Pantai Losari dulu dan saat ini: Perubahan Persepsi akan Ruang Publik

 

pantailosari2

Beberapa pedagang di Pantai Losari tampak bersiap-siap. Sore itu sepanjang pantai Losari sudah didatangi pengunjung. Beberapa Keluarga, anak-anak, dan anak muda yang bergerombol mulai mengisi ruang-ruang di anjungan Pantai Losari. Belum semua bagian dari anjungan selesai dibangun tetapi warga sudah memanfaatkan bagian yang sudah terbangun untuk beragam aktivitas, ada yang mengobrol sambil makan pisang Epe, sekelompok anak berlatih menari model K-Pop, anak usia balita bermain sepeda sewaan juga pasangan-pasangan muda yang asyik pacaran.

Menurut Willy Ferial yang lebih dikenal sebagai Opa, penyiar radio kawakan dari Makasar, pada  tahun 1960-an kawasan Pantai Losari belum dikenal seperti saat ini, sebagai lokasi wisata. Berkumpul bersama warga Makasar lainnya yang mengaku cinta kota Makasar seperti blogger, pekerja seni, mahasiswa, arsitek dan perancang kota, sejahrawan kota, arkeolog, penyiar radio dan akademisi, mereka berdiskusi tentang perubahan Pantai Losari.

photo

Opa yang menjelang usia 70 tahun ini menuturkan kisahnya tentang bagaimana kawasan Pantai Losari mengalami perubahan fungsi sejak periode 1960-an.  Dari apa yang diingatnya tentang Pantai Losari, pada saat itu, hotel tempat mereka berdiskusi merupakan Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Ada kebiasaaan bagi anak-anak kecil pada saat itu untuk membantu pabalalong (perahu ikan) yang datang ke TPI. Anak-anak menawarkan jasa untuk membantu nelayan menurunkan ikan dan membersihkan kapal. Untuk bantuannya tersebut, anak-anak mendapatkan upah berupa hasil tangkapan ikan. Selain sebagai tempat pelelangan ikan, ruang di sepanjang pesisir pantai juga dimanfaatkan warga sebagai kawasan buang hajat.  Pada periode yang sama juga, di kawasan Losari berdiri Pasar Senggol yang kemudian direlokasi karena dianggap menimbulkan kemacetan. Perkembangan yang terjadi kemudian adalah tren pemanfaatan ruang di sepanjang Losari oleh Pedagang Kaki Lima (PKL) pada periode 1980- 1990-an, yang kemudian juga direlokasi pada akhir 1990-an.
Pengembangan kawasan Losari menjadi kawasan wisata pantai, seperti saat ini, dimulai sejak akhir 1960 ketika Makasar dipimpin oleh Walikota Daeng Patompo (1962-1976). Visi yang saat itu diperkenalkan oleh Daeng Potompo adalah merevitalisasi kawasan pantai Losari menjadi seperti Waikiki di Hawai. Rencana revitalisasi kemudian diwujudkan oleh Walikota Makasar berikutnya. Upaya merevitalisasi pantai Losari semakin aktif dilakukan di era 1990-an. Upaya ini pun mendapatkan respon dari kalangan masyarakat sipil yang mengkritisi proses revitalisasi dikarenakan dampak sosial yang ditimbulkannya termasuk penggusuran atau relokasi PKL secara masif.

Respon tersebut, yang seiring dengan semangat reformasi, sedikit menahan laju pemerintah Daerah dalam mengembangkan pantai Losari. Baru pada awal tahun 2000 walikota berikutnya kembali merevitalisasi Pantai Losari.  Pada perkembangannya, revitalisasi pantai Losari dilakukan secara bertahap, dalam artian kadang berjalan dan berhenti tergantung ketersediaan dana di anggaran daerah. Di masa pemerintahan Ilham Arief Sirajuddin revitalisasi semakin menunjukkan wujudnya dengan keberadaan anjungan serta pembangunan masjid Apung.

Mesjid-Terapung1

 

Opa yang juga terlibat dalam rencana pengembangan Losari justru terheran-heran saat ini  khususnya tentang pemanfaatan anjungan sebagai ruang publik. Penggunaan anjungan sebagai tempat pertunjukan musik menurutnya tidak sesuai dengan keberadaan rumah sakit yang tepat berada di depannya. Begitu juga dengan pembangunan masjid Apung yang menurutnya tidak ada dalam perencanaan dan lebih menunjukkan  kepentingan pimpinan daerah akan penciptaan landmark atau proyek mercu suar, dibandingkan pemanfataan ruang publik untuk manfaat yang lebih besar.

Sejarah perubahan pantai Losari dimaknai oleh Dias Pradadimara, pengajar jurusan sejarah di Universitas Hasanudin sebagai pergeseran konsepsi terhadap ruang publik. Mulai dari yang melihatnya secara fungsional, sebagai tempat buang hajat, lalu berkembang menjadi ruang rekreasional hingga saat ini dikembangkan secara lebih masif sebagai ruang ekonomi. Menurutnya, yang menarik adalah bahwa perkembangan persepsi tersebut masih melihat ruang di sepanjang Pantai Losari sebagai ruang publik. Justru yang mengkhawatirkan dari perkembangan saat ini adalah adanya persegeran fungsi ruang-ruang di sepanjang pantai Losari juga ruang  tambahannya nanti melalui reklamasi pantai menjadi ruang ekonomi dalam skala masif yang akan mendorong lebih banyak terciptanya ruang-ruang privat, ketimbang ruang publik.

Ruang ekonomi dalam skala masif yang dibicarakan di atas terkait dengan rencana pembangunan Center Point of Indonesia (CPI) di sekitar Pantai Losari dan Tanjung Bunga, yang kali ini merupakan program dari pemerintah provinsi Sulawesi Selatan. CPI di sini dimaksudkan untuk menetapkan wilayah Sulawesi Selatan yang diwakili oleh Kota Makasar sebagai pusat Indonesia, Makasar sebagai titik tengah pembangunan Indonesia.

Di kawasan CPI, dengan luas total 600 hektar ini, nantinya akan dibangun pusat bisnis dan pemerintahan, kawasan hiburan, hotel hotel kelas dunia yang dilengkapi dengan lapangan golf dengan view ke laut lepas, hampir serupa dengan apa yang dibangun melalui rencana reklamasi pantai utara di Jakarta.

 

cpi_1

 

Menurut Elisa Sutanudjaja, ada perbedaan mendasar yang melatarbelakangi rencana reklamasi pantai di kota Jakarta dan Makasar. Untuk reklamasi pantai Jakarta,  ada persoalan besar terkait penurunan permukaan tanah yang berakibat pada ancaman tenggelamnya sebagian wilayah utara Jakarta dalam 15 tahun mendatang. Menurut Pemda DKI Jakarta, pembangunan Tanggul Jakarta, sekaligus reklamasi pantai utara Jakarta akan mampu mengatasi persoalan tersebut.

Sedangkan untuk Makasar, dari hasil diskusi, tidak terlihat persoalan mendasar yang mendesak pemerintah Kota Makasar dan Provinsi Sulawesi Selatan untuk menambah daratan di kota Makasar. Yang ada hanyalah ambisi untuk menjadikan kota Makasar sebagai titik tengah pembangunan Indonesia, dengan segala konsekuensi yang melekat yaitu ancaman kerusakan lingkungan dan dampak sosial.

 

Center Point of Indonesia 2

Dari rancangan  di atas, terlihat bahwa kawasan pantai Losari akan berubah menjadi teluk atau bahkan danau dan ini yang dikhawatirkan oleh peserta diskusi, yaitu dampak lingkungan dari pembangunannya baik terhadap wilayah sekitar pantai Losari maupun pulau-pulau kecil yang tersebar di sekitarnya. Belum lagi dampak sosial dalam hal ini nasib nelayan yang akan mengalami kesulitan dalam memperoleh hasil tangkapan karena perjalanan ke wilayah tangkapan ikan yang lebih jauh.

Fakta pengembangan ruang publik di sekitaran pantai Losari, termasuk reklamasi pantai menunjukan  bahwa ruang publik di kota Makasar saat ini menjadi panggung politik bagi pimpinan daerah, dalam hal ini Gubernur Sulawesi Selatan dan Walikota Makasar. Rencana pengembangan ruang publik diarahkan pada pembangunan landmark yang kemudian dijadikan sebagai bukti kepemimpinan. Lapangan Karebosi dan Masjid Apung di anjungan Pantai Losari merupakan salah satu contoh pembangunan landmark bagi Walikota Makasar dan CPI bagi Gubernur Sulawesi Selatan.

Peta rancangan CPI yang ditampilkan di atas bukan merupakan versi terakhir. Menurut Yulianti Tanyadji ada dua kali revisi atas rancangan di atas. Hal ini juga yang menjadi catatan penting bagi peserta diskusi. Bahwa selama ini seringkali dokumen rencana pembangunan yang sifatnya publik tidak bisa diakses oleh warga. Kalaupun warga memiliki dokumen tersebut, selalu ada bantahan dari pihak konsultan ataupun pemerintah bahwa itu bukanlah versi terakhir. Masyarakat kemudian dikejutkan dengan berdirinya bangunan tanpa konsultasi sebelumnya.

Membahas semua hal di atas, pada akhir diskusi peserta bersepakat untuk mengumpulkan lebih banyak pengetahuan tentang reklamasi di Pantai Losari. Selain itu, peserta juga sepakat untuk menggalang perhatian publik tentang perkembangan pantai Losari. Sebagai contoh adalah website makassarnolkm yang dikelola secara bersama dan membahas tentang kota Makasar.  Khusus di bulan ini, peserta sepakat untuk menjadikan pantai Losari sebagai tema isu dan mengundang masyarakat luas untuk berbagi cerita tentang pantai Losari. Diharapkan, ajakan ini dapat meningkatkan kepedulian masyarakat atas kebutuhan mereka bersama, ruang publik untuk warga kota.

 

One thought on “Pantai Losari dulu dan saat ini: Perubahan Persepsi akan Ruang Publik

  1. Pongpos says:

    >Great photos! I love the one caieopntd with Beach of south Ujung Pandang (Makassar), Sulawesi Selatan, Indonesia. It just looks like two different worlds meeting.^^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *