Design Charrette : MOBILITAS URBAN

Sistem transportasi publik bagaikan nadi yang menggerakkan warga dan mengaktivasi kegiatan di kawasan perkotaan. Bagi Jakarta dengan jumlah penduduk 10.2 juta (2019) dan jumlah penduduk siang atau komuter non Jabodetabek yang mencapai 3 juta orang, maka sistem transportasi massal adalah suatu keniscayaan dan keharusan dalam memastikan agar kota dapat beroperasi secara optimal.
Kini Jakarta memiliki beragam opsi transportasi publik, misalnya Transjakarta, MRT Jakarta, LRT Jakarta dan Commuter Line. Saat ini Transjakarta telah memiliki jalur lintasan sepanjang 251.2 km (terpanjang di dunia), serta memiliki 260 halte yang tersebar dalam 13 koridor. Sebelum pengurangan pelayanan akibat Pandemi di Maret 2020, pengguna Transjakarta kerap di atas 1 juta penumpang/hari.
Pada usianya yang telah menginjak tahun ke 17, Transjakarta tentu telah melewati berbagai macam pasang surut dan perubahan serta perbaikan. Tak dipungkiri memang masih banyak ruang perbaikan yang dapat dilakukan Transjakarta termasuk dalam peningkatan integrasi dengan sekitar baik secara akses maupun harmonisasi lansekap perkotaan, serta kemungkinan pemanfaatan halte sebagai ruang publik yang dapat memberikan kontribusi bagi regenerasi kota.

TRANSJAKARTA : Generator Transformasi Kota
Sistem transportasi publik kini tidak hanya dipandang sebagai urusan sektoral transportasi belaka, namun makin banyak studi yang menunjukkan sistem transportasi publik dapat mempengaruhi mobilitas ekonomi dan sosial warga kota , meningkatkan nilai suatu kawasan , membangun kohesi sosial warga kota , hingga regenerasi kota . Sistem transportasi publik pun kini tak sekadar berbicara soal jalur dan lajur, kapasitas dan tiket; namun pembicaraan mengenai transportasi publik juga mengarah pada peran transportasi publik sebagai infrastruktur sosial.

Transjakarta sebagai infrastruktur sosial adalah tawaran perspektif baru tentang apa hubungan orang dan tempat satu sama lain, dengan melihat sisi sosial dari ruang fisik kita. Transjakarta dinilai sebagai kondisi fisik yang menentukan apakah modal sosial dapat berkembang, apakah, yaitu, hubungan antar manusia berkembang dan dipupuk. Infrastruktur sosial sendiri memainkan peranan penting dalam memastikan kemakmuran dan kesejahteraan kota, termasuk alat untuk mengurangi kesenjangan ekonomi dan sosial.
Namun tidak bisa sembarang sistem, sarana dan prasarana transportasi publik dapat mengambil peran sebagai infrastruktur sosial, menggerakkan mobilitas ekonomi atau mendorong revitalisasi perkotaan. Salah satu prasyarat penting dalam mendorong transformasi ekonomi, sosial dan budaya melalui sistem, sarana dan prasarana transportation publik adalah melalui perencanaan partisipatif yang demokratis dan bermakna. Tidak ada yang menjadi sumber yang lebih baik daripada warga kota dan pengguna moda transportasi itu sendiri.

PROSES KO-KREASI :
Design Charrette bersama Pengguna dan Pemangku Kepentingan Lokal
Proses penciptaan menggunakan pendekatan Ko-kreasi, yaitu proses yang menggunakan pendekatan multi-arah (multi-directional) untuk memecahkan masalah. Pendekatan ko-kreasi memang bermula dari bidang pemasaran dan pengembangan produk, namun pendekatan ini juga diinterpretasi ulang dalam perencanaan kota sebagai upaya mendemokratisasi produksi ruang dan pengetahuan.
Ko-kreasi telah menjadi istilah yang banyak digunakan untuk menggambarkan pergeseran pemikiran dari organisasi menjadi penentu nilai ke proses yang lebih partisipatif di mana orang dan organisasi bersama-sama menghasilkan dan mengembangkan makna.
Wujud dari proses ko-kreasi dalam rupa workshop Design Charrette, yaitu suatu sesi kolaboratif dimana sekelompok orang kreatif dari berbagai macam latar belakang bersama-sama menyusun solusi untuk masalah desain. Proses Charrette berusaha menciptakan suasana inovatif dimana berbagai kelompok pemangku kepentingan dapat berkolaborasi untuk “menghasilkan visi masa depan”.

TANGGAL PELAKSANAAN
9-16 April 2021

Pendaftaran                            : 29 Maret – 6 April 2021
Seleksi                                    : 8 April 2021 (17.00)
Pengumuman Peserta Lolos  : 8 April 2021 (19.00)

PILIHAN LOKASI PERENCANAAN
1. Halte Grogol 2 dan ruang yang berada di bawah jalan tol
2. Halte Slipi Petamburan dan ruang yang berada di bawah jalan tol
Radius dari masing-masing halte termasuk pencapaian dari dan ke Halte.

KELUARAN AKHIR
1. Desain yang dihasilkan menjadi bagian dari proses ko-kreasi pengembangan desain Halte TransJakarta Slipi Petamburan dan Grogol 2.
Catatan: Peserta yang menghasilkan karya, maupun ide karya yang terpilih dalam pengembangan tahap selanjutnya, maka nama peserta juga tercantum sebagai tim arsitek. Tahap pegembangan desain (design development) akan menjadi tanggung jawab Rujak Center for Urban Studies.
2. Desain akan dipamerkan secara daring, dan kemungkinan secara offline pada halte-halte terkait.

TARGET PESERTA

  • Mahasiswa Arsitektur, Arsitektur Lansekap, dan Perencanaan Wilayah dan Kota
  • Fresh graduate
  • Peneliti dan praktisi arsitektur dan perkotaan
  • Masyarakat luas*

*Diutamakan pengguna transportasi umum di sekitar kawasan Grogol dan Slipi Petamburan
**Peserta Design Charrette akan bekerja dalam kelompok, yang didampingi oleh mentor.

LINK PPENDAFTARAN tiny.cc/mobilitasurban
DOWNLOAD KAK tiny.cc/DC-KAK

NARAHUBUNG :
Zahra             : 087800179494 (whatsapp only)
e-mail            : Info@rujak.org 

website         : rujak.org
twitter           : @RujakRCUS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *