Bilang Saja Sejujurnya Bahwa Kamu Tidak Suka Orang Miskin Agar Kita Bisa Melanjutkan ke Hal yang Lebih Penting

Gang Tuna Wisma di Los Angeles

Tulisan Oleh Olsen, H.B.

Diterjemahkan oleh Aditya Wicaksono

 

Untuk bisa menghilangkan reaksi kognitif terhadap kemiskinan yang terlihat, kita harus mengakui adanya bias pada diri kita. Dalam berbagai literatur sosiologi mengenai kemiskinan, ada banyak hasil penelitian mengenai dampak kemiskinan terhadap kemampuan otak. Stres, malnutrisi, dan paparan terhadap polusi yang ada di lingkungan miskin (Contohnya seperti krisis air bersih di Flint atau polusi udara di sekolah yang berada dekat jalan tol) memiliki dampak neurologis yang serius kepada penduduk di area tersebut.

Akan tetapi, salah satu dampak yang kurang dipelajari adalah dampak kemiskinan-Jika melihatnya, mengetahuinya, memikirkannya-terhadap otak individu yang tidak berkekurangan.

Aspek ini bisa dikatakan sebagai salah satu aspek yang cukup penting, terutama jika pemerintah berusaha untuk mengurangi kesenjangan ekonomi dan tunawisma. Persepsi akan kemiskinan (dan kemungkinan persepsi akan kelangkaan) memiliki dampak yang cukup besar pada cara kita berpikir, bertindak, berpolitik, dan membuat kebijakan. Sayangnya kita sering mengabaikan aspek tersebut.

Hal ini terlihat jelas dalam rapat komunitas mengenai pembangunan hunian terjangkau atau rumah singgah untuk tunawisma. Pada saat seperti ini banyak warga yang mengaku peduli atau prihatin tapi memulai opini mereka dengan kalimat “Saya peduli kepada tunawisma! Benar-benar peduli! Tapi…” lalu mengakhiri kalimat tersebut dengan ungkapan yang menunjukkan bias tak berdasar kepada masyarakat miskin.

“…saya takut angka kejahatan akan naik”

“…kenapa kita harus membayar rumah untuk mereka?”

“…mereka hanya akan merusaknya”

“…bagaimana saya bisa menjelaskan hal ini kepada anak-anak saya?”

Sentimen ini-yang menganggap tunawisma sebagai kriminal, freeloader, atau orang-orang yang akan merusak anak mereka-tidak mendasari argumen mereka dengan berbagai studi. Mereka juga mengabaikan situasi kompleks yang dimunculkan oleh aspek status sosio-ekonomi. Mereka mengambil argumen tersebut dengan mengaitkan kemiskinan dan kelangkaan yang akan mendorong individu berbuat apa saja sebagai mekanisme untuk bertahan hidup.

Seperti bias implisit yang terjadi pada aspek ras, gender, ukuran, dan berbagai perbedaan lainnya. Data penelitian serta berbagai bukti yang ada di lintas komunitas menunjukkan satu hal, melihat kemiskinan dan mempersepsikan kelangkaan menciptakan bias bagi masyarakat yang tidak miskin. Akan tetapi, seperti diskriminasi terhadap ras dan gender, reaksi kognitif bukanlah alasan untuk mempercayai bias tersebut.

Semakin cepat mereka yang memiliki kapital, baik sosial maupun harfiah, untuk melawan bias ini semakin cepat kita bisa menutup kesenjangan ekonomi melalui jalur legislatif, aksi langsung, dan intervensi.

Jadi hari ini saya berlari di sepanjang Jalan Burke Gilman dari 55th Ave NE dekat Sandpoint Way, 10 mil ke arah Ballard. Saya melihat banyak perkemahan dan sampah yang menumpuk. Bagian kolong Jembatan Ballard bisa dibilang paling bersih dibandingkan sekitarnya karena adanya pagar yang menutup. Namun, masih ada sampak yang tergeletak di balik pagar jadi penyapu jalanan tidak sepenuhnya membersihkan tempat itu.

Saya melihat murid-murid TK di area antara Fremont dan Ballard berjalan bersama pengasuhnya di Burke setelah melewati sekelompok pria muda (yang tampak sehat), dan udara di sekitar mereka beraroma ganja. Beberapa tenda kecil berdiri di sabuk hijau yang berada di samping perairan. Lalu saya melihat perkemahan besar yang berdiri di petak segitiga hijai antara jalan yang saya lalui dan lapangan parkir Fred Meyer.

Saya terlah hidup di sini lebih dari 20 tahun dan berpuluh-puluh kali berlari di Burke. Melihat hal seperti ini sangatlah menjijikan. Pria muda yang sehat tidak bekerja dan malah menghisap ganja, serta jumlah sampah yang dibuang begitu saja di ruang bersama kita. Saya berusaha mengajarkan kasih sayang kepada anak-anak saya, tapi terkadang hal tersebut rasanya kurang dan tindakan yang baru harus diambil. Sekarang.

Testimoni tipikal dari seorang anggota kelompok “tetangga” di Seattle yang sering menolak pembiayaan untuk rumah terjangkau, up zoning (perubahan zonasi), dan berbagai solusi untuk tunawisma.

Otakmu pada kemiskinan yang terlihat

Anda mungkin sering berpikir kemiskinan yang terlihat, seperti perkemahan di sekitar jalur sepeda, akan memicu respons yang lebih lembut dari individu bertempat tinggal. Anda justru salah.

Penelitian menunjukkan bahwa semakin meningkatnya kemiskinan terlihat akan menghasilkan peningkatan kesenjangan ekonomi. Mereka yang berkecukupan, dalam kasus ini, tidak sedermawan dan serendah hati untuk menolong ketika mereka melihat kemiskinan yang dimiliki oleh masyarakat miskin.

Saya percaya bahwa hal ini berkaitan dengan persepsi akan kelangkaan dan pemahaman bahwa ekonomi kita adalah zero-sum game. Maksudnya adalah jika masyarakat miskin tiba-tiba menjadi tidak miskin mereka akan mengambil atau mengincar benda milik kita dan harta kita mungkin akan berkurang.

Hal lain yang mendukung tindakan tersebut adalah asumsi bahwa jika seorang individu merupakan bagian dari masyarakat miskin, mereka pantas untuk menjadi orang miskin. Mereka, secara fundamental, pasti berbeda dengan diri kita. Jika tidak, sebenarnya tidak ada jawaban jelas kenapa mereka miskin dan kita tidak.

Seperti perempuan yang melihat (dan mengasumsi) pria yang tidak cacat tinggal di tenda, banyak individu dengan tempat tinggal membuat keputusan atau asumsi yang terlalu cepat mengenai orang-orang miskin yang mereka lihat. Dalam waktu yang singkat tersebut, dia menentukan (dalam pikirannya) status pekerjaan mereka, kemampuan untuk menemukan kerja yang memenuhi kebutuhan, status disablitias, dan banyak lagi.

Perempuan yang berjalan ini tidak tahu apa yang sebenarnya para pria ini kerjakan, padahal bisa saja mereka baru menyelesaikan kerja malam dan sedang beristirahat. Faktanya, hasil statistik dari Kota Seattle tentang tunawisma lokal menunjukkan bahwa lebih dari 40% memiliki pekerjaan dan 20% lainnya tidak mampu untuk bekerja.

Dia juga mungkin tidak tahu apakah pekerjaan tersebut akan mampu untuk memenuhi hidup seseorang di Seattle. Studi yang dilakukan oleh Koalisi Nasional untuk Rumah Tangga Berpendapatan Rendah menunjukkan bahwa di Washington, satu orang membutuhkan gaji sekitar $27 per jam untuk bisa membayar apartemen dua kamar sederhana. Gaji minimum di Seattle adalah $15 dan gaji keseluruhan dalam satu negara tersebut memiliki titik tengah mendekati $22 per jam.

Adanya fakta umum bahwa seluruh orang di Seattle merasakan himpitan pajak properti yang meningkat, pasar kerja yang menyempit, meroketnya biaya kesehatan, dan pasar perumahan yang sangat tidak terjangkau, tidak mendorong perempuan ini untuk berpikir “Mereka pasti korban dari kebetulan” Dia langsung melihat berpikir “Menjijikkan”

Reaksi ini bisa dikatakan cukup umum. Faktanya, respons terhadap stimulus yang sama bisa dilihat melalui scanning otak. Dalam bukunya, Mind Over Money, psikolog Caludia Hammond menjelaskan berbagai studi yang melihat reaksi kognitif terhadap gambar secara spesifik. Dikutip dari bukunya:

Beberapa bukti yang cukup kuat adalah hasil pemindaian otak yang diambil di Universitas Princeton pada 2006 oleh neuroscientists Lasana Harris dan Susan Fiske. Mereka memindai voluntir dan menunjukkan mereka foto berwarna yang menunjukkan individu dari berbagai kelompok sosial. Beberapa terlihat jelas merupakan orang kaya (Seperti pebisnis dalam setelan mewah, sementara ada penampilan individu lain yang sangat terlihat miskin.

Saat pada voluntir melihat foto-foto tunawisma, dua pertiga dari mereka mengaku bahwa reaksi pertama mereka adalah rasa jijik-yang menarik sekaligus cukup mengganggu hati. Hal yang menarik Harris dan Fiske adalah aktivitas yang ditunjukkan oleh otak.

Hasil pemindaian otak menunjukkan bahwa ketika para voluntir melihat foto orang kaya, medial prefrontal cortex menjadi aktif. Hal ini sejalan dengan studi sebelumnya yang menunjukkan bahwa area ini yang akan aktif ketika kita melihat seorang manusia. Kasarnya, komponen abu-abu menunjukkan pesan yang berbunyi ‘Ini adalah spesies yang sama’ dan mengatakan bahwa kita harus berhubungan dengan benda di depan kita selayaknya kita berhubungan dengan manusia, dan bukan benda lain seperti merpati atau gunting rumput.

Akan tetapi, ketika para voluntir melihat foto-foto tunawisma medial preforntal cortex mereka tidak menyal. Hal ini menunjukkan bahwa para voluntir tidak melihat para tunawisma sebagai manusia. Area yang menyala justru area pada otak yang berasosiasi dengan rasa jijik. Individu yang rentan ini menjadi bukan manusia.

Hal ini tidak mengejutkan jika seseorang menggali lebih dalam tentang kemiskinan yang terlihat bagi otak manusia. Saat seseorang melihat individu yang tinggal di dalam tenda, stimulus visual tersebut memberi tahu otak bahwa ada kekurangan sumber daya. Hal ini sudah terdokumentasi memengaruhi fungsi kognitif.

Pernah ditulis pada studi tahun 2018 dalam Oxford Research Encyclopedia of Psychology, peneliti dari Universitas British Columbia mencatat bahwa “Kelangkaan menimbulkan myopic dan sikap impulsif, memprioritaskan keuntungan jangka pendek dibandingkan keuntungan jangka panjang”

“Ironisnya” tambah mereka, “kelangkaan juga mampu menghasilkan kegagalan untuk menyadari informasi penting dalam lingkungan yang meringankan kelangkaan tersebut”

Gambar via Survey Gallup tentang mempunyai dan tak mempunyai, survey menunjukkan sebagian besar warga Amerika menganggap diri mereka sebagai “mempunyai”

Tentu saja perempuan yang sedang berjalan tersebut tidak merasakan kelangkaan pada dirinya saat itu. Kita bisa berasumsi bahwa karena dia tinggal di lingkungan berkecukupan di Seattle selamat 20 tahun dia merasa nyaman. Tambah lagi, jika dia seperti sebagian besar warga Amerika, dia akan cenderung melihat dirinya sendiri sebagai kelompok yang mempunyai. Akan tetapi hanya dengan melihat kemiskinan mampu memicu respons terhadap kelangkaan, yaitu respons dehumanisasi, dan kemudian menciptakan sikap defensif dan jijik.

Ini adalah reaksi bertahan hidup, tapi bukan berarti sikap tersebut dibenarkan, sehat, atau bisa diterima. Tugas kita sebagai manusia, sebagai tetangga, sebagai individu dengan hati dan jiwa adalah untuk menyadari keberadaan mereka, mengikutsertakan mereka, dan kemudian mendukung mereka. Jadi kenapa kita tidak melakukan hal tersebut?

Bagaimana Kita Mengabadikan Persepsi Negatif terhadap Orang Miskin (Dan membuatnya terlihat OK)

Bias terhadap masyarakat miskin, dalam berbagai cara, ditoleransi bahkan dipelihara dalam komunitas. Jogger dari Seattle bisa istirahat dengan tenang pada malam hari dengan mengetahui bahwa dia tidak sendirian, testimoninya di grup Facebook mendapatkan penghargaan dan persetujuan.

Rasa jijik dan hina terhadap masyarakat miskin, dalam realita, sangat mudah ditemukan, bahkan diantara mereka yang miskin sekalipun. Selama bertahun-tahun individu dengan berbagai tingkat pemasukan diberitahu, baik implisit maupun eksplisit, bahwa orang miskin adalah orang jahat dan tidak setara. Pesan tersebut sudah tertanam dalam masyarakat. Ini bukanlah anggapan belaka, data yang dikumpulkan bertahun-tahun menunjukkan hal tersebut.

LA Times melakukan survei kepada pembaca mereka pada tahun 2016 untuk melihat opini kolektif terhadap rumah tangga atau individu miskin. Hasil dari survei tersebut menunjukkan bahwa 46% responden diatas garis kemiskinan menganggap bahwa para rumah tangga atau individu miskin tidak memiliki kemampuan. Hanya 31% individu yang tinggal dibawah garis kemiskinan yang memercayai hal tersebut. Sementara itu, 61% responden yang hidup diatas garis kemiskinan percaya bahwa keuntungan dari kesejahteraan “Mendorong masyarakat miskin untuk bergantung kepada orang lain dan mendorong mereka untuk tetap miskin”

Gambar via LA Times

Persepsi kolektif kita terhadap masyarakat miskin tidak selalu seperti ini.

Pada 1985, LA Times menemukan bahwa hanya 25% dari total responden percaya bahwa penerima kebijakan kesejahteraan ingin tetap berada dalam kebijakan tersebut. Pada 2016 angka tersebut meningkat menjadi 36%, dengan 38% responden diatas garis kemiskinan mengatakan mereka percaya bahwa hal tersebut benar.

Hal ini dipengaruhi adanya perubahan yang cukup besar pada cara pelayanan sosial diberikan, hal lainnya adalah perubahan mengenai penggambaran layanan tersebut oleh pembuat kebijakan dan media.

Hal tersebut dimulai dengan pemotongan besar pada layanan tersebut oleh Ronald Reagan dan retoriknya yang mengatakan pendampingan pemerintah membuat mereka bergantung kepada pembayar pajak. Clinton juga melanjutkan persepsi tersebut dengan paket reformasi kesejahteraan yang memberikan kontrol sepenuhnya kepada negara bagian dan membangun jalan untuk pusat krisis kehamilan dan berbagai program yang tidak terkait dengan kemiskinan. Pada era ini, hal tersebut dilanjutkan oleh Paul Ryan yang sepertinya tidak peduli atau tidak paham adanya jutaan warga Amerika yang bekerja dan masih miskin akibat penurunan gaji dan pemotongan serikat.

Selama lebih dari 30 tahun ada opini yang terus diulang bahwa kemiskinan adalah salah mereka yang miskin dan jika kamu tidak miskin maka kamu lebih baik, lebih kuat, lebih mampu. Kamu lebih pantas untuk mendapatkan makanan, tempat tinggal, dan ketenangan pikiran.

Bait yang sama juga sudah digemakan di media berita. Siapa yang bisa melupakan tajuk berita mengenai masyarakat miskin masih memiliki telepon genggam? Para “Ratu Kesejahteraan” dan penipu yang tidak pernah bekerja sama sekali tapi masih bisa tidur di kasur seperti orang biasa?

Organisasi berita, tanpa berpikir panjang, sering mengambil berbagai berita mengenai kejahatan yang mengikutsertakan masyarakat miskin sebagai pelaku, tapi jarang meliput realita kehidupan masyarakat miskin.

Berita jam 6 pagi tidak pernah dimulai dengan bagaimana rasisme sistematik dan penindasan sejarah terus membuka jurang kesejahteraan. Tidak ada tajuk utama dengan huruf besar yang menunjukkan bahwa kekerasan rumah tangga adalah salah satu alasan utama perempuan menjadi tunawisma, dan penyumbang besar kepada banyaknya remaja LGBTQ di jalanan.

Hal ini mendukung adanya normalisasi stereotip mengenai masyarakat miskin dan mendukung bias yang dimiliki oleh masyarakat dengan tempat tinggal. Opini mereka, termasuk rasa takut dan rasa jijik, menguat dengan munculnya berita yang hanya fokus kepada elemen tertentu ini dan mengabaikan gambaran besar.

Dalam menormalisasi pandangan ini, terutama kognitif, bias implisit mengenai kemiskinan dan masyarakat miskin diubah dari reaksi laten menjadi ideologi yang mengakar. Sesuatu yang terasa benar tapi terasa tidak pantas untuk diucapkan keras-keras.

Hal ini mendorong terjadinya rapat komunitas yang membuat pernyataan seperti di atas. Kita bisa melihat grup Facebook berisi foto para tunawisma dan meneruskan penilaian yang bias tersebut. Mereka menyatakan para tunawisma sebagai kriminal, menunjukkan rasa jijik, dan merasa terhina ketika siapapun mengatakan bahwa mungkin mereka terlalu menghakimi.

Sebagian besar orang-orang tersebut tidak akan pernah mengatakan, dalam bentuk apapun bahwa mereka membenci orang miskin atau mereka pikir bahwa mereka adalah orang jahat. Tapi mungkin mereka harus, karena dengan begit kita bisa memulai pembicaraan yang jujur mengenai langkah kita selanjutnya.

 

Referensi

Olsen, H. B. (n.d.). Please Admit You Don’t Like Poor People So We Can Move On. Retrieved July 16, 2018, from Medium: https://medium.com/@mshannabrooks/please-admit-you-dont-like-poor-people-so-we-can-move-on-f4e964087b16

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *