Rangkaian Studium Generale
Philosophy in the City
Dr. Karlina Supelli
Kamis, 20 Agustus 2009
Pukul 19.00 WIB
GoetheHaus Jl. Sam Ratulangi 9-15, Menteng, Jakarta Pusat; Tel. 021 235 502 08
KOTA DAN ALAM
A b s t r a k
Kota adalah gambaran kontras antara kebudayaan dan alam. Kota seolah-olah menjadi cermin bagi keharusan (imperatif) kebudayaan atas alam yang liar dan tidak terkontrol. Kendati merupakan ciri peradaban, modernisme membawa kota-kota tumbuh menjadi kawasan ambigu peradaban sekaligus ketidakberadaban. Kota dan alam menelusuri akar pemikiran yang mendua ini seraya mengetengahkan pandangan kota sebagai suatu sistem ekologis. Tantangannya adalah bagaimana memahami sistem ekologis, yang di satu pihak terbangun sebagai suatu kawasan fisik tetapi di lain pihak, yang fisik itu sudah terlebih dulu melewati penyaringan rumit kekuatan-kekuatan sosial dan ekonomi.
Dr. Karlina Supelli
Pengajar filsafat pada STF Driyarkara, Jakarta. Bidang riset: Astrofisika dan Kosmologi serta Implikasi Filosofisnya; Filsafat Ilmu; Sains dan Agama; Sains, Teknologi dan Masyarakat; Sains-Teknologi dan Industri; Feminisme. Tulisannya tersebar pada berbagai buku, jurnal ilmiah, majalah, dan surat kabar.
Latar belakang
Sebagai kota yang mengaku diri metropolis modern, Jakarta itu seakan-akan seperti mesin cuci. “Cari duit di situ, cuci duit di situ, cari nama di situ, cuci nama di situ, tempat cari onar pun di situ. Tapi setelah selesai ditinggalin!,” kata Mandra, pelawak, pemain sinetron, dan juga warga asli Jakarta. Kata sebagian besar warganya, Jakarta sudah gagal jadi tempat tinggal yang lebih baik bagi manusianya, begitulah penegasan Marco Kusumawijaya pada pengantar bukunya, Jakarta: Metropolis Tunggang Langgang. Pertanyaannya, seperti apakah kota yang baik itu? Apakah kota yang baik itu bisa direalisasikan ataukah hanya tinggal dalam ilusi konsepsi belaka?
Sejak manusia hidup bersama dalam sebuah lokasi yang tertentu dengan aturan dan kesepakatan bersama, pertanyaan-pertanyaan reflektif untuk menggali inspirasi konseptual perihal apa itu kota yang baik kiranya selalu berjalan seiring dengan usaha mengatasi problematika kota yang buruk. Sokrates dan Platon, dua filsuf Yunani kuno, misalnya, telah merefleksikan pertanyaan-pertanyaan tersebut untuk menemukan pemahaman yang berbeda perihal kota yang baik (kallipolis) dan kota sekawanan babi. Bila pertanyaan-pertanyaan tersebut tetap hidup di sekitar kita, apakah ini mengisyaratkan suatu kegelisahan bersama perihal sulitnya untuk merealisasikan apa itu kota yang baik?
Untuk itu, kami mengundang Anda untuk menghadiri Studium Generale Philosophy in the City yang diadakan Goethe-Institut Jakarta bekerjasama dengan Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, Jakarta, untuk merefleksikan apa itu kota yang baik dalam kaitan masalah kerja, budaya, kata, harta, dan alam.
