[International Conference 2020] Kampung and Historic Urban Landscape

Pada hari Senin, 21 September 2020, diadakan International Conference yang merupakan bagian dari rangkaian Field School 2020. Tahun ini, International Conference mengangkat tema Kampung and Historic Urban Landscape. Tema ini dipilih untuk mempopulerkan narasi dan sejarah dari warga kampung, sebagai bagian dari lanskap sejarah kota. Jika pada hari sebelumnya peserta telah dikenalkan dengan Kampung Akuarium, termasuk perjuangan, proses dan transformasi desain Kampung Akuarium. Pada hari ini peserta mendapatkan banyak pengalaman dari sudut pandang pembicara yang membawakan studi kasus tentang bagaimana komunitas mempertahankan hak berhuni dengan cara yang unik.

Cuplikan paparan Dian Tri Irawaty

Konferensi ini dibuka oleh Dian Tri Irawaty, kandidat Ph.D UCLA yang berbicara tentang konsep dan sejarah permukiman kumuh di Jakarta dan juga bagaimana kondisi kampung di Jakarta. Dari tahun ke tahun, setiap rezim gubernur DKI Jakarta memiliki caranya masing-masing dalam menangani isu-isu tentang kampung, namun ada beberapa persamaannya yaitu adanya narasi yang dibangun terus menerus bahwa kampung merupakan penyakit dari perkotaan karena mereka menempati area seperti bantaran sungai sehingga menyebabkan area tersebut menjadi kumuh. Kemudian ada pula penggusuran yang dilakukan dengan berbagai alasan seperti permukiman ilegal dan mengaggu ketertiban umum yang diiringi dengan perlawanan dari rakyat miskin kota terhadap penggusuran-penggusuran tersebut. Sejak jaman penjajahan Belanda, kampung dianggap sebagai ruang yang tidak memiliki nilai estetika dan berbahaya bagi masyarakat. Pasca kolonial, masih ada perspektif dari pemerintah Indonesia yang memandang kampung sebagai ruang yang kumuh. Stigma tersebut lah yang memperkuat aspirasi untuk membenahi kampung melalui proyek yang bertujuan “mempercantik” kota.

Cuplikan paparan Elisa Sutanudjaja

Kemudian materi selanjutnya disampaikan oleh Elisa Sutanudjaja dari Rujak Center for Urban Studies terkait dengan sejarah perlawanan rakyat biasa. Salah satunya adalah di Kampung Akuarium. Kampung Akuarium sering dikenal sebagai kawasan yang memiliki banyak permasalahan sosial dan dulu dianggap sebagai area slum. Padahal Kampung Akuarium sudah lama ada dan menjadi saksi sejarah, sehingga perlu untuk dipertahankan. Sejak zaman kolonial, kampung merupakan kawasan yang sama pentingnya dengan kawasan lain karena menjadi penghubung antara rural dan urban area. Di Indonesia sendiri, kampung tidak memiliki entitas, hanya sekedar dijadikan nama saja dan sejarah tentang kampung nya telah hilang, seperti area Kampung Rambutan. Contoh lain adalah Kampung Akuarium, dulunya merupakan laboratorium belanda. Kemudian terdapat juga ada juga pasar ikan yang menjadi sumber kehidupan banyak orang sejak zaman kolonial. Keberadaan kampung Akuarium dengan bangunan kolonial dari masa lalu hingga sekarang sangat besar. “Kampung merupakan kawasan pendukung yang mana dari zaman kolonial pun para pekerja dan pejuang kita tinggal dari Kampung – kampung”, kata Elisa. Dapat disimpulkan bahwa Kampung Akuarium yang berusaha membangun kembali kampungnya, merupakan sebuah bentuk dari perjuangan para pemimpin dan rakyat sipil dalam mewujudkan kemerdekaan dan HAM, dan juga merupakan situs yang terbentuk akibat fenomena alam dan manusia yang dinamis dikarenakan oleh hubungan ekonomi-sosial-dan politik.
Lebih lengkap tentang proses Kampung Akuarium dapat dilihat di artikel rujak lainnya : Kampung Akuarium dan Masa Depan Perumahan Rakyat

Urban Regeneration Project di Ami Chojang, Busan City, Korea Selatan

Cuplikan Paparan Professor Woo, Shin Ko (Busan National University) menunjukan transformasi di kawasan Ami-Chojang

Acara dilanjutkan dengan materi Urban Regeneration Project di Ami Chojang yang disampaikan oleh Woo Shin Koo, Professor dari Pusan National University. Daerah Busan merupakan daerah historis dengan sejarah panjang di masa penjajahan Jepang. Daerah ini bahkan sudah dianggap sebagai “kampung” yang banyak dihuni orang Jepang pada masa itu. Orang-orang Jepang lalu membuat sebuah pemakaman yang dinamakan Ami-Chojang pada tahun 1910. Setelah Korea Selatan merdeka pada tahun 1945, banyak pengungsi yang datang ke Busan tanpa memiliki rumah. Mereka akhirnya secara acak dan membuat permukiman kumuh. Kemudian pada tahun 1953, pemerintah melakukan pembakaran besar-besaran pada area kumuh tersebut. Penghuni lantas melarikan diri ke daerah tempat pemakaman Jepang Ami-Chojang yang berada pada daerah pegunungan.

Cuplikan Paparan Professor Woo, Shin Ko (Busan National University) menunjukan regenerasi kawasan Ami-Chojang

Hingga kini, masyarakat tinggal diatas pegunungan pemakaman Jepang di Ami-Chojang. Kurangnya perencanaan yang baik saat membangun permukiman di area ini, menyebabkan kondisi fisik lingkungan yang kurang baik. Misalnya jalanan yang curam, sempit, tangga yang memiliki sudut yang sangat tajam. Selain itu, rumah-rumah di daerah ini berukuran sangat kecil dan tidak memiliki kamar mandi di dalamnya.  Daerah Ami-Chojang kini menjadi daerah yang ditinggalkan karena faktor-faktor tersebut. Akibatnya, banyak rumah kosong dan tidak terawat di area tersebut, menambah kekumuhan dan terjadi peningkatan kriminal. Kemudian pada 2015 dilakukan workshop untuk menemukan potensi dari daerah tersebut dan juga menyelesaikan permasalahnnya, dengan melibatkan banyak sekali pihak seperti dari tokoh keagamaan, polisi, masyarakat setempat, pemerintah, dan juga designer sehingga penduduk dapat memperbaiki rumahnya secara mandiri dan juga terbangunnya sebuah ruang komunitas agar warga dapat melakukan kegiatan bersama sama. Selain itu juga dibangun Tombhouse Cultural Village Guest House untuk menarik wisatawan yang tertarik dengan hal-hal kultural.
Lebih lengkap tentang Tombhouse Cultural Village dapat dilihat di : Ami-dong Tombstone Culture Village, home to graveyards

The Participatory Designing of Xizhou Tribe, Taiwan

Cuplikan Paparan Professor Wu, Jin Yung (National Taiwan University) menunjukan proses perencanaan bersama warga suku Amis

International Conference 2020 ditutup dengan materi The Participatory Designing of Xizhou Tribe disampaikan oleh Jin Yung Wu, seorang arsitek dari National Taiwan University. Suku Xizhou merupakan suku yang memegang teguh budaya dan tradisi walaupun mereka telah melakukan urbanisasi semenjak 40 tahun yang lalu ke perkotaan Taiwan. Mereka hidup di pinggir sungai, membangun rumah secara swadaya, menanam sayuran, beternak, dan menjadi nelayan. Namun setelah 40 tahun, kota berkembang dan pemerintah setempat membangun infrastruktur besar-besaran seperti jalan tol, dan tanggul sepanjang sungai untuk melindungi area kota dari banjir. Hal ini mengancam permukiman masyarakat Xizhou dan akhirnya mereka melakukan langkah demonstatif untuk melawan pemerintah. Advokasi untuk mempertahankan keberadaan dan permukiman suku, dilakukan dengan metode pendekatan partispatori yang melibatkan masyarakat setempat secara aktif.

Cuplikan Paparan Professor Wu, Jin Yung (National Taiwan University) menunjukan hasil perencanaan bersama warga suku Amis

Dalam pemetaan permasalahan yang digunakan metode analisis, “A pattern Language”, dengan penjabaran: masyarakat yang hidup di pinggir sungai, kehidupan matriarki, budaya badosi (berkumpul), dan hubungan yang erat anatara bumi dan manusia.  Analisis pola ini dipetakan, sehingga usaha preservasi tetap memegang teguh nilai kultur suku Xizhou. Keterlibatan warga melalui diskusi juga memperdalam pemahaman akan budaya yang mereka miliki. Setelah dilaksanakan diskusi, mereka menggambarkan secara spasial yang keinginan mereka , dan hal-hal spesifik lain. Selanjutnya, setelah dicapai kesepakatan dibentuk model 3D yang dapat dilihat langsung oleh warga sehingga memudahkan tahap terakhir yaitu pengerjaan gambar kerja dan detail oleh professional. Latar belakang warga Xizhou yang merupakan pekerja konstruksi menjadi nilai tambah bagi proses pembaharuan wilayah. Proses pengerjaan bersama ini meningkatkan rasa kepemilikan dan kebersmaan warga Xizhou. Lalu, setelah melewati banyak proses yang ada, apa langkah-langkah lain yang harus dilakukan? Penyebearan informasi mengenai budaya dan kultur yang dimiliki Xizhou dapat meningkatkan nilai dan kemandirian Xizhou. Usaha berupa mengajak komunitas lain, site visit, field school, telah dilaksanakan untuk meningkatkan kesadaran akan kultur yang dipunya oleh Xizhou. Sehingga pada akhinya, masyarakat Xizhou dapat mandiri dan meyankinkan bahwa budaya mereka ada dan harus dipertahankan.
Lebih lengkap tentang perjuangan suku Xizhou dapat dilihat di artikel rujak lainnya : Taiwan Series #1, Kemenangan Meraih Hak Bermukim Komunitas Amis,Taiwan

Penulis :
Lowis Barita Yoshua Marpaung
Fadhila Almapuspita

Materi paparan dapat dijumpai pada : materi paparan International Conference 2020
Dapat disaksikan pada : Youtube Link International Conference 2020 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *