Press Release: 1st International Field School on Kampung Akuarium

Penulis : Aulia Rizky Safirah. Mahasiswa Sosiologi. Universitas Negeri Jakarta

Kali ini Rujak Center for Urban Studies bekerja sama dengan Kyoto University mengadakan 1st International Field School pada Kampung Akuarium. Acara yang diselenggarakan dari tanggal 10 sampai 16 September 2018 ini diikuti oleh sebanyak 20 peserta yang terdiri dari warga Kampung Akuarium, mahasiswa Kyoto University, dan beberapa mahasiswa yang berasal dari berbagai bidang ilmu seperti arsitektur, planologi, desain interior, geografi, dan sosiologi. Para peserta kemudian dibagi ke dalam empat kelompok dengan memperhatikan pada keberagaman latar belakang bidang tersebut. Hal ini dimaksudkan agar hasil dari lokakarya ini, yang berupa ide atau gagasan dari para peserta untuk warga Kampung Akuarium dalam membangun kampung mereka kembali melalui program Community Action Planning ini tidak datang hanya dari satu atau dua perspektif ilmu saja, melainkan diharapkan akan menjadi kolaborasi dari banyak kalangan dalam mendesain usulan untuk masa depan Kampung Akuarium.

Kegiatan dimulai dengan penyampaian kuliah umum dengan tema On Temporarity di hari pertama oleh Prof. Kiyoko Kanki dan Elisa Sutanudjaja. Kuliah umum yang dihadiri oleh 48 orang peserta yang terdiri dari peserta lokakarya dan umum ini diselenggarakan di ruang audio visual Museum Sejarah Jakarta. Selanjutnya para peserta lokakarya internasional diarahkan untuk pergi ke Historia, sebuah restoran yang berlokasi di kawasan Kota Tua untuk makan siang dan pemberian pengarahan mengenai tujuan lokakarya dan apa saja yang akan mereka lakukan dalam satu minggu ke depan. Kemudian, para peserta dibagi menjadi empat kelompok dengan satu sampai dua peserta dari Kampung Akuarium di tiap-tiap kelompok. Acara dilanjutkan ke diskusi kelompok sebelum para peserta berkeliling di sekitar kawasan Kota Tua, kawasan Kali Besar, dan sekitar jalan menuju Museum Bahari Jakarta dengan bantuan penjelasan dari Ardhina Rosa Delima, seorang relawan untuk kelompok kerja lokal di Destination Management Organization Kota Tua hingga akhirnya sampai di lokasi Kampung Akuarium. Setelah beristirahat sejenak, para peserta dengan dipandu oleh warga kembali menyusuri Kampung Akuarium yang terdiri dari tiga komplek shelter sementara, kompleks A, B, dan C.

Pada hari kedua para peserta dihimbau untuk datang lebih awal yaitu tepat jam 8.30 pagi untuk dapat berkeliling menggunakan perahu dari Kampung Akuarium. Para peserta diajak mengelilingi laut serta melihat pelabuhan Sunda Kelapa, Pantai Marina, sampai Ancol. Setelah kembali ke Kampung Akuarium, perjalanan dilanjutkan ke beberapa kampung sekitar yang masuk ke dalam Komunitas Anak Kali Ciliwung yaitu Kampung Lodan, Kampung Tongkol, dan Kampung Kerapu. Disana para peserta dapat mempelajari tentang keunikan berkampung dan usaha-usaha mereka dalam mempertahankan kampung dalam situasi sulit. Para peserta pun juga diajak mengunjungi bangunan historis yaitu gudang tua peninggalan zaman penjajahan yang berlokasi tepat dibelakang Kampung Tongkol. Gedung tua yang bertuliskan ‘Major Massie’ di depannya ini sudah difungsikan sebagai gudang sejak tahun 1652 dan kini bangunan dan tembok kompleks gudang tua tersebut masih berdiri dengan tampilan eksterior yang sudah dimakan zaman. Bangunan bersejarah yang berdekatan dengan Kampung Tongkol ini diharapkan dapat menjadi cagar budaya yang berkesinambungan dengan kehidupan warga kampung.

Gedung Tua peninggalan zaman kolonialisme yang sekarang kosong

Di hari berikut yaitu hari ketiga, para peserta berkumpul di ruang auditorium Museum Bahari Jakarta yang terletak tidak jauh dari Kampung Akuarium. Di bangunan yang dahulunya dijadikan sebagai gudang rempah-rempah VOC ini, para peserta berdiskusi dengan kelompok masing-masing untuk memilih topik atau tema dan menuangkannya pada presentasi sementara yang akan disampaikan oleh tiap kelompok. Pada siang harinya, para peserta berkunjung ke Cagar Budaya Tempat Pelelangan & Pasar Ikan Jakarta yang dikenal sebagai pasar ikan tertua di Batavia yang berlokasi di dekat Kampung Akuarium. Pasar ikan pertama kali dibangun pada tahun 1631 dan merupakan area pasar dan pelelangan ikan selama masa pemerintahan Hindia Belanda. Setelah direvitalisasi, gedung Cagar Budaya Pasar Ikan ini juga memamerkan beberapa benda bersejarah, yaitu komponen-komponen asli pasar dan lantai asli pasar ikan yang dapat dilihat dari atas lantai kaca.

Presentasi sementara peserta lokakarya di Auditorium Museum Bahari

Di hari keempat, tanggal 13 September, Yuli Kusworo dari Arsitek Komunitas Jogja menyampaikan  materi mengenai ‘Pembangunan Berbasis Komunitas, Belajar dari Kota Gede’. Kota Gede memiliki beberapa situs warisan budaya, yaitu sebagai daerah cikal bakal berdirinya Kerajaan Mataram Islam, lalu terdapat akulturasi budaya Hindu, Islam, dan Jawa, terdapat pengrajin perak dan perhiasan buatan tangan berkualitas tinggi disana, dan memiliki kekayaan di bidang arsitektur dan pola pemukiman. Pemetaan komunitas pun dilakukan di Jagalan, yakni sebuah kampung yang dianggap mewakili kekayaan Kota Gede oleh kelompok pemuda Jagalan bersama Arkomjogja demi mencari tahu mengenai pusaka khas Jagalan. Dengan mengumpulkan informasi geografis dan demografis terkait daerah dan penduduk setempat selama enam bulan, kampung Jagalan dapat memromosikan kekayaan budaya yang ada di kampung mereka dan Kota Gede dalam kegiatan ‘Jagalan Tlisih’ atau penjelajahan Jagalan. Warga Kampung Akuarium yang menyadari bahwa kampung mereka berada di kawasan strategis yang kaya akan peninggalan sejarah dan budaya berharap jika Kampung Wisata menjadi tema kampung mereka nantinya. Diharapkan untuk kedepannya kampung dan cagar budaya dapat hidup berdampingan tanpa melakukan perusakan kepada salah satu dari mereka.

Pada hari kelima, masing-masing kelompok mendiskusikan kembali gagasan mereka yang sudah mendapatkan umpan balik dari Prof. Kanki dan Bu Elisa. Mereka pun mulai menuangkannya pada materi-materi yang sudah disediakan. Kelompok satu dengan ide ‘Taman Bermain Anak untuk Masa Depan’, kelompok dua yang berfokus pada lingkungan merencanakan pemuatan taman vertikal sebagai solusi dari lahan yang tidak subur dan sketsa rumah dengan sirkulasi udara karena shelter yang kini ditempati tidak memiliki sirkulasi udara yang baik, kelompok tiga dengan ide pembuatan ‘Balai Pemimpi’ untuk menampung beberapa aktivitas warga kampung, dan kelompok empat yang merencanakan pembuatan dermaga apung. Proses diskusi dan penggambaran ini berlangsung dari pagi hingga siang hari di Auditorium Museum Bahari dilanjutkan dengan jalan-jalan bersama di sekitar Museum Bahari dan Menara Syahbandar dengan panduan oleh pemandu wisata dari museum hingga sore hari. Esoknya, para peserta berkumpul di Kantor Rujak Center for Urban Studies yang bertempat di Cikini untuk menyiapkan kembali desain dari ide-ide mereka. Hasil dari desain ini nantinya akan dipresentasikan ke warga Kampung Akuarium sebagai masukan untuk ide mereka dalam membangun kembali kampung mereka. Selain fokus pada kelompok masing-masing, beberapa peserta terlihat saling melihat proses kelompok lain dan saling bertukar pendapat. Proses persiapan presentasi ini berlanjut hingga malam hari dan adapula beberapa peserta yang menginap di Kantor Rujak.

Para peserta lokakarya berfoto bersama di Museum Bahari Jakarta

Di hari terakhir, sebelum jarum jam mengarah ke jam 10 pagi, terlihat para peserta lokakarya dan warga Kampung Akuarium sudah banyak yang berkumpul di samping Paud, tempat presentasi publik dari lokakarya internasional ini akan diadakan. Hasil desain dari tiap-tiap kelompok pun sudah tertempel rapih di atas dinding putih. Akhirnya presentasi pun dimulai oleh kelompok satu sebagai pembuka dan berurut sesuai nomor kelompok. Setelah presentasi dari kelompok terakhir ditutup, barulah sesi pertanyaan dari warga dan umum dibuka. Para warga menyambut ide-ide yang dituangkan kelompok dalam desain dengan baik, bahkan banyak dari mereka juga ingin melanjutkan ide-ide tersebut kepada pemerintah sehingga dapat direalisasikan dan difasilitasi di Kampung Akuarium dalam program CAP ini. Sebelum menutup acara presentasi publik dan lokakarya internasional pada Kampung Akuarium, Prof. Kanki dan Bu Elisa pun memberikan beberapa patah kata mengenai kesan mereka dari kegiatan lokakarya ini dan harapan untuk Kampung Akuarium yang sedang dalam proses perencanaan CAP. Setelah acara ditutup, banyak dari peserta lokakarya termasuk peserta dari Kyoto University bersama warga Kampung Akuarium ikut menghadiri Peringatan Peristiwa Rapat IKADA di Monumen Nasional.

Elisa Sutanudjaja dan Prof. Kiyoko Kanki dalam presentasi publik hasil Lokakarya
Internasional Pertama pada Kampung Akuarium

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *