Transit Oriented Development untuk Jakarta: Agenda Penataan Ruang atau Transportasi?

 

Penulis : Jihan Nabila Arifin & Danang Azhari . Mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh November & Mahasiswa Institut Teknologi Sumatera  . Jurusan Perancangan Wilayah Perkotaan

Jakarta sebagai ibu kota negara yang juga merupakan pusat kegiatan di daerah metropolitan Jabodetabek menjadi salah satu wilayah tersibuk di Indonesia. Namun, Kesibukan tersebut tidak berimbang dengan sarana transportasi publik yang belum terintegrasi. Oleh karena itu, perlu adanya sistem transportasi yang terintegrasi yang dinamakan TOD. Berbagai pemangku kebijakan baik dalam bidang transportasi ataupun penataan ruang sudah banyak membicarakan konsep TOD ini. Namun, semua pihak berjalan sendiri bagai tanpa koordinasi sehingga tidak adanya sinergi antara sektor transportasi dan tata ruang dalam implementasi dari TOD ini.

“TOD haruslah memanfaatkan ruang baik itu di udara, permukaan tanah maupun di bawah tanah yang aman dan manusiawi serta memuliakan pejalan kaki, dengan mengembangkan Kawasan Transit yang tidak diperbolehkan ada kendaraan.” Menurut Danang Priatmojo, Pengajar fakultas Teknik jurusan Arsitektur, Universitas Tarumanegara pada Forum Group Discussion TOD yang dihadiri oleh wakil pemerintahan, perguruan tinggi, komunitas, perusahaan, perorangan serta media yang ikut melansir pembicaraan pada 9 Juli 2018 lalu di Aula Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Pemukiman Provinsi DKI Jakarta.

Danang Priatmojo juga menyebutkan bahwa seiring dengan perkembangan indonesia, pertumbuhan Kota Jakarta dipacu oleh kehadiran jalan raya. Diperkirakan pertumbuhan Kota Jakarta ini akan mengalami perubahan, dan akan dipacu oleh Transportasi umum berbasis Rel yang ada di Jakarta yaitu MRT dan LRT yang kemungkinan akan mengubah peta poly centre Jakarta. Dengan adanya perkembangan tersebut, ada beberapa dampak TOD yaitu salah satunya akan terjadi peningkatan intensitas penggunaan lahan di kawasan TOD dan peluang pengembangan baru.

Slogan “Enjoy Jakarta” seharusnya dapat dirasakan oleh penduduk Jakarta itu sendiri. Tetapi jika dilihat dari permasalahan transportasi ini, bagaimana kita bisa merasakannya? Jika ada pertanyaan kenapa Jakarta sampai saat ini belum bisa menerapkan TOD seperti di negara lain, menurut Danang Priatmojo alasannya yaitu karena desain yang tidak maksimal, perilaku masyarakatnya, dan kesediaan perencana kota.

“TOD merupakan jawaban dari lifestyle” tutur Hari Ganie, selaku wakil ketua umum DPP REI. Saat ini karakter generasi milenial salah satunya ingin serba instant dan cepat kemana-mana. Maka dari itu Hari berpendapat bahwa pengembangan vertical housing lebih efektif daripada landed housing di area sekitar TOD. Tetapi dalam pelaksanaan pembangunannya terdapat ketidakonsistenan dalam pemberian perizinan, batasan kawasan dan peruntukannya yang tidak jelas juga mempengaruhi  perizinan. Tidak jelasnya kepastian hukum dan Koordinasi yang belum baik, dan hanya antar-sektoral saja. Menurut Harie, Proyek terkait TOD juga harus dilelang agar semua pihak diharapkan dapat ikut terlibat dan mempunyai kesempatan. Karena selama ini swasta tidak dilibatkan.

Sementara itu, Elisa Sutanudjaja dari Rujak Center For Urban Studies memberikan sebuah inovasi atas permasalahan TOD di Jakarta yaitu mengembangkan TOD dengan memanfaatkan potensi yang sudah dimiliki Jakarta dan masyarakatnya yaitu kampung. Mengapa kampung? Karena menurut Elisa, sejak zaman dulu kampung dekat dengan transit dan sumber daya. Kampung di jakarta sendiri memiliki ke-khasan tersendiri karena mempunyai kreatifitas dalam menyelesaikan permasalahannya, swadaya, dan kebersamaan yang tinggi. Jika TOD dapat diterapkan di Kampung, Hal ini akan menjadikan penggerak bukan hanya dalam pergerakan, namun juga ekonomi, sosial, dan budaya. Jika dibandingkan melalui kepadatan antara kampung dan juga distrik TOD yang ada di Asia, kampung sudah melalui persyaratan. Pernyataan Elisa ini didukung oleh ITDP yang menyatakan bahwa Kampung mempunyai potensi dalam TOD, baik dalam kepadatan dan juga walkability. Maka dari itu perlu adanya strategi dan arahan di Rencana tata ruang yang lebih jelas untuk Kampung kota di Jakarta sehingga dapat mengembangkan Kampung Improvement Program yang berbasis rendah emisi, berserta intensif.

Terdapat perbedaan pendapat oleh Jehansyah Siregar, Staff ahli Menteri PUPR yang mengatakan bahwa TOD merupakan agenda bagi tata ruang, bukan hanya merupakan agenda transportasi. Diperlukan suatu konsep penataan kota dalam menerapkan TOD. Dalam mewujudkan TOD, perlu adanya perencanaan pembangunaan tata ruang yang terpadu

TOD di Jakarta akan lebih efektif dan efesien jika diterapkan pada kawasan padat permukiman dibanding dengan kawasan elit. Karena penggunaan publik transportasi mayoritas dibutuhkan oleh kawasan yang kepadatannya tinggi dibanding di kawasan elit yang rata-rata lebih memilih untuk menggunakan kendaraan pribadi. Maka dari itu TOD pada kampung merupakan inovasi yang tepat, namun perlu adanya peninjauan kembali dan evaluasi. Indonesia harus banyak melihat dari praktik TOD pada luar negeri yang berhasil diterapkan karena antara transportasi dan pusat kegiatannya sudah terintegrasi. Maka dari itu penerapan konsep TOD di Jakarta haruslah berdasarkan atas koordinasi yang baik antar penataan ruang dan juga transportasi di Jakarta.

 

berikut terlampir link presentasi dari acara tersebut :

Kampung TOD-RUJAK

TOD 9 Juli_edit

Danang Priatmodjo – Dampak Ketataruangan Pembangunan TOD

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *