Catatan Pesanggrahan Sumarno Sandiarjo

Sumarno Sandiarjo mulai menekuni minatnya dalam bidang fotografi pada tahun 2008 ketika ia duduk di kelas 2 SMA. Selepas itu, Sumarno bergabung dengan komunitas fotografi Klastic untuk melanjutkan ketertarikannya akan fotografi. Merasakan kejenuhan akan street photography yang ia dalami, Sumarno mulai mencari bentuk fotografi lain yang tepat untuk dirinya. Pada tahun 2010 Sumarno melihat dan mengagumi foto-foto karya Duane Michals dan Ruang Mes56 dengan foto-foto konseptualnya. Sejak saat itu Sumarno mengembangkan ide-ide foto konseptual.

Bersama komunitas Klastic pada tahun 2010 Sumarno menggelar sebuah pameran bertajuk Bumikan BumiMu yang bertepatan dengan hari Bumi di Galeri Kita, serta membuat buku fotografi berisi foto-foto dengan tema bebas berjudul 3 Months Project. Pada tahun 2012 Sumarno kembali berinisiatif menggelar pameran, kali ini dengan tajuk Ideapendent bertempat di Galeri Oranje selama 3 hari, dan menggagas proyek Bandung Documentary untuk merespons perubahan kota dari hari ke hari. http://bandoc-project.tumblr.com

Dalam periode pesanggrahannya Sumarno membuat potret keluarga di Desa Muntuk yang tidak hanya sebagai arsip keluarga, namun juga untuk mengenali perjalanan hidup keluarga tersebut. Ide ini terinspirasi dari kisahnya yang kehilangan foto-foto dokumentasi dirinya sejak kecil bersama keluarga. Selain potret keluarga, Sumarno juga melakukan proyek penelusuran sampah. Hal ini dilakukannya untuk mengetahui tingkat konsumsi warga sekitar terhadap produk kemasan. Berikut catatan pesanggrahan Sumarno Sandiarjo.

Dalam program Pesanggrahan Bumi Pemuda Rahayu 2013, saya menjalankan proyek ‘Potret Keluarga’, karena sepengetahuan saya, di sebuah pedesaan banyak yang tak memiliki potret keluarga, fokus saya pada foto yang secara bersamaan. Dan setiap keluarga yang menjadi bagian proyek saya ini, tentu akan mendapatkan cetakan fotonya untuk dipajang dan disimpan di rumah mereka, sebagai arsip keluarga.

Sehari setelah saya tiba di Bumi Pemuda Rahayu, saya bersama Mas Lilik dan teman pesanggrah lain berkeliling dusun untuk diperkenalkan kepada masyarakat, terutama Rukun tangga Pak Harianto dan tokoh Masyarakat Pak touhari serta beberapa rumah lainnya yang kita hampiri. Dalam kesempatan itu saya selalu melihat dinding rumah mereka, untuk mengetahui apakah ada foto keluarga yang dipajang. Tak ada satu pun foto keluarga yang dipajang. Bertolak dari tak ada foto keluarga yang dipajang, saya menjalankan proyek ‘Potret Keluarga’.

Akan tetapi saya tak serta merta yakin, bahwa mereka tak memiliki foto keluarga dari dinding yang kosong, saya juga menghampiri mereka dan bertanya.

Pendekatan dengan masyarakat, awalnya sangat susah. Karena saya orang asing bagi mereka dan juga kendala bahasa. Butuh 2 minggu untuk pendekatan saja. tak hanya itu, yang saya pikirkan bahwa warga sekitar BPR akan antusias bila difoto satu keluarga secara gratis dan cetakannya secara gratis juga, ternyata tidak. Alasan pertama, sebuah arsip keluarga bagi mereka tak terlalu penting. Kedua, mereka malu melihat dirinya sendiri dalam sebuah foto (asing dihadapan kamera). Ketiga, tak ada waktu luang untuk difoto, karena sibuk kerja dari pukul 06.00 hingga 17.00, dan juga banyak kepala keluarga yang tidak berada di rumah karena berjualan pintu dan jendela di kota Bali dan jakarta.

Cara pendekatannya, saya selau sengaja berkeliling dusun dan mampir ke rumah warga untuk sekadar ngobrol, minum teh atau kopi. Dari situ ada beberapa yang kemudian mau untuk difoto.

Kendala lainnya, ada ketakutan warga setempat dengan foto satu keluarga yang mana latarnya rumah. Karena beberapa dari mereka merasa pernah ditipu oleh banyak LSM yang menjanjikan bantuan dana ketika sesudah gempa bumi tahun 2006.

Sumarno 4

Alasan saya membuat foto keluarga berlatarkan rumah karena rumah adalah kebanggaan, sebuah jerih payah mereka. Dan kita pun bisa melihat bentuk bangunan, cat rumah dan benda-benda sekitar rumah mereka yang menarik.

Setiap hari saya berkeliling untuk memberi tahu, menawarkan, serta juga membuat janji dengan warga dari Rumah ke Rumah. Hasil akhir proyek ‘Potret Keluarga’ selama saya residensi, saya menghasilkan lebih dari 20 Foto Keluarga. Keluarga yang saya foto berasal dari 3 Dusun: Banjar Harjo I, Banjar Harjo II, dan Tangkil.

Surplus

Selain menjalankan ‘Potret Keluarga’, saya pun menjalankan proyek lain, yaitu menelusuri sampah untuk mengetahui tingkat konsumtif warga sekitar terhadap produk kemasan: makanan dan minuman instan serta jajanan. Selain tujuan untuk mengetahui tingkat konsumtif, dari riset ini juga kita bisa mengetahui merek dagang apa saja yang masuk pada suatu wilayah tertentu yang pernah dikonsumsi.

Dalam penelitian ini saya merencanakan 2 cara: mendatangi langsung ke Rumah dan menelusuri sampah yang berserakan di sekitar rumah mereka. Perkembangannya, menelusuri sampah berserakan tak bisa saya kerjakan. Karena warga sekitar memiliki 2 kebiasaan membakar sampah, yakni dedaunan serta plastik yang berada di halaman rumahnya, serta sampah rumahan yang langsung dibakar di dapur. Jadi, untuk sampah yang berserakan tentu banyak yg hilang karena dibakar.

Akhirnya saya memutuskan meneliti dengan satu cara, yakni dengan datang ke rumah warga sekitar, memberikan kantong sampah kepada mereka dan meminta tolong pada mereka agar sampahnya tak dibakar, namun dikumpulkan di kantong sampah yang saya berikan.

Wilayah atau komunitas yang saya teliti, yakni Rt 03. Kurang lebihnya Rt 03 memiliki 23 rumah dan 28 kepala keluarga. Saya meneliti 14 rumah dengan jangka pengumpulan sampah atau produk yang dikonsumsi selama 2 minggu.

Dengan kebiasaan membakar sampah, banyak dari mereka lupa untuk mengumpulkan. Sehingga dalam satu minggu pertama banyak yang tak terkumpul. Di minggu kedua, saya mulai rutin datang setiap hari untuk menghimbau mereka agar mengumpulkan dan jangan sampai dibakar. Hasil akhir penelitian, 12 rumah dengan jangka pengumpulan produk yang dikonsumsi, menjadi 1 Minggu. 12 Rumah, 12 Foto, setiap satu foto merupakan produk kemasan yang dikonsumsi satu minggu.

Sumarno 3

Setelah dalam 1 minggu terkumpul, saya mengambil kantong sampah dari mereka dan membawanya ke BPR. Dalam proses merubah sampah itu menjadi sebuah foto, sempat akan saya foto di studio yang saya buat. namun, karena bau, banyaknya semut berdatangan, cairan, serta minyak dari mie instant yang membuat saya tak nyaman.

Sumarno 1

Saya memutuskan, membawa 12 kantong sampah itu dan menggelar sampahnya di tanah, lalu mencatat isi dalam 1 kantong sampah tersebut. Karena banyak produk yang sama dari setiap yang dikonsumsi, mempermudah saya dalam pengorganisiran. Kemudian saya menggunting logo dari produk produk tersebut dan saya pindai menggunakan alat pemindai, yang sebelumnya saya atur letaknya dalam satu lembar kertas hitam. Kenapa saya atur dalam selembar kertas hitam, karena plastik tersebut tidak memiliki berat, yang memungkinkan mudahnya bergeser ketika proses pemindaian, dan ketidaktepatan komposisinya.

*Pesanggrahan untuk seniman dan peneliti kembali diadakan di Bumi Pemuda Rahayu, Bantul, Yogyakarta. Kegiatan pesanggrahan tahunan yang kembali diadakan tahun ini akan memilih 5 seniman dan peneliti muda yang memiliki komitmen untuk bekerja bersama warga dan lingkungan. Kesempatan pengajuan proposal masih terbuka hingga 15 September 2015 mendatang. Detil kegiatan dapat diunduh disini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *