Simulasi Proses Desain Partisipatif Warga Kampung Akuarium Dalam Merencanakan Kampungnya bersama Kyoto University

Penulis : Ana Tria Purnama. Mahasiswa Sosiologi. Universitas Negeri Jakarta

Setelah melakukan kegiatan International Field School selama kurang lebih satu minggu dan melalui proses yang cukup panjang. Kegiatan ini menghasilkan beberapa usulan desain yang disesuaikan dengan kebutuhan warga Kampung Akuarium. Pada kegiatan tersebut dilakukan diskusi kelompok serta presentasi yang menjelaskan proses terbentuknya desain apa yang sesuai dengan konteks berkehidupa nmasyarakat Kampung Akuarium difasilitasi oleh profesor yang berasal dari Osaka University yakni Prof. Kiyoko Kanki. International Field School dibagi menjadi 4 kelompok dengan komposisi mahasiswa jurusan sosiologi, planologi, desain interior,dan arsitektur dari Jepang dan Indonesia serta masyarakat dari Kampung Akuarium itu sendiri. Kelompok pertama terdiri dari Andi Sahrul, Tomoyo Kosaka, Adam M.Prana, Jefferson Edmund, dan Rizky Pujianto. Kelompok kedua terdiri dari Rohman Muslim, Marina Ohashi, Aulia Rizky Safirah, Fahmi Idris, dan Theodore Sutiswan. Kelompok ketiga terdiri dari  Nahdah Rullyani, Asmiati Azis, Takahiro Yamaji, Ana Tria Purnama, dan Rosalinar A. Gueci. Sedangkan kelompok empat terdiri dari Musdalifah,Hirota Ota, Andre Woolgar, Siti Nurdiyana, dan Inten Gumilang.

Salah satu presentasi kelompok mengenai desain yang ditawarkan

Pembahasan desain yang ditawarkan oleh kelompok satu yakni kampung ramah anak untuk masa depan. Desain ini sebenarnya lebih tertuju untuk anak anak, karena untuk sarana dan prasarana di kampung akuarium masih kurang untuk anak-anak, dan berkaca dari lokasi kampung sendiri yang dekatdengancagar budaya dan tempat wisata, agar Kampung Akuarium bisa berkolaborasi dan terintegrasi dengan sekitarnya. Dari segi desain perumahan dibuat dengan mempertimbangkan keselamatan, kenyamanan dan keunikan rumah tinggal warga. Desain bangunann yaitu dibangun dengan keunikan dimana di gang-gangnya tidak hanya jalan lurus, tetapi dibentuk zig-zag, dan lebar gang nyakurang lebih 3-5 meteran, jadi ada ruang diantara rumah rumah, dan disetiap rumah memiliki “meeting point” atau tempat berkumpul.

Area terbuka yang ada disisi bangunan itu sebisa mungkin dibuat ramah dengan anak-anak, sehingga sepanjang jalan itu ada semacam bukit-bukit kecil untuk anak-anakbermain, sedangkan sisi yang lain juga bias dipakai untuk berjualan makanan-makanan kecil, desain lain yang ditawarkan yakni berkaitan dengan “sun roof” yang terbuat dari jarring nelayan yang sudah dimodifikasi dan ditambah kain-kain warna warni, pedestrian juga diberikan pohon-pohon supaya suasana agak lebih teduh. Akan ada pelabuhan mini yang gunanya untuk parker kapal kapal kecil yang biasa dipake untuk tour wisata bahari. Untuk jangka panjangnya, akan dibuat jalur wisata yang terhubung dari KotaTua, ke Kampung Akuarium, Kampung Luar Batang, Pelabuhan Sunda Kelapa, Pelabuhan Muara Angke , dan lainnya.

Panel Presentasi Kelompok 1

Pembahasan desain kelompok kedua dengan tema tema besar Environment Design. Fokus terhadap peningkatan kualitas lingkungan, dengan beberapa desain yang di buat. bersumber dari observasi serta permasalahan yang di paparkan oleh salah satu warga Kampung Akuarium, kelompok ini coba merencanakan penataan kedepannya.Ada beberapa desain yang dibuat mengenai beberapa hal yakni pertama, desain sirkulasi udara yang akan membantu setiap ruangan memiiliki suhu yang nyaman, dan mendapatkan paparan cahaya matahari yang cukup. Kedua,desain struktur jarak antar rumahdari satu rumah ke rumah lain sebaiknya memiliki sedikit jarak agar terjadinya sirkulasi udara di lingkungan hunian. Ketiga, desain struktur posisi rumah bentuk dimana bangunan sebaiknya memiliki ruang terbuka untuk masuknya sirkulasi dan juga bisa di gunakan sebagai vertical garden. Keempat, vertikal  garden dapat difungsikan sebagai penghijauan, juga dapat ditanami sayur atau buah yang bisa dikonsumsi sendiri oleh warga Kampung Akuarium. Kelima, penghijauan area kampung akuarium penghijauan penting dilakukan, tujuannya untuk menahan teriknya matahari, juga dapat digunakan sebagai alternatif resapan hujan, penghasil  oksigen untuk lingkungan Kampung Akuarium. Keenam, sistem drainase yang baik diharapkan bisa membuat lingkungan Kampung Akuarium aman dari genangan air hujan, ataupun ancaman naiknya air laut dimasa mendatang.

Panel Presentasi Kelompok 2

Sedangkan desain yang ditawarkan oleh kelompok tiga yakni mengenai meeting hallyang diberi nama Balai Pemimpi. Penjelasan mengenai balai pemimpi itu sendiri yaitu dimana balai ini digunakan untuk kegiatan yang bermanfaat dan menyatukan ide para warga Kampung Akuarium. Kegiatan yang dapat dilakukan didalamnya antara lain  untuk bermusyawarah, TPA (Tempat Pendidikan Al-Quran) dan untuk pusat kegiatan warga. Selain itu Balai Pemimpi bisa menjadi gedung serba guna untuk acara pernikahan dan arisan. Halaman dari Balai Pemimpi ini bisa pakai untuk taman bermain anak-anak, mengadakan pasar kaget untuk masyarakat, dll. Lokasi bangunan sendiri ditaruh ditengah Kampung Akuariun diantara pemukiman warga. Dibangun didekat Masjid agar bisa menjadi tempat beribadah untuk perayaan hari besar. Mayoritas warga di Kampung Akuariun beragama islam.

Panel Presentasi Kelompok 3

Kelompok empat menawarkan desain yang berbeda dengan kelompok sebelumnya. Kelompok empat ini membuat desain dermaga yang dibutuhkan oleh warga Kampung Akuarium ada beberapa hal yang dipertimbangkan dalam diskusi kelompok, mereka membuat perencanaan dari jangka pendek, menengah dan panjang. Perencanaan itu didukung oleh beberapa isu yang dibahas yakni mengenai persampahan, produksi ikan asin, dan aktivitas nelayan. Sebenarnya desain ini sangat membantu masyarakat untuk pembangunan dermaga agar aktivitas warga yang berkaitan dengan laut dapat terbantu. Terlebih lagi di Kampung Akuarium sendiri belum tersedia darmaga.

Panel Presentasi Kelompok 4

Presentasi ini diikuti oleh warga Kampung Akuarium dengan metode partisipatif, dimana setelah para kelompok selesai mempresentasikan desainnya warga diharapkan bisa memberikan masukan ataupun tanggapan. Ada beberapa warga yang setuju dengan desain yang kami berikan dengan pertimbangan hal tersebut menjadi kebutuhan penting dari warga Kampung Akuarium itu sendiri.

Masyarakat yang berpartisipasi dalam kegiatan diskusi

Dalam kegiatan International Field School ini mengajarkan kita semua perihal perancangan desain bersama para mahasiswa multidisiplin. Metode yang digunakan dengan sistem partisipatif dimana warga terlibat dalam proses pembuatan desain sesuai dengan kebutuhan mereka, adanya peran aktif warga dalam memberikan masukan menghasilkan  usulan desain yang mencangkup rancangan jangka pendek, menengah dan panjang sesuai dengan isu yang ada di Kampung tersebut. Metode ini sangat baik bagi komunitas itu sendiri. Tak hanya itu keterlibatan sudut pandang antar disiplin ilmu dalam segi pembangunan sosial juga menjadi komponen penting dalam pemberian masukan dan pembangunan.  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *