan Pengorganisasian Rakyat

Praktik Seni  Dan Pengorganisasian Rakyat

Dalam rangka kegiatan 5th Urban Social Forum Desember 2017 bertempat di Bandung, setidaknya telah memantik imajinasi kita untuk mengetahui bagaimana menyadarkan masyarakat untuk terlibat dalam sendi-sendi kehidupan kota. Melalui tema “Aspirasi dan Transformasi Sosial Perkotaan Lewat Urbanisme Warga” yang diikuti oleh para penggagas ide diantaranya seperti gagasan kota sosial dari Muhammad Zul Qisthi dari Rujak Centre for Urban Studies, Dadan Wirahadikusuma dari Gres Institute Bandung dalam mengembangkan perencanaan partisipatif,. Nico Permadi dari Sinau Art Cirebon mencoba mengaitkan antara kegiatan budaya dan seni sebagai wadah pengorganisasian rakyat dan Tia Subekti selaku dosen Universitas Brawijaya Malang memberi pemaparan mengenai pentingnnya modal sosial dalam rangka pengorganisasian rakyat.

Menurut Dadan bahwa dalam melakukan pengoganisasian kepada warga, perencanaan partisipatif menjadi hal utama, karena perencanaan partisipatif mengandaikan keterlibatan warga dalam proses perencanaan untuk menentukan suatu proses serta hasil dari suatu kegiatan. Hal serupa juga diungkapkan oleh Tia Subekti bahwa modal sosial merupakan model pengembangan masyarakat yang aspiratif dalam menciptakan transformasi sosial kehidupan warga kampung.

Menurut Tia Subekti bahwa Fenomena di Malang misalnya telah memberikan gambaran bagaimana menerapkan pengembangan masyarakat yang partisipatif melalui modal sosial. Karena pada dasarnya prinsip kerja modal sosial meliputi berbagai aspek diantaranya pertama, membangun kepercayaan, dan kedua, menciptakan hubungan timbal balik antar masyarakat. Kenyataannya bahwa saat ini kepercayaan kerap menjadi masalah yang serius, di tambah banyak problem yang telah melunturkan konsep kehidupan modal sosial. Sehingga kenyataan ini telah menjadikan hilangnya ruang sosial antar warga.

Lebih lanjut, Tia memaparkan bahwa fenomena di Malang dengan adanya konsep hunian “perumahan” yang setidaknya juga telah merubah pandangan dan makna masyarakat untuk melihat makna sesungguhnya hunian dan kehidupan lingkungan serta dampaknya terhadap terciptanya partisipasi warga dalam menjaga kelestarian lingkungan sosial mau pun hunian mereka.

Selain itu kerap kali konsep perumahan meleburkan nilai-nilai sosial yang terbangun diantara warga. Pada dasarnya kampung memiliki definisi hunian yang terbangun melalui ruang-ruang sosial partisipatif melalui pertemuan antar warga untuk menumbuhkan rasa saling memiliki dalam menumbuhkan modal sosial diantara warga. Oleh karena itu lingkungan dan hunian setidaknya mampu memberikan pemahaman tentang interaksi sosial.

Dalam proses perencanaan partisipatif mau pun proses menciptakan modal sosial di antara warga, problem yang kerap timbul ialah keterlibatan dan partisipasi warga itu sendiri. kenyataan ini juga sudah menjadi tantangan semua pegiat masyarakat dalam memberdayakan warga kampung untuk mengembangkan lingkungan dan warga itu sendiri. kesemua problem itu membutuhkan kreatifitas serta ide yang berbeda. Maka menurut Nico dari Sinau Art ide dan kreatifitas itu bisa berangkat dari banyak hal, salah satunya memanfaatkan elemen kebudayaan dan seni sebagai upaya “mengintervensi warga” agar mau terlibat dan beraprtisipasi dengan sendirinya.

Sinau Art melalui event Jagakali Art Festival mencoba mengembangkan gagasan seni dan budaya sebagai elemen penggerang partisipasi dan aksi masyarakat agar sadar menjaga lingkungan serta melakukan aksi penataan lingkungan dengan proses modal sosial serta rencana partisipatif tanpa harus memaksa masyarakat itu sendiri, akan tetapi menciptakan parptisipasi dengan sendirinya melalui peran budaya dan seni.

Praktik berkesenian kami tidak mencoba mengintervensi masyarakat untuk menjadi bagian dari kami, ketika kami masuk kampung kita mencoba berpikir potensi apa yang dapat digali di sebuah kampung untuk dikembangkan. Oleh karena itu kebutuhan serta potensi warga menjadi point penting bagi kami. Kemudian kita mencoba menentukan asset lingkungan yang dapat dikembangkan dan didorong untuk memikirkan mengenai potensi tersebut. Dari sinilah kolaborasi dapat dimungkinkan terjadi. Tutur Nico.

Pengalaman kami di festival Art jagakali telah memberi gambaran bagaimana unsur budaya dan seni dapat menjadi pendorong gerakan rakyat, terutama dalam kegiatan lingkungan. Bagi kami hal terpenting adalah bagaimana membuat warga ramai dan mau berkumpul melalui kegiatan seni, dan dari situlah kita coba memediasi serta mencoba mengorganisir warga. Lanjut Nico.

Sebenarnya banyak cara untuk membangun partisipasi publik, bahkan bisa dimulai dengan hal-hal sepele dengan tujuan untuk mengumpulkan orang bahkan dengan kegiatan bersenang-senang. Karena ini merupakan upaya kita untuk memahami dan masuk kedalam kehidupan warga. Tutur Qisthi

Lebih lanjut menurut Qisthi bahwa kalau kita mengumpulkan orang langsung membahas perihal sampah, misalnya secara kaku kemungkinan dalam waktu 10 menit mereka akan bubar tanpa ada aksi. Oleh karena itu mengorganisir warga memerlukan cara yang efektif dan efisien dengan melakukan pendekatan pemahaman karakter warga. Karakter sangat terkait dengan entitas kebudayaan suatu masyarakat. misalnya kegiatan Jagakali Art Festival dengan melakukan semacam ritual, tari-tarian dan aktifias berkesian merupakan strategi kebudayaan dalam melakukan pengorganisasian warga. Begitu pun halnya seperti masyarakat Aceh misalnya, karena sebagian besar penggemar kopi, maka dengan cara mengajak ngopi dengan evet kopi bersama-sama akan mampu membuahkan kesadaran berkumpul dan melakukan pengorganisasian masyarakat. sehingga pemahaman terhadap karakter dapat menjadi ide bagi kreatifitas pengorganisasian.

Kegiatan Diskusi Panel Kegiatan Urban Social Forum Desember 2017 di Bandung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *