The first TEDxGreenJakarta on the eve of the Earth Day. Wednesday, April 21, 2010, at 6-9 pm, Time Out Building, Jalan Pangeran Antasari 19. See you there!
Posts Tagged ‘Architecture’
19 Apr 2010
TEDxGreenJakarta
15 Apr 2010
Healthy Movement in Architecture
Sebagai negara tropis, indonesia mempunyai salah satu sumber daya alam yang berlimpah. Sumber daya alam tersebut adalah kayu. Keberagaman sumber daya alam yang ada di Indonesia seharusnya membuat kita menjadi kreatif tetapi juga tepat dan tajam dalam mengeksplorasinya.
Jika kita menilik arsitektur etnik yang ada di Indonesia maka jelas terlihat bahwa kekreatifitasan dan kekritisan tersebut telah ada pada mereka. Masyarakat yang masih membangun arsitektur etnik ini lebih jujur dan peka dalam menanggapi apa yang terjadi d sekitar mereka. Oleh karena itu apa pun teknologi yang mereka kembangkan selalu berkesinambungan (sustainable).
Kayu karet sejak tahun 70-an telah dikenal dan digunakan sebagai bahan baku berbagai industri, salah satunya adalah industri furniture. Kayu karet tergolong kayu kelas II setara dengan kayu hutan alam seperti kayu ramin, perupuk, akasia, mahoni, pinus, meranti, durian, ketapang, keruing, sungkai, gerunggang, dan nyatoh. Walau mempunyai potensi positif, Kayu Karet masih belum dimanfaatkan dan dikenal secara optimal dan meluas terutama dalam ranah arsitektur.
Melalui kegiatan ini kami ingin mencapai dan menggapai kedua hal tersebut. Kami ingin mencoba memperlihatkan potensi lain dari kayu karet melalui eksplorasi desain arsitektur. Dengan potensinya tersebut kami merasa kayu karet dapat juga menjadi komponen inti arsitektur yang berestetika baik. (more…)
01 Apr 2010
Summer School for Sustainable Design
Summer School for Sustainable Design will take place between the 30. August and the 4. September in Germany, in a cloister very close to Cologne.
The initiators are: Wuppertal Institute (www.wupperinst.org), ecosign (Academy for ecologic design, www.ecosign.net), Folwang University (www.folkwang-uni.de/), Luzern University (i.a.).
You can find information about the last Summer School here: http://www.designwalks.org/
We are looking for a lecturer, that could run/lead the workshop “Urban Creative Lifeworlds”, that will take place on September, the 1st. in the frame of the Summer School.
If you have an idea about someone, who can combine theoretical competences with practical experiences in this field, please contact me: Every information is welcome.
***
Urban Creative Lifeworlds
The first cities were founded about 5000 years ago. Since then, cities are functioning as centers of cultural, economic and creative growth. The sizzling urban lifestyles however grow in the urban peripheries, within flexible and informal networks. Throughout the 19th century, urban development was closely linked to industrialization; the last decades of deindustrialization however are a challenge for many cities like the former US-motor city Detroit or the urban Ruhr region (“Ruhr Metropolis”). At the same time this challenge can be a chance for a sustainable development of cities – and peripheries. Participation, networks and creativity are decisive factors for such challenges.
The “Ruhr Metropolis” adjacent to our venue, is a model for these structural changes of urban lifeworlds; remarkable efforts have been made to face the challenges. This is why it has been rewarded as Europe’s Cultural Capital for 2010, following the maxim “Culture through Change, Change through Culture”.
There are, however, still many questions to be answered: How can the social and economic problems be transformed into new and more sustainable solutions? What is labour, what is leisure, what is a citizen in the post-industrial age? How can creativity be enhanced? How can we take advantage of the creative forces of urban peripheries? What are the perspectives of urban life in the future?
Our workshop will develop new concepts of urbanity, and creative solutions for future sustainable lifeworlds. Just the appropriate challenge for sustainable designers! The workshop will provide you with diverse perspectives from theory to real-life projects. We will go five steps to gain results:
1. Analyzing urban living environments and discussing their structures, urban phenomena and problems, artificial and natural environments, culture and nature, creativity and transversality, and looking at the city as a system depending on interaction with its ecological, social, cultural, and emotional environment.
2. Immersing into a real-life project of turning a normal urban environment into a creative lifeworld to explore new and sustainable ways of lifestyles, urbanity and creativity, opening altogether new and different perspectives.
3. Providing you a space for your creativity to shape new ideas, and to apply the theoretical and practical insights to your personal experiences and backgrounds. You will shape visions of new and sustainable urban lifeworlds.
4. Discussing and evaluating your ideas and sketches, thinking about consequences and requirements. This will be the real-life-test for your ideas.
5. Presenting your work results to the other workshops and discussing them with the whole summer school group.
01 Mar 2010
Crossing Bridges – The Work of the Architect In Contemporary Multicultural Society
Under the Patronage of the Embassy of Italy, the Italian Institute of Culture in Jakarta presents “Crossing Bridges: The Work of the Architect in Contemporary Multicultural Society”. A talk on the role architecture can play in building identities and shaping the space of a peaceful and multicultural coexistence, introduced by a filmed interview to the Italian architect Paolo Portoghesi presented by Arch. Avio Mattiozzi.
“Architecture is a vision of the world”, Renzo Piano
Presentation will be held: Date : Tuesday, 02 March 2010
Venue : Istituto Italiano di Cultura Jakarta
Jalan HOS. Cokroaminoto 117, Menteng – Jakarta Pusat
Time : 16.00 – 18.30
Istituto Italiano di Cultura Jakarta
Tel. 021 3927531-32
Open for public
19 Jan 2010
Undangan Seminar: “Sustainable Urbanism and Its Challenges to Civil Society.”
Hari/Tanggal : Jumat/5 Februari 2010
Pukul : 14:00
Tempat : Aula The Japan Foundation Jakarta
The Japan Foundation mengundang anda untuk hadir dalam acara Ceramah Kebudayaan yang akan diberikan oleh mantan ketua Pengurus Harian Dewan Kesenian Jakarta, bapak Marco Kusumawijaya.
Beliau baru saja kembali pada bulan Desember 2009, dari kunjungan dua bulannya ke Jepang atas undangan the Japan Foundation dan International House of Japan. Dari hasil kunjungan tersebut, beliau mendapatkan banyak tambahan pengetahuan dan wawasan yang menarik dalam bidang kebudayaan dan kesenian, yang hendak ia bagi kepada orang-orang di Indonesia.
Acara Ceramah Kebudayaan ini adalah untuk membagi hal-hal yang ia lihat dan dapatkan di Jepang, yang ia harapkan dapat menambah kaya wawasan kebudayaan di Indonesia
Hadir mendampingi beliau adalah dua orang pakar sebagai berikut:
- Dr. Bachtiar Alam, Antropolog dan Direktur Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM) Universitas Indonesia.
- Latipah Hendarti, Ph.D Students Ecological Economy, Department of Forest Sciences, Seoul National University.
Acara ini gratis dan terbuka untuk umum. Untuk pendaftaran dan informasi lebih lanjut, silahkan hubungi Dipo di (021) 520 1266.
Tempat terbatas!
Profil Singkat Marco Kusumawijaya
Marco Kusumawijaya, Ketua Pengurus Harian Dewan Kesenian Jakarta saat ini, adalah seorang arsitek yang juga aktif dalam bidang tata kota, pelestarian lingkungan hidup, seni, dan pembangunan berkelanjutan. Beliau diundang pada bulan September hingga November 2009 yang lalu ke Jepang, dalam Asia Leadership Fellow Program yang diselenggarakan oleh the Japan Foundation dan Intenational House of Japan.
15 Sep 2009
Apa arti rumah?

Apakah definisi rumah? Apakah itu berarti sebuah bangunan dengan alamat yang tertera dalam KTP masing-masing? Atau sebuah tempat dimana kita menghabiskan sebagian besar waktu, entah itu tidur atau bermain? Atau tempat yang penuh dengan memori dan keluarga? Atau hanya tempat kita tidur, dan esok pagi bertolak pergi ke tempat lain?
Apakah berarti tempat yang kita kunjungi satu tahun sekali setiap libur raya?
Mari renungkan arti rumah? Munkinkah rumah tak hanya lagi berarti kelompok-kelompok ruang yang terdiri atas ruang tidur, ruang keluarga dan ruang makan? Toh cafe, lounge, restaurant mampu menjadi pengganti ruang-ruang itu?
Sementara ada warga-warga yang menghabiskan waktunya di kota lain yang bukan domisilinya, seperti hasil survey disini. Apakah dengan demikian rumahnya adalah tempat dia menghabiskan banyak waktu?
Jakarta pun demikian. Kota yang pada malam hari berjumlah sekitar 8 juta penduduk, sedangkan siang harinya hampir berlipat ganda. Kota dimana warganya dapat tinggal berdampingan dengan kereta api disaat bersamaan ada yang berdomisili di kaki langit. Ada juga yang terus mendeskripsikan ruang-ruang tinggal itu, seperti eksplorasi arsitek-arsitek muda ini. Lalu bagaimana dengan anda?
Apakah rumah itu?

Foto oleh Dita Wisnuwardani
15 Sep 2009
Ketika Ruang Tinggal Dipertanyakan
Melalui utopia arsitektur berhenti sebagai proyek rancangan pesanan individual. Ia ingin berpikir ‘menyempurnakan’ masa depan semua. Ia menjadi pemikiran. Ia menjadi alat kolektif membincangkan ideal bersama. Karena kota menjadi obyek yang tepat. Pada ruang kota, arsitektur berhenti menjadi alat pesanan pribadi, sebab ia harus menjadi alat kolektif (Marco Kusumawijaya, 2009)
Setidaknya kalimat diatas berulang kali dikutip, mulai dari undangan hingga pada saat pembukaan Pameran Workshop Arsitek Muda Indonesia yang bertajuk Ruang Tinggal dalam Kota. Pemikiran utopis inilah yang menjadi dasar materi pameran yang mempertanyakan ruang tinggal. Di saat ruang tinggal ditempatkan dalam kota, maka arti kata ruang tinggal tersebut bisa terdekonstruksi, berevolusi dan memiliki makna lain menjadi lebih dari sekadar bangunan di alamat KTP.
Ada banyak hal yang tersirat dan tersurat dalam 14 hasil workshop. Mereka berangkat dari fenomena, derita, kekinian, peluang, persepsi, definisi akan tinggal didalam kota. Tema akan kota dan ruang tinggal begitu dekat dalam keseharian. Di tangan para arsitek muda dan mahasiswa arsitektur, 14 proposal itu menjadi usulan yang unik, berani, sedikit naïf, penuh mimpi, idealis dan bersemangat. Namun bukankah itu yang diharapkan dari generasi penerus bangsa?
Kenyataan bahwa Jakarta adalah kota kontemporer menjadikan Jakarta sebagai isu favorit dalam workshop ini. Kekontemporeran Jakarta menjadi kota dan warganya yang selalu bergerak. Jakarta seakan meradikalkan mobilitas warganya, entah secara visual maupun fisik. Itulah yang menjadi isu proposal seperti: Mobile House, diDedikasikan untuk Komuter, metabolism of Jakarta city, ruang mimpi, dan ruang.waktu.tinggal.
Dua proposal pertama berkutat pada masalah waktu tempuh dari dan ke rumah tinggal. Mobile House pada akhirnya menyediakan struktur-struktur utama di berbagai penjuru Jakarta, sebagai sarang rumah-rumah untuk bermetabolis dan tinggal – memungkinkan rumah tersebut untuk berpindah tempat sesuai dengan kebutuhan. Seperti layaknya apartemen-apartemen di tengah kota, Mobile House mendekatkan jarak penghuni ke tempat aktivitas, hanya si penghuni dan unitnya dengan mudah berpindah tempat ke antero kota. Sementara diDedikasikan untuk Komuter adalah upaya untuk mengembalikan para komuter ke dalam kota dengan menempati ruang yang memang selama ini mereka tempati sepanjang perjalanan, yaitu Jalan Tol Dalam Kota. Proposal ini menggugat keberadaan jalan tol dalam kota yang tentu saja berlawanan dengan prinsip transportasi publik. Dan disaat bersamaan iapun menggugat kediaman (mobil) akibat macet di jalan tol, sehingga dalam kediaman adalah gerak itu sendiri. Mobil dianggap sebagai home in homelessness untuk jangka waktu tertentu di jalan tol itu.
Pergerakan dan mobilitas dapat dilihat juga seperti sistem metabolisme dalam tubuh manusia, setidaknya itu yang diutarakan oleh kelompok metabolism of Jakarta city. Didalam tubuh (kota) yang sehat, tentunya memerlukan aliran (pergerakan) yang sehat pula. Proposal ini seakan berupaya untuk menghilangkan kadar kolesterol dalam darah, seperti halnya mencoba menyehatkan pergerakan dan sistem yang terjadi dalam daerah Blok M.
Benturan antara pergerakan semu dan kediaman absurb muncul pada proposal ruang mimpi. Pergerakan yang muncul dari indahnya magnet kota, namun disaat bersamaan menyaring calon warganya, hingga terpaksalah warga menempati no-man’s land, dalam hal ini pinggir rel kereta api. Menjadikan kediaman tersebut sewaktu-waktu bisa digugat, tergusur dan berpindah ke tempat lain.
Ruang-ruang kota marjinal tak hanya berhenti sebatas pinggir rel kereta api, tapi bisa juga kolong jembatan dan bantaran kali. Bahkan untuk konteks kota Jakarta, jalur pejalan kaki pun menjadi ruang tak bertuan, seperti banyak yang terjadi di balik gedung-gedung kantor. Proposal ruang bayangan melihat ruang-ruang tersebut sebagai peluang yang dapat dikembangkan menjadi serial ruang tinggal.
Sementara ide akan kota sebagai hidup nomaden muncul dalam proposal ruang.waktu.tinggal. Dalam hal ini, hidup nomad adalah intermezzo. Mereka percaya bahwa ruang tinggal adalah segala sesuatu yang memiliki waktu kebersamaan dengan seseorang dalam kurun waktu tertentu. Berangkat dari konsep film The Terminal, berubah menjadi konsep arsitektural paradoks nomadisme, menjadikan waktu sebagai penentu desain, bukannya klien ataupun kebutuhan ruang. Seakan waktu yang dijual, dan kemudian dikemas dalam bentuk ruang.
Berlawanan dengan gugatan terhadap gaya hidup nomad, proposal ruang kembali justru memperlihatkan konsep kota dan ruang tinggal di masa lampau. Ruang tinggal kembali menjadi kediaman dalam arti sesungguhnya, yaitu sebagai rumah, tempat untuk berhenti total dari pergerakan – menjadi tempat untuk pulang.
Isu-isu populer seperti keberlanjutan (sustainability) pun muncul dalam beberapa proposal, seperti Tropical Capsule Bungalow, Linear City dan nenek moyangku seorang pelaut. Tropical Capsule Bungalow berangkat dari isu pembangunan di Bali yang cenderung merusak alam, maka dari situ lahirlah ide bungalow dengan bahan sampah daur ulang dan kemudian ditempatkan di lokasi terbengkalai sudut kota. Sementara Linear City berangkat dari konsep abad 19 akhir dengan nama yang sama. Proposal tersebut berusaha untuk mengkompakkan area Kuningan disepanjang jalan, dan lalu merelokasikan area-area lain di belakangan jalan Kuningan hingga berubah menjadi area konservasi dan preservasi. Tentu pembentukan dan luasan bangunan disepanjang Kuningan serta perbandingan lahan memakai perhitungan jejak kaki ekologis. Kenyataan akan perubahan iklim, buruknya lingkungan dan kerap rutinnya banjir melanda Jakarta, mendasari proposal nenek moyangku seorang pelaut. Dengan demikian, diharapkan warga Jakarta di masa mendatang mampu adaptif terhadap bencana yang kini menjadi rutinitas.
Kota Bandung turut menjadi inspirasi, terutama bagi 2 proposal yang berasal dari Bandung yaitu kota skala kita dan fashion, Bandung, arsitektur. Keduanya mengambil lokasi sama yaitu di Dago, namun berangkat dari pemahaman yang berbeda. Proposal pertama berupaya mengembalikan skala kota di sepanjang jalan Dago kepada manusia, dengan memberikan kekayaan dan kuasa ruang terhadap pejalan kaki. Kota skala kita melakukan pemisahan yang jelas dan mutlak antara pejalan kaki dan bukan. Sementara proposal kedua: fashion, Bandung, arsitektur, mencoba menarik benang merah antara mode dan arsitektur dengan mempertanyakan kemungkinan deskripsi ruang tinggal sebagai elemen (aksesoris) dalam kota. Aksesoris dalam busana terkadang bisa menjadi pelengkap pakaian bahkan penyatu, seperti halnya dengan menempatkan ruang-ruang kecil dengan tepat pada titik-titik kota tertentu. Mungkin sejalan dengan idealisme Coco Chanel: Fashion is no something that exists in dresses only. Fashion is in the sky, in th street, fashion has to do with ideas, the way we live, what is happening.
Dua proposal lain membahas keintiman antara tubuh dalam ruang. Blackout Architecture menggali akan kemungkinan jika perencanaan ruang tidak bergantung pada indera penglihatan. Bagaimana jika para perencana kota dan arsitek mulai juga memperhatikan indera-indera lain dalam merencanakan ruang. Blackout Architecture hadir dengan instalasi yang diharapkan mampu memberikan stimuli dan kepekaan indera. Rumah ini tidak untuk dijual, berangkat dari personalisasi rumah berdasar pemiliknya. Proposal ini seakan menjadi kritik terhadap tendensi komersialisasi, standarisasi dan industrialisasi rumah lewat produk developer.
Dan ruang tinggal pun beragam dan menggelitik. Ada beberapa hal yang menarik dari 14 proposal ini. Waktu menjadi krusial, karena dalam ruang tinggal unsur waktu sangat erat. Penolakan akan ruang-ruang yang steril dan tidak unik pun terjadi. Ada yang memperhatikan kaum marjinal kota dan ada pula yang bermimpi ‘hijau lestari’. Lalu bagaimana pemahaman anda terhadap ruang tinggal? Apa arti ruang tinggal bagi anda?
Pameran Workshop AMI 9-19 September 2009
Galeri Komunitas Salihara
Jalan Salihara No. 16
Pasar Minggu – Jakarta Selatan
Foto oleh Dita Wisnuwardani dan Kezia Paramita
Trailer Final AMI Ruang Tinggal Dalam Kota from wagionobustami on Vimeo.
allowscriptaccess=”always” allowfullscreen=”true”>
Trailer AMI Ruang Tinggal Dalam Kota from wagionobustami on Vimeo.














