Kampung dan Komunitas

Tulisan ini merupakan sambungan dari tulisan pertama berjudul “kampung kota sebagai solusi atas hak hunian layak” yang menjadi tema diskusi pada tanggal 11 Oktober 2018 bertempat di Goethe-Institut Jakarta. Tulisan pertama bisa dilihat disini

Mengapa kampung memiliki kesempatan untuk dimajukan ke masa depan? Tentu semua ini berangkat dari dasar kekuatan komunitas. Kampung merupakan komunitas, dari sini bahwa kata hak hunian layak merupakan lingkungan yang memiliki hubungan ketetanggaan yang saling mengenal satu sama lain. Namun juga, kekuatan komunitas perlahan terpecah dengan kehadiran Negara bangsa yang lebih mengedepankan nilai-nilai individual. Tentunya sudah banyak kritik tentang hal ini yang sudah terasa. Apakah betul manusia harus diorganisir berdasarkan individu-individu, bukan sebagai kelompok-kelompok atau kampung?

Menurut Marco Kusumawijaya, bahwa peran kampung merupakan sebuah perantara antara warga sebagai individu dan Negara atau kota sebagai sebuah kelompok yang lebih besar. Seperti apa yang disebut oleh Benedict R O`G Anderson sebagai “Imagined community” (komunitas yang dibayang-bayangkan) merujuk pada istilah bahasa Melayu. Akan tetapi bahwa lebih dari itu kampung merupakan komunitas yang senyata-nyatanya karena mereka (warga kampung) memiliki teritori fisik, hubungan sosial dan hubungan ekonomi yang sangat erat.

“Komunitas merupakan kekuatan ideologis yang sangat kuat, namun dalam perjalannya kini, kata komunitas kerap disalah artikan berdasarkan community of interest atau community of practice yang kadang menghilangkan makna dan substansinya.” Tutur Marco.

Mengutip pernyataan AbdouMaliq Simone, Marco menjelaskan bahwa dalam komunitas di kampung-kampung kota secara lebih konkret, itu adalah tentang warga yang berjuang, dan seringkali mereka membangun hubungan-hubungan dan mereka menyiasati kehidupan kota dan begitu mereka keluar menuju kota mereka merasa sangat abstrak dan tidak memiliki hubungan yang sangat nyata.

“Sama halnya apa yang di rasakan seorang koreografer dari Solo bernama mbah Prapto, menurutnya, bahwa suatu ketika mengatakan bahwa dahulu ketika saya masih muda (masa kolonial) bagi kami, dunia ini adalah kampung, karena ketika kami keluar dari kampung ke jalan besar seperti di Solo mungkin seperti jalan Slamet Riyadi, kami merasa itu bukan tempat kami, itu tempat milik orang-orang kolonial, akan tetapi jika kami di kampung kami merasa dirumah sendiri dimana kami bisa berekspresi dan membangun hubungan-hubungan sosial.”Lanjut Marco.

Substansi Komunitas

Menurut Marco bahwa peran serta komunitas begitu penting jika kita berpikir tentang masa depan yang lebih lestari. Karena hanya dengan komunitas itulah batas menjadi jelas untuk menunjukan apakah itu dalam batas kewajaran atau tidak. Karena representasi batas menyangkut keadaan sumber daya bersama yang sealu dijaga demi kebaikan bersama dalam sebuah kehidupan komunitas.

Lebih lanjut menurut Marco bahwa peran komunitas memiliki beberapa fungsi. Pertama, sebagai kritik terhadap Negara. Kedua, sebagai kritik terhadap kerja modal. Ketiga, sebagai kritik terhadap hasrat manusia. Bahwa komunitas adalah kritik terhadap kinerja modal adalah sebuah ancaman yang nyata.

“Misalnya di era kapitalisme saat ini yang banyak memunculkan spekulan dan melahirkan “kegilaan spekulasi” dan karena itu keberadaannya tidak menjadi pemenuhan kebutuhan, melainkan didasarkan pada hasrat yang sebetulnya tidak perlu. Selain itu bahwa fungsi menjaga hasrat manusia akan terukur dalam dimensi kebersamaan hidup sebuah komunitas dalam menjaga batas-batas sebagai sumber dayanya.” Tutur Marco.

Sebuah contoh seperti persoalan kawasan CBD Sudirman, dahulu di kawasan itu terdapat kira-kira 5.000 keping tanah (lima ribu pemilik tanah) sebagai permukiman. Angka sebanyak itu sudah tidak ada, bahwa saat ini hanya dimiliki oleh sekitar 10-15 perusahaan , namun 10-15 perusahaan itu hanya bermuara pada 2 atau 3 orang saja.

di masa depan untuk membangun kampung mungkin kita perlu menciptakan suatu sistem pendanaan, juga menciptakan suatu tata cara membangun melalui ruang komunitas.
Menurut saya bahwa kampung memiliki potensi ke masa depan, kalau kita melihatnya sebagai sebuah komunitas yang nyata yang kita perlukan untuk mengkritik cara kita membangun kota, mengkritik sebuah sistem kenegaraan, mengkritik kinerja modal dan sebagai kritik atas hasrat.

“Maka kalau kita melihat kampung dari sudut kritisnya, keberadaannya sungguh perlu, akan tetapi untuk memajukannya ke masa depan, tentu kita harus lebih bekerja keras, tentu bukan sekedar bernostalgia tentang fisik kampung, tetapi juga perlu mengubah cara-cara yang mungkin bersifat structural dan memungkinkan hal itu terjadi.” Tutup Marco.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *