Pengembangan Infrastruktur Skala Besar: TOD, Kota Baru & Perumahan Terjangkau

 

Penulis : Dimas Rachman . Mahasiswa Universitas Muhamadiyah Jakarta . Jurusan Arsitektur

Pada tanggal 14 februari 2018 yang lalu, tepatnya, di Hotel Raffles Kuningan Jakarta Pusat  telah diadakan sebuah seminar yang diselenggarakan oleh kementrian PUPR dan bekerja sama dengan lembaga internasional, INTA. Pembahasaan didalamnya memiliki tema utama tentang Infrastructure-led Large Scale Development: TOD, New Towns & Affordable Housing atau pengembangan infrastruktur skala besar dengan pokok-pokok pembahasan yaitu Transit Oriented Development (TOD), kota baru, dan perumahan terjangkau.

Dalam pembukaannya Budiarsa Sastrawinata, selaku perwakilan INTA, memberikan pemahaman akan sebuah pembangunan skala besar yang sedang dilakukan di Indonesia dan bagaimana program TOD, kota baru, dan perumahan terjangkau dapat menunjang pembangunan tersebut sehingga dapat mengurai permasalahan yang terjadi akibat ledakan penduduk, dengan penyebaran penduduk yang lebih merata.

Pada sesi pertama di seminar tersebut, terdapat pokok pembahasan Kota Baru dan perumahan terjangkau. Didalamnya beberapa pakar seperti, Michel Sudarkis, DR Dadang Rukmana, Agus Surya Widjaja, Prashant Kapoor, dan Wicaksono Sarosa membahas bahwa dalam kondisi yang terjadi saat ini dimana jumlah penduduk, khususnya, di Ibu Kota mengalami pertumbuhan yang sangat pesat, pembangunan infrastruktur yang inovatif untuk menunjang permasalahan tersebutpun haruslah mulai diberlakukan dan salah satunya adalah berupa suatu aturan kota baru (New Town Development Policy). Saat ini pemerintah Indonesia telah memberlakukan suatu pengembangan ke arah sini, berlokasi di daerah Maja yang saat ini dalam masaa pembangunan. Di dalam kota baru tersebut memiliki sebuah konsep Transit Town yang nantinya akan memudahkan para masyarakat yang bekerja di Jakarta namun tinggal di kota baru tersebut dikarenakan mudahnya akses menjangkau stasiun yang memang dekat dengan kota baru tersebut.

Tujuan utama pengembangan lewat aturan kota baru ini adalah diharapkan nantinya dengan adanya sebuah tempat bermukim yang nyaman, terjangkau, dan mudahnya akses menuju Ibu Kota, menjadikan kota baru sebagai pilihan alternatif untuk tinggal di luar ibu kota sehingga penyebaran penduduk akan merata dan Ibu Kota tidak lagi menjadi kota yang terlalu padat jumlah penduduknya. Penerapan kota baru seperti ini pun harapannya akan diterapkan di daerah-daerah luar Pulau Jawa yang juga memiliki potensi sehingga penyebaran penduduk pun dapat mencapai skala Nasional.

Namun sebuah pengembangan kota baru yang digadangkan menggunakan konsep transit town dirasa masih kurang mengajak masyarakat yang mungkin akan tinggal di Kota Baru Maja tersebut untuk nantinya lebih memilih transportasi umum sebagai transportasi harian mereka. Perasaan ini tercipta karena sebagai kota baru yang nantinya direncanakan terintegrasi oleh hanya sebuah stasiun kereta apakah akan menjamin mayoritas masyarakatnya untuk memilih menggunakan kereta sebagai moda transportasi mereka, kemana perencanaan jalur pejalaan kaki yang nyaman dan ramah kepada para pejalan kaki, kemana pula perencanaan shuttle bus yang berjalan di rute internal kota tersebut. Dalam presentasinya semestinya para pembangun juga ikut menjolkan hal-hal tersebut dalam pengembangan kota baru nya.

Di sesi kedua membahas suatu pengembangan infrastruktur skala besar. Di dalamnya para penyaji yaitu, DR Adriyanto, Lana Winayanti, Jacques Gally, Ignesjz Kemalawarta dan Prof Haryo Winarso memaparkan bahwa pengembangan infrastruktur dapat memberikan keuntungan ekonomi kepada negara.Melalui pembuktian data-data pemasukan sudah mampu membuktikan keuntungan yang di dapat lewat lapangan infrastruktur cenderung stabil. Dikarenakan salah satu permasalahan yang saat ini dihadapi Indonesia adalah permasalahan urbanisasi, maka suatu pengembangan infrastruktur yang cocok diberlakukan adalah yang mengacu pada permasalahan kependudukan.

Dari sini kita menyadari bahwa lewat pengembangan infrastruktur berupa perumahan terjangkau, ditambah dengan usaha yang menunjang para warga untuk bekerja di kota besar walau tinggal di kota-kota kecil sekitarnya diharapkan permasalahan penduduk dikarenakan urbanisasi dan permasalahan ekonomi yang saat ini di hadapi dapat ditanggulangi lewat pengembangan infrastruktur skala besar tersebut.

Untuk menunjang akses yang mudah bagi para penduduk kota-kota baru menuju kota besar, dimana mereka beraktivitas di sana,  sebuah fasilitas infrastruktur transportasi yang nyaman, layak, dan berkelanjutan pun harus diterapkan. Melanjutkan sesi selanjutnya, yaitu sesi ketiga, memiliki pokok pembahaasan TOD atau Transit Oriented Development yaitu sebuah sistem atau aturan transportasi yang dipercaya efektif untuk mengurai permasalahan transportasi di perkotaan.TOD sendiri mengedapankan atau memprioritaskan kendaraan umum untuk beroperasi dan kemudahannya untuk diakses oleh masyarakat sehingga masyarakat cenderung memilih transportasi umum untuk beraktivitas di kesehariannya dan otomatis menciptakan kondisi yang lancar di lalu lintas kota.

Namun dalam pembahasan TOD ini ada beberapa hal yang mengganjal dari pengembangan yang diberlakukan. Pengembangan TOD yang dimaksud  tampaknya hanya berkutat pada aspek transportasi kereta yang langsung terintegrasi dengan titik node di suatu wilayah padahal, pengembangan pada aspek pejalan kaki serta pesepeda, konektifitas transportasi umum, dan pemadatan kawasan dengan berbagai macam fasilitas publik merupakan hal-hal yang semestinya ikut dikembangkan dalam pengembangan berbasis TOD ini.

Pengembangan yang diberlakukan untuk Kota Baru Maja itu sendiri merupakan pengembangan yang melanjutkan sistem transportasi yang sudah ada di daerah Maja sebelumnya yaitu stasiun kereta api. Darisitu diharapkan pengembangan kota baru di daerah tersebut dapat memudahkan akses penduduknya menuju kota Jakarta untuk menjalankan aktivitasnya.

Pada saat ini  pemerintah telah mengembangkan fasilitas transportasi berlandaskan TOD, pengembangan jalur kereta api yang sedang diberlakukan ,yaitu jalur Jakarta-Bandung,dan akan diterapkan 4 titik stasiun utama, 3 titik daerah TOD, dan 1 depot. Di pengembangan dalam kota pun akan terdapat 13 titik yang akan direncanakan menerapkan sistem TOD di sepanjang jalur LRT yang juga sedang dikembangkan namun sekali lagi apakah sistem TOD yang diterapkan pemerintah sudah semestinya ?

Penyebaran Node TOD di Jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *