oleh: Robin Hartanto
Sampah
Ia adalah kata yang cenderung berkonotasi negatif. Ia menjadi ujung kegunaan sebuah produk, tidak lagi dibutuhkan, dan hanya satu tindakan diperlukan untuk mengakhiri hayatnya, membuangnya.
Padahal, membuang tidak pernah benar-benar membunuhnya. Perjalanan panjang masih menanti. Apakah ia akan dibawa bersama teman-temannya oleh sebuah truk, yang selalu dihindari orang-orang karena baunya yang amat menyengat, menuju tempat pembuangan akhir? Apakah ia lalu akan ditimbun di dalam tanah? Apakah ia akan diambil oleh para pemulung dan dibawa ke tempat daur ulang, untuk kemudian diproses hingga dapat digunakan kembali? Ataukah ia akan terbang ke sana-sini mengikuti kemana angin membawanya? Sampai tiba dirinya di aliran sungai yang akan membawanya menuju hilir dan mempertemukannya dengan lautan luas?
Kita tentu tidak peduli akan nasibnya. Yang kita perlu tahu hanyalah membuangnya, baik dengan cara yang sampahwi ataupun tidak. Ibarat mengubur orang mati atau biarkan saja orang itu tergeletak di jalan.
Maka ketika salah satu mantan calon gubernur Jakarta tercantik menebarkan jargon Mengubah Sampah Menjadi Emas di belakang bus-bus umum, kita cenderung menganggapnya angin lalu. Bagi warga Jakarta, macet dan banjir adalah masalah, apalagi dirasakan secara langsung sehari-seharinya oleh warga. Sementara sampah? Ya, jadi masalah pemerintah saja! pikir kita dengan cuek.
Padahal data-data yang dimiliki kota Jakarta cukup fantastis. Jakarta menghasilkan 6000 ton sampah per hari (2007). Volumenya sekitar 26000 meter persegi. Bisa membayangkan seberapa besar? Buku Kata Fakta Jakarta memberikan sebuah gambaran menarik. Dalam setahun, kita bisa memiliki 185 Candi Borobudur (volumenya sekitar 55000 meter persegi) baru yang dibangun dari sampah.
Dengan jumlah yang begitu besar, memang ada potensi apabila kita dapat menemukan cara memanfaatkannya. Beberapa inisiatif masyarakat yang tersebar di sekitar 1000 RT dan RW di DKI Jakarta patut diteladani. Dengan menggunakan prinsip 3R (reduce, reuse, recycle), mereka melakukan pemilahan sampah dan mengolahnya kembali. Tentu saja mereka bukan penyihir yang bisa mengubah sampah menjadi emas, tetapi mereka dapat mengubah sampah menjadi pupuk kompos atau biogas. Dengan begitu, mereka dapat mengurangi pekerjaan pemerintah hingga dua puluh persen.
Namun, memikirkan masalah sampah hanya pada tahap pengolahan akhir adalah paradigma yang perlu diubah. Hal tersebut hanyalah dapat mengurangi sampah, tanpa dapat benar-benar menyelesaikan masalah sampah secara menyeluruh. Solusi justru perlu dipikirkan pada tataran produksi, distribusi, dan konsumsi kita atas produk-produk yang sejatinya akan berujung menjadi sampah.
Melalui buku Cradle to Cradle misalnya, William McDonough dan Michael Braungart mencoba menawarkan perubahan paradigma tersebut pada tataran produksi. Dengan mengubah cara kita menciptakan sesuatu, kita dapat menghasilkan produk yang ramah lingkungan. Buku itu sendiri dibuat dari kertas sintetis dengan kualitas tinggi, tanpa memotong sebatang pohon pun, dan dapat didaur ulang tanpa menghilangkan kualitasnya.
Malah, terkadang kita tidak perlu teknologi canggih untuk melakukannya. Sesederhana dengan membawa tas lipat atau peralatan makan sendiri, kita dapat memberikan sumbangan besar terhadap masalah sampah dalam tataran konsumsi.
Tentu saja banyak lagi cara-cara yang dapat kita lakukan. Tetapi semua itu akan sia-sia saja tanpa aksi dari kita. Yang sejujurnya paling esensial kita perlukan adalah pengetahuan komprehensif serta inisiatif. Dan melalui diskusi-diskusi bermutu, saya percaya, kita dapat mendorong pemahaman dan inisiatif kita ke tingkat aksi.

