Pekakota Forum 6 ‘Inisiator Kampung’

Sekilas mengenai Pekakota

Pekakota adalah perubahan nama atas platform sebelumnya yakni Unidentified Group Discussion (UGD) Semarang. Platform ini mempunyai perhatian besar pada isu perkotaan terutama dalam penguatan masyarakat melalui aktivitas penggalian pengetahuan lokal, pendistribusian, dan pemanfaatan lebih lanjut. Sewaktu masih bernama UGD Semarang bersama Rujak Center for Urban Studies menginisiasi proyek percontohan di Kelurahan Tugurejo dan Kampung Bustaman.

Dimulai pada tahun 2012 di Tugurejo dan Bustaman, UGD Semarang bersama warga melakukan pemetaan pengetahuan keseharian dan figur-figur yang berpengaruh di masyarakat. Tahun 2014, UGD Semarang berganti nama menjadi Pekakota dan secara struktural berada di bawah Hysteria yang telah berdiri sejak 2004. Memulai programnya pada Oktober 2014 dengan mengadakan Festival Kota Masa Depan, kegiatan Pekakota berupaya menjaring masukan masyarakat Semarang atas masa depan kota 25 tahun mendatang.

Data yang dikumpulkan tersebut lalu direpons menjadi sebuah karya seni dan disajikan dalam puncak festival yang juga diisi oleh berbagai forum kota diikuti oleh baik aktivis LSM maupun komunitas. Februari 2015, Pekakota memulai pelatihan menggunakan open street maps untuk memetakan online Kelurahan Purwodinatan. Belajar dari apa yang didapat ketika mengamalkan dinamika pengetahuan perkotaan, saat ini kemampuan itu dikombinasikan dengan pemetaan online baik menggunakan open street maps maupun Ushahidi. Gol terbesar Pekakota yakni menumbuhkan rasa kepemilikan warga atas kota dan turut berpartisipasi dalam perencanaan tata kota sesuai kapasitasnya.

Pekakota Forum 6 Ajak Warga Peduli Kampung

Memberdayakan masyarakat tidak harus dimulai dengan penyuluhan, hal terpenting pertama adalah membuat warga itu senang terlebih dahulu. Hal itu disampaikan oleh M Al Gorie (31), warga Jatiwangi, Majalengka saat Pekakota Forum ke enam yang diselenggarakan oleh Pekakota di Purwodinatan, Semarang beberapa waktu lalu. “Kalau sudah senang, warga akan lupa penderitaannya, setelah itu baru bisa diajak berpikir dan berimajinasi tentang kampungnya,” tambahnya.

DSCN1188 DSCN1163

Di hadapan puluhan warga Purwodinatan, Al Gorie bersama Gatot Subroto (49) warga Stren Kali Surabaya memberikan motivasi  bagaimana seyogyanya membangun kampung. Lain halnya Al Gorie, Gatot menekankan pentingnya kemandirian kampung. Gatot yang sehari-hari tinggal di bantaran sungai mulanya tak mudah untuk meyakinkan pemerintah bahwa warganya mampu memelihara sungai. “Kondisi kami seperti warga di Kampung Pulo Jakarta yang sekarang terusir, menempati tanah illegal dan dianggap sumber masalah,” ujarnya. Namun berkat kegigihannya bersama warga lain sejak tahun 2003 an, kini kampungnya bisa menata diri dan jadi daerah percontohan bahwa masyarakat bisa hidup berdampingan dengan sungai.

IMG_0006

Kegiatan inisiasi Pekakota ini merupakan rangkaian program Urbanisme Warga yang baru-baru ini dirilis di Semarang. Kepala Program, Ahmad Khairudin atau akrab disapa Adin, bersama 7 kota lain Surabaya, Surakarta, Tangerang Selatan, Bogor, Bandung, Pontianak, dan Aceh mereka berkomitmen untuk memproduksi pengetahuan di masing-masing kota dengan penitikberatan pada warga dan kerja-kerja kolaboratif. “Kiranya persoalan kota sudah sedemikian rupa sehingga kita butuh banyak perspektif untuk mencari solusi yang lebih baik dan melibatkan sebanyak-banyaknya orang,” ujarnya.

Menanggapi hal itu, Mulyono (44) warga Kampung Petemesan, Purwodinatan, Semarang Tengah, Semarang menyatakan kesediannya untuk terlibat selama untuk kebaikan bersama. “Perbincangan soal kampung ini sangat menarik karena forumnya lebih cair, namun saya akui ini bukan hal yang mudah karena untuk memikirkan keadaan sekitar dibutuhkan orang-orang yang penuh kerelaan,” ujarnya. Mulyono berharap, kegiatan seperti ini akan terus berjalan dan warganya bisa menyerak informasi inspiratif dan lalu mengamalkannya untuk kebaikan kampung. (Ondang Gifari)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *