International Field School Hari 1 : Opening Day

 

International Field School 2020 resmi dimulai pada hari Minggu, 20 September 2020. Pada tahun ketiga ini, acara kolaboratif dari RCUS, Kampung Akuarium, dan Kyoto University dilaksanakan secara daring dikarenakan pandemi yang tidak memungkinkan partisipasi langsung ke lapangan. Tema yang diangkat tahun ini yaitu “Layers of memories : Our Common Memories” dimana tema ini berangkat dari hasil temuan penggalian site kampung akuarium yaitu lapisan-lapisan tanah dimana setiap lapisannya berasal dari era yang berbeda dan memiliki kenangannya masing-masing. Tema ini juga mengangkat pentingnya memahami dan menunjukan seluruh lapisan dalam sejarah masyarakat dan sejarah tidak hanya ditentukan oleh akademisi atau ahli sejarawan.  

Hari pertama International Field School 2020 disambut meriah oleh banyaknya partisipan dari berbagai latar belakang pendidikan dan pekerjaan dengan semangat yang tinggi untuk mengikuti rangkaian acara hingga seminggu ke depan.

Acara dimulai dengan kata pembuka oleh Vidya Tanny dari RCUS yang menjelaskan mengenai sejarah singkat perjalanan International Field School dari tahun ke tahun. Vidya juga menyampaikan bahwa International Field School diselenggarakankan sebagai wadah kolaboratif dimana orang-orang dapat berdiskusi mengenai topik tertentu dan menciptakan solusi-solusi yang dapat diterapkan, terutama mengenai Kampung Akuarium. “Diharapkan event ini dapat memperluas insight kalian dan menciptakan kota yang lebih inklusif”, lanjutnya.

 

 

Cuplikan Paparan Prof. Kiyoko Kanki
Cuplikan paparan Elisa Sutanudjaja

Berikutnya kata pembuka kedua disampaikan oleh Kiyoko Kanki dari Kyoto University mengenai Cultural Landscapes dimana sebuah kota akan terbentuk identitasnya dari interaksi antara lingkungan dengan penduduknya sendiri. Professor Kanki mengambil contoh Kampung Akuarium sebagai studi kasusnya dimana pemberian vegetasi dan pemukiman yang berada di tepi laut dan dekat dengan pelabuhan memberikan pola kehidupan khas bagi masyarakat yang menetap disana. Kata pembuka terakhir disampaikan oleh perwakilan dari Kampung Akuarium, yaitu Ibu Dharma Diani sebagai koordinator warga Kampung Akuarium. Beliau menyebutkan kampung Akuarium sekarang dalam proses relokasi untuk mempersiapkan pembangunan kampung barunya. Kondisi kampung Akuarium juga ditunjukkan dari virtual tour yang dipandu oleh pak RT Topaz Juanda setelahnya.

Acara dilanjutkan dengan pemaparan pasca penggusuran dan proses pembangunan kembali kampung akuarium dimana dijelaskan linimasa perjuangan masyarakat setempat dalam melawan eksekusi, menggugat, dan mengajukan desain serta keinginan mereka untuk membangun sebuah museum komunitas. Selain itu, Kampung Akuarium merupakan bagian dari Jaringan Rakyat Miskin Kota (JRMK). Bahrun, perwakilan dari JRMK menyebutkan bahwa perjuangan untuk melawan penggusuran Kampung Akuarium sudah dimulai sejak tahun 2016. “Banyak sekali kampung di Jakarta yang masih bermasalah tentang legalitas lahannya dan JRMK hadir agar dapat menjembatani masyarakat terdampak yang membutuhkan advokasi untuk dapat merasakan keamanan bermukim”, kata Barhun.

Cuplikan Paparan Andesha Hermintomo

Sebuah penjelasan singkat juga dipaparkan oleh Andesha Hermintomo, arsitek komunitas dari RCUS yang mendampingi kampung Akuarium sejak pasca penggusuran. Andesh menjelaskan bahwa Kampung Akuarium bertransformasi dari sebuah area dengan kepadatan penduduk tinggi menjadi area yang jauh lebih tertata dengan hanya 50% dari areanya dialokasikan untuk bangunan. Muncul sebuah pertanyaan dari pernyataan Andesh, “Apakah Kampung Akuarium akan tetap menjadi kampung, rumah susun (social housing) atau menjadi sesuatu yang baru?”

Kampung Akuarium mendapatkan banyak dukungan dari jaringan eksternal, seperti seniman-seniman hingga kolaborasi internasional. Hiroto Ota dari Kyoto University mencirikan kampung sebagai collective and diversity dimana beliau menggunakan metode self-organization dalam memetakan homesphere (keadaan ‘rumah’) guna membentuk sebuah lingkungan interaktif satu sama lain berdasarkan kesan yang timbul di setiap masyarakatnya. 

Rangkaian kegiatan ini ditutup dengan sesi tanya jawab dan pembagian kelompok. International Field School 2020 akan berlangsung selama 6 hari kedepan dengan agenda workshop, kampung talk, dan virtual exhibition yang tentunya akan lebih seru dan menantang dengan tema-tema yang berbeda setiap grupnya. Stay tuned!

 

 

Penulis : Andrew William

Materi Paparan dapat diakses di : Materi International Field School 2020 [Hari 1]
Video Lengkap :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *