Individu dalam Wacana Kampung Rawa

Penulis : Arifian Fajar Putra . Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah. Jurusan Sosiologi

Biarkan Saya menceritakan salah satu pengalaman Saya tatkala berkelana di salah satu bagian ibu kota. Belum lama ini Saya mengunjungi sebuah pemukiman yang bertempat di Kebon Jeruk, Jakarta Barat, lebih tepatnya di sebuah tempat bernama Kampung Rawa yang terdiri dari dua wilayah yaitu Kampung Rawa Barat dan Timur. Sebuah pemukiman yang sebenarnya tidak ada bedanya dengan pemukiman lainnya yang masih lingkup perkotaan. Sebuah pemukiman yang terpisahkan hanya oleh sungai besar, sangat besar hingga kalian bisa bermain di dalamnya kala sedang kering. Tapi tentunya sungai besar itu tidak akan bisa sebesar, seluas, selebar, dan “seraksasa” tanpa pertolongan pemerintah, yang dengan baik hatinya menjaga warga-warganya agar tidak tercebur ke sungai tersebut, dan juga agar tidak banjir.

Kendati terpisahkan oleh sungai, lantas tidak membuat kehidupan mereka lebih individualis, justru solidaritas mereka tetap terjaga – solidaritas Kampung Rawa bagian Barat, begitu juga dengan solidaritas Kampung Rawa bagian Timur. Mereka memang terpisahkan oleh jurang sungai yang menganga, yang siap menelan siapapun dan apapun yang terlemparkan ke sana, akan tetapi kehidupan mereka tidak terasingkan ataupun saling mengasingkan. Kekerabatan dan kehangatan yang mereka pancarkan tatkala saling lempar-balas lelucon-lelucon, membuat Saya kagum. Karena bagaimanapun Saya jarang sekali melihat kehangatan ini khususnya di masyarakat kota. Jika boleh dikatakan, mungkin pemukiman ini merupakan pemukiman yang romantis. Sisi romantis yang mungkin saja Kita jumpai di beberapa karya-karya seperti novel, komik, ataupun film. Terpisah tetapi tidak menjauh. Betapa populisnya kata barusan.

Lantas timbul pertanyaan: Bagaimana mereka tetap bisa menjaga kesatuan masyarakatnya di tengah arus modernisasi yang seharusnya, niscaya, membuat masyarakat semakin terfragmentasi dan lebih individualis? Jawabannya ialah bahasa.

Dengan latar belakang ilmu Sosiologi yang Saya miliki ini, mengingatkan Saya pada aliran strukturalisme. Dalam sosiologi, secara sederhana, ada yang meneliti aktor (individu, dan kelompok), ada pula yang meneliti struktur (budaya, hukum, politik, ekonomi, sistem dll). Strukturalisme melihat bahasa sebagai komponen penting dalam masyarakat, sebagai unsur yang determinan bagaimana, siapa, dan apa itu masyarakat. Tokoh-tokohnya ialah Levi Strauss, Roland Barthes, Michel Foucoult, Derrida, Arnold Toynbee, dll. Secara ringkas – bukan bermaksud mereduksi – strukturalisme percaya baik bahasa, khususnya yang termanifestasikan dalam bentuk wacana, dijalankan oleh berbagai institusi memainkan peran penting dalam membentuk identitas suatu masyarakat.

Bahasalah yang mempersatukan warga Kampung Rawa – tentunya juga ada faktor-faktor lain – yang mendorong mereka saling bergaul, saling bertegur sapa, saling bercanda gurau, saling mendukung satu sama lain. Namun tidak lupa juga bahwa, bahasa itu memilki salah satu unsur, yang kadang luput dari siapapun, bahkan Saya sekalipun, begitu juga kalian yang membaca ini, yaitu oposisi biner. Sederhananya begini, jika Kita membicarakan suatu hal yang positif, bukankah secara tidak langsung Kita juga membicarakan suatu yang negatif? Jika Saya mengatakan bahwa perempuan yang rajin membaca itu menarik, berarti Saya juga mengatakan perempuan yang tidak rajin membaca itu tidak menarik. Setiap ucapan Kita bak pisau bermata dua, atau satu keping koin. Di mana dua sisi yang bertolak belakang (seperti positif dan negatif) hadir secara bersamaan tanpa Kita sadari.

Begitulah yang Saya lihat di Kampung Rawa. Sifat baik-buruk sebuah bahasa itu tetap ada dan tak terhindarkan. Saya melihat ini ketika Saya mencoba menelusuri lebih dalam kehidupan masyarakat Kampung Rawa, ketika Saya dengan isengnya mengobrol dengan salah satu warganya. Di mana pengorganisasian masyarakatnya masih kurang maksimal. Buktinya ketika ada kegiatan di sana, hanya segelintir saja yang datang, dan orangnya itu-itu saja, tak menambah, tak ada peningkatan, bahkan malah berkurang. Hal ini rupanya dikarenakan ada omongan-omongan atau gosip di kalangan warga, yang bisa jadi merupakan penyebab kurang maksimalnya pengorganisasian masyarakat Kampung Rawa. Misalnya seperti ini “omongan-omongannya”, “buat apa sih ikut kegiatan begituan, udah Pak RT saja yang ngurus, Kita mah tinggal ikut-ikut saja.” akan tetapi di belakang orang-orang, mereka malah mendorong warga lainnya untuk juga tidak ikut, tidak menurut, dan tidak mau tahu. Bisa dibayang tidak bagaimana dilemanya orang-orang seperti Ketua RT, ustadz-ustadzah, dan tokoh-tokoh lainnya, sebagai seorang yang memiliki status untuk mengatur anggota-warganya agar tetap bersatu dan tak terpecah belah. Walaupun ada pula beberapa orang (seperti Ketua RT 16) yang berhasil meyakinkan warganya atau bisa dikatakan cukup berpengaruh untuk mengajak warganya ikut serta dalam pelbagai kegiatan kampungnya.

Jadi di tengah-tengah dan keberlangsungan bahasa, maka pada akhirnya subjek(orang) yang otonom sebenarnya itu tak ada, dan tak pernah ada. Kesemua itu bergantung pada wacana-wacana(omongan-omongan, stigma, gosip, stereotip, anggapan) yang berkembang, seperti wacana yang menuntut keterbukaan informasi tentang setiap kegiatan apapun, wacana tentang Ketua RT-nya yang kurang begitu aktif, wacana yang melihat bahwa setiap kegiatan atau keputusan yang terkait dengan pemukimannya itu diserahkan saja kepada pemangku kepentingan (Ketua RT, ustadz-ustadzah, ketua kelompok dll), maka dari itu warga-warganya kurang aktif, seperti yang Saya lihat di Kampung Rawa. Sejauh apa makna yang dihasilkan – oleh wacana – ini pada akhirnya akan menentukan kemajuan atau kemunduran, pendorong atau penghambat, pembentuk atau penghancur, masyarakat Kampung Rawa. Maka dari itu baik strukturalis maupun post-strukturalis tidak menggunakan subjek, sebagai orang yang independen, sebagai hasil akhir, sebagai sebuah kesimpulan. Maka orang yang dimaksud seperti Ketua RT, sejauh apa beliau dianggap sebagai “Ketua RT,” itu kembali lagi kepada wacana yang berkembang, jika wacana yang berkembang adalah bahwa beliau bukanlah Ketua RT yang baik dan benar serta membuat masyarakat kurang respect dengan belau, maka dengan demikian, akan dipertanyakan kembali status beliau sebagai Ketua RT, dan kemungkinan warganya untuk tidak mematuhi ajakan Ketua RT-nya jauh lebih besar.

Ada baiknya Saya mengajak, siapapun yang membaca tulisan ini, untuk sama-sama memikirkan apa solusi untuk pengorganisasian masyarakat yang lebih baik dan tepat dari masalah yang serupa di atas. Karena solusi tidak bisa hanya datang tiba-tiba dari satu pihak saja, melainkan melalui proses diskusi yang panjang, yang melibatkan banyak pihak, khususnya dari berbagai ahli sosial-politik dan juga tidak lupa dengan melibatkan warganya – Kampung Rawa. Maka dari itu mari bertukar pikir dengan lepas. Dan sebagai penutup mungkin apa yang direnungkan oleh Merleau-Ponty cukup benar, “man is condemned to meaning.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *