Kampung Kota Dalam Cerita

“kalau kita ingin tahu rencana kota akan dibangun seperti apa, itu tidak dikantor Gubernur, tapi di atas meja kantor-kantor perusahaan properti. Ini merupakan persoalan bagi kehidupan berkampung dalam sejarahnya, bahwa narasi kampung banyak tertuang dalam pidato-pidato, namun sulit ada di dalam kenyataan terutama dalam pembangunan nasional” JJ. Rizal.

Sejauh ini ada hal menarik yang dapat kita dengar dari narasi kampung kota, bahwa kampung kota merupakan tempat berpijaknya perumahan rakyat yang notabene sampai saat ini hanya ada dalam cerita-cerita dan pidato dipanggung kekuasaan, namun sulit membayangkan itu menjadi kenyataan. Melalui diskusi bertema “kampung kota sebagai solusi atas hak hunian layak” di Auditorium Goethe-Institut, Rujak Center for Urban Studies kembali menggali ide-ide dasar persoalan kampung kota pada 11 Oktober 2018.

JJ Rizal membuka diskusi persoalah sejarah kehidupan masyarakat kampung kota melalui sebuah cerita seorang bernama Nyai Dasimah yang juga sudah menjadi buku dan terbit pada tahun 1896. Dari cerita Nyai Dasimah kita bisa melihat bahwa tidak ada satupun narasi yang baik tentang kehidupan kampung pada masa kolonial.
Kampung merupakan “beban” bagi kekuasaan kolonial, dan upaya penertibannya hanya dapat dilakukan dengan kekejaman.

Namun patut diperhatikan bahwa ketika narasi kehidupan kampung telah dibangun dengan “buruk rupa,” pada awal abad ke-20 sekitar tahun 1905, di Semarang muncul seorang bernama H.F TIllema telah menulis buku dan mulai memperkenalkan konsep apa yang disebut “kampung kota.” Sampai akhir hidupnya, konsep tersebut terus digunakan untuk menyebut kampung yang tumbuh dari gairah “berkota” dan semangat kekuasaan kolonial.

Nama Tillema itu sendiri sangat dikenal pada masanya karena dirinya merupakan seorang saudagar penjual minuman botolan pertama dan juga air bersoda. Hal menarik dari sosok Tillema adalah tentang hobinya dalam menyusun buku dari hasil fotografi dan membuat catatan personal yang membuat dirinya dikenal sebagai seorang antropolog urban amatiran, namun keilmuan Tillema pada saat itu adalah seorang apoteker.

Satu hal menarik yang patut disimak dari karya tulis Tillema yang memuat kisah tentang perumahan, bangunan, rumah dan taman. Dalam karya ini banyak ditemukan pandangan Tillema terhadap persoalan kehidupan kampung secara higienis yang seolah tidak pernah mendapat perhatian dari pemerintah kolonial yang menganggap kampung sebagai tempat yang kotor atau pun kumuh.

“Menurut Tillema, kehidupan kampung kota merupakan hal yang berbahaya jika dibiarkan dengan kondisinya yang kurang higienis, dan tentunya akan mempengaruhi perkembangan kota itu sendiri. Peran penting Tillema dari karyanya adalah bagaimana dia mengupayakan dan mendorong kaum nasionalis dalam memberikan bahan melalui karyanya sebagai seorang antropolog urban amatiran, dimana pada saat yang bersamaan sedang tumbuhnya gerakan kebangsaan dan juga gerakan Serikat Islam ((SI) yang mulai berkembang juga para arsitek yang mulai tampil.”ungkap JJ. Rizal.

Sampai pada akhirnya, buku karya Tillema juga telah menginspirasi seorang arsitek yang begitu terkenal bernama Thomas Karsten. Rasa terima kasih itu juga di ungkapkan oleh Karsten melalui ucapan terima kasih dalam bukunya atas pemikiran dari karya-karya Tillema yang bahkan dicetak melaluiuang pribadinya.
Dari situ, Karsten mulai melihat pengggabungan dalam membanun kota dengan kampung. Terutama sekali dalam membangun perumahan, dimana kampung mulai mendapat perhatian dan tidak dianggap sebagai beban dari proses membangun kota.

“Salah satu orang yang membawa ide mengnai konsep “kampung kota” dan penggabungan bagaimana mengupayakan pembangunan kota dan kampung adalah sosok Van Der Zee. Kalau bisa dibilang bahwa Van Der Zee merupakan sahabat sekaligus guru dari M. Husni Thamrin. Mereka berdua membuat sebuah proyek yang disebut “perbaikan kampung” (kampung verbetering). Maka untuk selanjutnya gagasan dan ide konsep perbaikan kampung juga telah mengilhami proyek MHT (Muhammad Husni Thamrin) di tahun 1097-an di Jakarta. Jadi sejak dahulu bahwa pemerintah kolonial tidak memiliki konsep untuk mengatasi persoalan kampung tersebut.” Tutur JJ. Rizal.

Pada masa kemerdekaan barulah dibuat sebuah kongres bernama kongres perumahan rakyat tahun 1950 yang dibuka langsung oleh bung Hatta. Kongres perumahan rakyat menjadi menarik disimak, bahwa urusan papan menjadi prioritas dari tumbuhnya sebuah republic yang baru merdeka. Dan setelahnya barulah urusan pangan dibicarakan tahun 1956.

“Namun perlu menjadi catatan adalah bahwa konsep perumahan rakyat pada sat itu masih di “awang-awang” dan hanya bereda melalui pidato-pidato. Kita bisa melihat kisah ini dari film karya Usmar Ismail yang berjudul Krisis yang berkisah tentang bagaimaa sulitnya membangun rumah di Jakarta. Kongres perumahan rakyat tahun 1950 telah menghasilkan perumahan untuk pegawai pemerintah, bukan untuk rakyat seperti yang terjadi di pembangunan perumahan Kebayoran, atau kisah pembangunan perumahan rakyat di Tebet, yang terdapat blok-blok kecil untuk rakyat, namun yang jelas itu bukan untuk rakyat, melainkan hanya untuk mereka yang terkena korban gusuran pembangunan Gelora Bung Karno.” Ungkap JJ. Rizal.

Sejauh ini, perumahan rakyat hanya muncul dalam pidato-pidato pemerintah. Terumasuk pidato bung Karno pada masa dahulu yang pernah berkata:
“kita harus membangun Jakarta dengan megah, dengan boulevard-boulevard yang megah, dengan monumen-monumen yang megah, dengan lorong-lorong yang megah, dengan gedung-gedung yang megah, tetapi kemegahan itu juga harus sampai ke gubuk-gubuk Marhaen.”

Ketika pidato-pidato perumahan rakyat berdengung begitu hebat, yang terlaksana hanyalah penggusuran di Jakarta. Pada masa Gubernur Sudiro banyak fenomena penggusuran terjadi di Jakarta. Bung Hatta memprotes dan berkata:

“orang-orang yang tinggal di kampung itu tidak seharusnya di gusur. Kita harus membiarkan kampung-kampung itu tumbuh, agar kelak mereka bisa menjadi mesin pengingat bahwa kita harus bekerja lebih keras, agar membawa kesejahteraan kepada banyak orang”

“oleh sebab itu menurut JJ. Rizal bahwa dalam buku Jakarta History karya Susan Blackburn memperlihatkan perkembangan Jakarta masa kolonial sampai masa kontemporer dan mengevaluasinya perkembangan yang terjadi. menurut Susan bahwa dua hal penting yang menjadi tumpuannya mngevaluasi Jakarta selama 400 tahun dengan konsep apa yang “berlanjut” dan apa yang “berubah” dengan pendekatan kelas memperlihatkan bahwa kota Batavia didirikan hanya untuk memenuhi mimpi-mimpi kaum aristokrasi uang dan politik. kenyataan ini yang dilihat Blackburn tidak pernah berubah di Batavia sampai Jakart saa ini. dalam sejarah panjangnnya Jakarta setelah melakukan proklamasi kemerdekaan dan yang diharapkan menjadi kota yang dicita-citakan membawa nilai-nilai kemerdekaan sebenarnnya sama hanya untuk memenuhi mimpi-mimpi kaum aristokrasi uang dan politik.”Tutur JJ. Rizal.

“Setelah masa demokrasi terpimpin yang banyak di bangun itu gedung-gedung yang disebut sebagai proyek mercusuar, itu yang ril yang tidak tercantum dalam pidato perumahan rakyat, dan setelah peristiwa 1965, kenyataan ini menjadi semakin tidak ril, bahwa sutradara pembangunan kota tidak lagi ditentukan oleh Gubernur, tidak lagi oleh presiden, melainkan ditentukan oleh konglomerat properti.” Tutup JJ. Rizal.