Ibadah di Jalan, Setelah 65 Tahun Merdeka

Ulos melindungi batik

Ibadah di ujung Jalan Silang Selatan Lapangan Monumen Nasional tg 15 Agustus siang, meskipun dilaksanakan dengan tata cara HKBP, diikuti sekitar 500 orang berbagai agama. Hadir antara lain Djohan Effendi, mantan Menteri Sekretaris Negara di masa Presiden Gus Dur dan Eva Sundari (PDIP). Bagaimana mungkin sebuah kota dapat hidup kalau kerukunan dalam perbedaan tidak dapat dijamin?  Ada punya jawaban?

Panas dan hujan, tetap berlangsung.
Hujan, orasi tetap berlangsung.
Kewajiban Konstitusional Presiden
Bendera kita merah putih semua. "Kita merdeka untuk memerdekakan semua suku bangsa dan agama," orasi pendeta
Mencoba berunding dengan poiisi, akhirnya memutuskan ibadah di sini, tidak di depan istana.

4 thoughts on “Ibadah di Jalan, Setelah 65 Tahun Merdeka

  1. Evi Douren says:

    Duh, foto ke-3, dua orang yang menutupi kepalanya dengan ULOS BATAK berwarna kemerahan membuatku pilu…. Orang Batak hanya membawa ulosnya ke acara penting….

  2. widya wijayanti says:

    kementerian agama yang harus bangun dari tidurnya yang berkepanjangan dan turun dari buaian tidak masuk akalnya. yang menggaji menteri dan stafnya kan rakyat ind yang agamanya bermacam-macam, termasuk yang tidak beragama? kalau ada perusakan dsb oleh kelompok agama lain, ya mestinya polisi bertindak tegas.

    gangguan thd tetangga atau lingkungan sekitar kalau ada sekumpulan orang beribadah atau akan menjalankan ibadah harus diredefinisikan. pengendalian audio harus berlaku untuk semua.

  3. gindo yamestian says:

    menyedihkan memang, kita yang sudah 65 tahun berulang tahun, tapi belum merdeka juga. hakekat merdeka sudah bergeser mungkin, atau pembesar negri ini belum sadar.
    kebebasan beragama sudah melekat disetiap individu, kenapa selalu tidak bisa dijamin negara yang kita cintai ini.

    tapi berbahagialah jadi yang terpinggirkan, karena membuat mereka lebih termotivasi untuk maju

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *