Bersuara Dalam Seni

Diskusi kali ini adalah moment untuk merayakan kegiatan yang menjadi satu rangkaian dalam pameran bertema “Narasi Tumbuh” bersama Urban Poor Consortium (UPC), Rujak Center for Urban Studies, Heterogenic dan JIPfest yang terselenggara tanggal 04 Juli 2019 di ruang pameran Rujak Center for Urban Studies. Kegiatan diskusi kali ini mengangkat tema “Gali kampung” yang menjadi representasi bahwa kampung adalah tempat tumbuhnya pengetahuan dan narasi yang dapat digali.

Para pemateri diskusi hadir dari beragam perspektif dan latar belakang, seperti Eni Rochayati misalnya, yang memberikan perspektif tentang pengorganisasian rakyat dalam menuntut hak-hak dasar yang kerap hilang di tengah hiruk-pikuk perkotaan. Sementara Syamsudin Ilyas memberikan gambarannya mengenai bagaimana dirinya dapat membina dan membentuk kelompok jurnalis cilik di kampung-kampung kota dan bagaimana tantangan yang dihadapi. Sementara Tugabus Rachmat dan Afrizal malna memberikan perspektif seputar seni dan warga kampung kota.

Siang itu diskusi dibuka oleh pertanyaan tentang bagaimana para narasumber berkesenian bersama warga. Sebuah awal yang menarik untuk mengetahui proses narasumber dalam berkesenian bersama warga. Sebab,  pameran yang bertemakan kampung sebagai identitas kota ini, bukan hanya sebagai pameran kesenian, namun juga mengemas aktivitas warga kampung untuk menyalurkan narasi baik tentang kampung ataupun aktifitas warga kepada  masyarakat luas. `

‘’Saya lahir di Cilincing, saya bersyukur lahir di tempat yang dulu banyak pohon kelapa, tempat saya bermain disana, hari berganti saya begitu bebasnya bermain hingga sekarang ruang ruang itu berganti menjadi ruang yang banyak disekat oleh tanggul- tanggul utara, kini anak-anak memiliki keterbatasan dalam menikmati ruang bersama.’’ ujar Ilyas mengawali jawabannya.

Menurut Ilyas, kegiatan berkesenian bersama warga bukan lagi hanya soal hubungan dengan warga semata. Namun, pengalaman internal dengan dirinya sendiri di waktu kecil menjadi dorongan kuat hingga hari ini terus berjibaku dengan kelompok jurnalis cilik di kampung-kampung kota, keresahan ini pula yang menjadi dorongan Ilyas saat menggagas komunitas jurnalis cilik.

Anak-anak kita ajarkan bagaimana memotret dan menarasikan secara sederhana dan bagaimana mereka harus jujur melihat fakta, namun hal terpenting dari kegiatan ini adalah anak-anak dapat menangkap pesan penting sebagai seorang jurnalis cilik. Ia manambahkan bahwa keberhasilan dalam berkesenian bersama warga tidak dilihat dari hasil seni tersebut. Namun, sejauh apa keterlibatan kita dengan warga tercipta.

Proses terpenting adalah bagaimana menciptakan wadah kepada warga untuk berkolaborasi mengembangkan keenian bersama warga. “mereka punya definisi mereka sendiri dalam berkesenian, angle mereka sendiri, jadi tidak mungkin kita mengajari mereka tentang cara melihat kesenian, yang mereka butuhkan adalah wadah untuk berkesenian itu’’,ujar Affrizal

Penuturan yang sama pun disampaikan Eni Rochayati  ‘’ini ketiga kalinya telah diadakan pameran tentang kampung kota, umumnya kita menampilkan kondisi ekstrem tentang bagaiamana kemiskinan ditengah kota ini benar-benar ada, kami juga adalah pelaku seni, banyak sekali aktivitas kesenian yang kami lakukan, bagaimana kami berteriak, bagaimana kami bermanis-manis untuk meminta keadilan bahwa orang miskin juga punya hak. Saya berharap pameran ini tidak berhenti disini’’ Ujarnya.

Menurut Affrizal Malna bahwa bagi warga kota kesenian bukanlah pencitraan. Makna kreativitas dan pencipataan yang  melekat pada kata seni tidak menjadi tepat apabila dimasukkan kedalam sudut pandang warga kampung kota.

’’pendekatan yang dilakukan secara personal dahulu, kita harus bisa membuat warga merasa nyaman dahulu, menjadikannya teman dan mendapatkan kepercayaan warga’’ ujar Tubagus, namun ia juga menegaskan terkait kejujuran dalam berteman merupakan kunci memberi kenyamanan kepada warga.

Menurut Affrizal Malna bahwa makna kesenian itu sendiri ialah aktivisme, kesenian adalah kegiatan,  sehingga makna seni ini akan cocok dengan pengertian seni adalah sebuah upaya berkolaborasi dan berkegiatan bersama warga kampung kota, lalu Affrizal meninggalkan sebuah tanda tanya penyadaran pada akhir pernyataan nya, tentang siapa yang harus membangun ruang seni itu sendiri.

Berbicara tentang definisi kesenian bagi warga kampung, hal ini juga tidak terlepas pada pameran kesenian tentang kampung kota yang seringkali terbingkai dengan cara meromantisasi dan mengekspolitasi kemiskinan, Affirzal berbagi cerita tentang cara memandang kemiskinan, kampung kota dan seni.

Definisi kemiskinan yang ia tawarkan lain dan jauh dari pengertian yang hanya melihat permukaannya saja ‘’kemiskinan itu penting, kemiskinan sebuah manajemen,kemiskinan itu bukan sesuatu yang memalukan tapi juga suatu cara untuk mendapatakan pengandaian lain, pengandaian baru untuk mengatasi realitas itu sendiri, mungkin kita diprovokasi oleh sebuah bayangan hidup yang kita anggap manusiawi, kita harus mempertanyakan ulang apasih hidup yang manusaiwi itu?’’ Tutur Affrizal Malna.

Bahwa mungkin saja medium yang tepat untuk melihat kemiskinan di kota dimana seringkali kemiskinan dianggap sebagai ancaman bukanya sebagai investasi masa depan, adalah dengan cara masuk kedalam, melihat dengan kacamata warga miskin kota. Bagaimana berbagi nafas seni itu langsung dari dalam. ‘’kesenian bukan lagi menjadi bersifat eksternalisasi namun internalisasi’’ Ujar Affrizal malna sambil menutup diskusi

Penulis: Annisa Windahasanah, Mahasiswa Arsitektur, Universitas Brawijaya, Malang.

Ikuti tulisan menarik Anisa lainnya klik disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *