Handmade Urbanism

 

Penulis : Muhammad Rizky Saputra . Mahasiswa Universitas Muhamadiyah Jakarta . Jurusan Arsitektur

Handmade urbanism adalah bentuk pengembangan perkotaan yang dilakukan bersama dengan warga lokal dengan tangan mereka sendiri juga dengan maksud dan keinginan mereka sendiri.

Dimulai dengan warga lokal yang menemukan permasalahan yang terjadi pada kota mereka lalu dilanjutkan dengan kesadaran untuk memecahkan masalah-masalah yang ada pada kota atau komunitas mereka. Warga lokal, dengan kreatifitasnya berusaha untuk memanfaatkan sumber daya yang ada untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari hari dan juga meningkatkan kualitas hidup mereka.

Konsep handmade urbanism sendiri membenarkan bahwa sebagian besar dari penataan kota terjadi karena warga lokal sendiri, tanpa campur tangan pemerintah, perencana dan perancang.

Bicara soal handmade urbanism, ada sebuah buku yang menarik dengan judul sama yang merupakan tulisan Marcos L. Rosa dan Ute E. Weiland. Pada buku ini terdapat lima kota yang menjadi studi kasus yaitu Mumbai, Sao Paulo, Istanbul, Mexico dan Cape Town

Bahasan pertama yang terdapat pada buku ini adalah kota Mumbai yang berada di India. Salah satu  proyek yang dibahas pada kota ini adalah penyediaan ruang publik untuk orang bisa berjalan, berkumpul dan mengadakan pertunjukan serta aktivitas kebudayaan lainnya di amphiteater.

Ilustrasi Proses Handmade Urbanism

Pada awalnya di suatu tempat di dekat tepi laut terdapat tempat pembuangan sampah. Hal ini sangat disayangkan karena pada ruang yang cukup luas hanya digunakan untuk menimbun sampah. Kemudian para aktivis lokal berinisiatif untuk membersihkannya dan berusaha membuatnya menjadi ruang publik. Dengan melibatkan arsitek, dan pemerintah, warga lokal berhasil mengubah tempat pembuangan sampah menjadi ruang publik yang didalamnya terdapat amphiteater juga tempat untuk berjalan, berolahraga dan duduk-duduk dengan lingkungan yang hijau yang pastinya membuat suasana menjadi nyaman dan cantik.

Saat ini rujak center of urban studies sedang melaksanakan program yang bernapa CAP (Community Action Plan) dimana program ini bertujuan untuk menata perkampungan yang ada di kota Jakarta untuk menjadi lebih baik lagi. Kampung akuarium Jakarta utara contohnya.

2 tahun lalu terjadi penggusuran paksa pada kampung akuarium yang menyebabkan para warga lokal kampung akuarium kehilangan tempat tinggal mereka. Selama beberapa waktu mereka bermukim pada hunian yang kurang layak untuk ditinggali manusia mulai dari aspek keamanan, sosial budaya maupun ekonomi dan psikologi. Kemudian RCUS bergerak sebagai pendamping bagi warga lokal kampung akuarium untuk melakukan penataan dan pembangunan kembali kampung akuarium yang telah mengalami penggusuran paksa.

Dengan proses yang tidak sebentar. Warga berperan sangat aktif, seperti halnya dijelaskan oleh ilmu handmade urbanism. Warga pada awalnya diberikan pemahaman soal bagaimana program CAP akan berjalan. Kemudian warga mulai menyampaikan ide ide dan keinginan serta kebutuhan mereka untuk membangun kembali kampung mereka yang telah mengalami penggusuran paksa. Mulai dari kebutuhan mereka atas hunian yang layak, kehidupan sosial, sarana pendidikan, sarana ibadah serta kegiatan perekonomian mereka sehari hari.

Setelah warga menyampaikan gagasannya soal bagaimana mereka ingin kampung mereka dibangun seperti melakukan pemetaan dan lainnya, para pendamping mulai melakukan visualisasi dari keinginan warga, kemudian menunjukannya pada warga yang dilakukan terus menerus sampai mendapatkan rancangan pembangunan kampung yang ideal bagi para warga kampung akuarium.

Bila dibandingkan dengan handmade urbanism yang terjadi di Mumbai, maka bisa dikatakan bahwa warga lokal sama-sama berperan aktif untuk mengembangkan lingkungan mereka menjadi lebih baik lagi. Bila dilihat dari obyek yang dikembangkan terlihat bahwa warga Mumbai sudah mendapatkan kehidupan yang baik, dan konsep handmade urbanism yang diterapkan ini mampu membuat potensi yang mereka miliki menjadi semakin terlihat

Sedangkan yang terjadi pada Kampung Akuarium, mereka belum memiliki kehidupan yang baik, bahkan hunian yang layak pun belum tercapai. Sepertinya membuat ruang publik seperti amphiteater masih jauh dari gapaian. Maka yang terlebih dahulu dilakukan adalah memenuhi kebutuhan primer yaitu berhuni ditempat yang lebih layak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *