Menatap Masa depan: Menjawab Permasalahan Air Tanah di Jakarta

Penulis : Zulfikar Ibrahim . Mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh November  . Jurusan Arsitektur

Jakarta sampai saat ini masih terlihat seperti kota pesakitan. Untuk permasalahan air saja, Jakarta sudah mengantongi banyak varian masalah. Mulai dari banjir yang tak berkesudahan, krisis air bersih, sampai air tanah pun seakan menandakan permasalahan air di Jakarta seperti tidak ada habisnya.

Namun pada tanggal 12 Juli 2018 yang lalu, bertepat di Hotel Four Points, Thamrin, Jakarta Pusat, sebagian kelompok sedang berusaha menyuarakan pemikirannya dalam mengatasi permasalahan air di Jakarta ini, khususnya dalam permasalahan air tanah.

Di inisiasi oleh Amrta Institue for Water Literacy dan IHE-Delft Institue for Water Education, workshop yang bertajuk ‘Answering the challenges of Jakarta’s Ground Waters Problems’ memberikan kita gambaran serius akan permasalahan krisis air tanah di Jakarta.

Pembicara workshop ini diisi dari berbagai ahli, yang dibuka oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, kemudian Nila Ardhianie dari Amrta Institute for Water Literacy dan Michelle Kooi dari IHE-Delft Institute for Water Education sebagai inisiator workshop, juga Rachmat Fajar Lubis sebagai perwakilan permbicara dari LIPI. Acara ini kemudian dimoderasi oleh Evi Mariani dari Jakarta Post.

Menurut Nila Ardhianie, dalam pembukaannya ia mengatakan bahwa permasalahan air tanah di Jakarta selalu dipandang sebelah mata, karena letaknya yang berada dibawah permukaan tanah dan “tak kasat mata”, membuat pengguna merasa tidak ada masalah dan terus mengekstraknya.

“What makes a city is a presence of water”, tutur Anies Baswedan, selaku Gubernur DKI Jakarta. Semakin menguatkan akan pentingnya air dalam kehidupan urban. Sebagai gambaran akan permasalahan air tanah di Jakarta, ia memaparkan hasil riset tentang adanya ekstraksi air besar-besaran, khususnya di sektor bangunan komersil dan industri.

“Dari 80% bangunan highrise yang diinvestigasi, hanya 50% yang menyediakan alat infiltrasi air, dan dari 50% tersebut pun hanya ada satu bangunan yang memenuhi kriteria”, pungkas nya. Hal ini sangat disayangkan mengingat bangunan – bangunan tinggi di Jakarta sebagai salah satu yang paling bertanggung jawab akan permasalahan ini seakan acuh akan dampak dari perbuatannya tersebut.

Dengan membiarkan ekstraksi air secara masif terus berlanjut, “warga Jakarta” seakan sedang menggali kuburannya sendiri. Namun, Belum habis akan permasalahan air tanah, peserta workshop disadarkan oleh fakta lain akan salinitas air tanah di Jakarta yang semakin tinggi. Mengambil data dari IWACO, Rachmat Fajar Lubis sebagai pembicara dari LIPI memaparkan bahwa sejak tahun 1992 pun intrusi air laut sudah terjadi, dan berpotensi untuk bertambah lagi tiap waktunya.

Sesi tambahan terlihat semakin menarik, dengan adanya presentasi tambahan dari JICA dan sedikit perspektif dari pakar geologi Jan Sopaheluwakan dan aktivis-urbanist, Elisa Sutanudjaja yang mewakili Rujak Center for Urban Studies.

Dalam kesempatannya pun Jan Sopaheluwakan menyuarakan bahwa solusi paling sederhana untuk permasalahan penurunan tanah di jakarta adalah dengan memperbanyak ruang terbuka biru di bagian utara dan ruang terbuka hijau di selatan.

Jika kita memotong kota Jakarta secara radikal, mungkin tanah di Jakarta akan terlihat seperti lubang pori saat ini. Hilangnya air tanah tentu bukan masalah yang sepele, faktor hilangnya air tanah pun bisa dikatakan sebagai aktor utama dalam permasalahan turunnya muka tanah di Jakarta. Dalam data yang dipaparkan Deltares, rasio penurunan muka tanah di Jakarta pada tahun 2014-2015 bisa mencapai angka 12 cm per tahun. Hal ini semakin menambah “catatan prestasi” Jakarta, sebagai salah satu kota dengan ratio penurunan tanah paling tinggi di dunia.

Rasanya Jakarta masih akan menempuh jalan panjang untuk menjadi kota yang lebih baik. Kesadaran dan kolaborasi seluruh elemen kota tentu sangatlah diperlukan untuk menjaga dan membangun kota Jakarta untuk menjadi lebih baik lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *