Kota Indonesia dan Pandemi: Sebuah Undangan Kolaborasi

Kota-kota Indonesia mungkin akan berubah total setelah Pandemi. Penjarakkan fisik sosial menjadi keharusan pada saat Pandemi. Hal tersebut tentunya menantang keunikan dan kekuatan kota-kota besar, yaitu kepadatan spasial dan fungsional, sekaligus tentang bagaimana kesharian kita di ruang publik dan dalam berkegiatan di kota.

Tak lama usai Pasien 1 dan 2 diumumkan oleh Presiden Jokowi, dan disusul oleh mulainya pembatasan oleh DKI Jakarta di 14 Maret 2020, kita menyaksikan gelombang insiatif msyarakat dan gotong-royong bermunculan di berbagai kota seakan-akan menutupi lambatnya respon Pemerintah dalam mengatasi Pandemi dan dampaknya. Banyak kampung dan lingkungan padat penduduk mengambil langkah yang diperlukan untuk melindungi diri mereka sendiri. Untuk pertama kalinya, kota dengan infrastruktur “smart city” yang memadai seperti Jakarta, Bandung, dan provinsi seperti Jawa Barat dan Yogyakarta, membangun platform informasi baru termasuk sistem pengawasan untuk melacak kontak erat.

Hubungan antara perkotaan dan pedesaan terganggu. Baik Pemerintah Provinsi maupun Kota dan Kabupaten perlu memikirkan kembali arus material orang, barang dan jasa, sumber daya dan modal. Daerah pinggiran menderita dan terputus serta tidak dapat memanfaatkan kota. Depok, Bekasi, Tangerang, Bogor dan Tangerang Selatan pun kesusahan ketika kereta dan layanan Transjakarta berkurang secara signifikan, sementara Bekerja di Rumah hanyalah anjuran saja serta pembatasan yang sulit ditegakkan. Kebijakan berbea-beda Pandemi, baik di level Pusat, Provinsi hingga Kota/Kabupaten memberikan kebingungan, serta memberikan dampak yang berbeda pada kota besar, kota menengah dan kota kecil

Ini adalah masa-masa yang belum pernah terjadi sebelumnya, dengan akumulasi tantangan dari masalah-masalah lama yang masih ada dan bahkan menumpuk. Ketimpangan disorot, bahkan dalam arti yang lebih besar. Anjuran untuk “Tinggal di Rumah” semaksimal mungkin tentunya sulit bagi 44% penduduk Jakarta yang tinggal di rumah dengan luas di bawah 10 m2 / orang. Meskipun sekitar 10% penduduk Indonesia masih kekurangan akses ke air, akan sulit dan mahal bagi mereka untuk mencuci tangan, prosedur paling sederhana untuk mencegah COVID19.

Adakah prilaku baru yang muncul dari jarak fisik dan sosial memengaruhi mobilitas dan infrastrukturnya, serta transportasi umum? Akankah kota berkembang atau menyusut, dan seperti apa kepadatan kota baru pasca Pandemi? Dengan pikiran sebagian orang yang masih berpacu ke depan dan ke belakang, berharap kembali ke “normalitas” (New Normal/Adaptasi Kebiasaan Baru), masa depan seperti apa yang akan datang ke kota-kota di Indonesia dan bagaimana mengakui perpecahan dan ketidaksetaraan yang sudah ada?

Di masa lalu, kota dan daerah di Indonesia sudah dan sedang mengalami masalah perumahan, polusi dan mobilitas, minimnya infrastruktur dasar, yang terkadang sudah dianggap sebagai situasi yang “biasa saja” atau “normal”. Tidak ada yang lebih buruk daripada kembali ke normalitas yang buruk. Secara historis, Pandemi telah memaksa manusia untuk melepaskan diri dari masa lalu dan membayangkan ulang dunia mereka. Begitupun Pandemi kali ini, tidak berbeda. Mengutip dari Arundhati Roy, “Pandemi adalah portal, pintu gerbang antara satu dunia ke dunia berikutnya. Kita dapat memilih untuk berjalan melewatinya sambilmenyeret bangkai prasangka dan kebencian kita, keserakahan kita, …, sungai mati dan langit polutif di belakang kita. Atau kita bisa berjalan dengan ringan, dengan barang bawaan kecil, siap membayangkan dunia lain. Dan siap untuk memperjuangkannya ”. Apakah kota-kota di Indonesia siap untuk berubah dan menerima perubahan menjadi lebih baik?

Sejak 30 Maret 2020, Rujak Center for Urban Studies memberikan perhatian khusus tentang dampak Pandemi dan kota. Bahkan sejak akhir September, Rujak membuka ruang dialog dengan kota-kota Indonesia untuk turut membicarakan tentang Pandemi dan Kota, baik dampak, perubahan, maupun harapan. 12 kota tersebut adalah Medan, Toboali (Bangka Selatan), Bogor, Depok, Bekasi, Tangerang Selatan, Cirebon, Semarang, Banjarmasin, Yogyakarta, Surabaya dan Palu. Apa yang terjadi selama 7 bulan dan bulan-bulan berikutnya adalah pelajaran dan pengalaman yang sarat pengetahuan yang perlu dipahami, dipelajari dan dikoproduksi ulang bersama.

Undangan untuk proses belajar dan memahami bersama itu tak hanya eksklusif bagi 12 kota tersebut saja. Tetapi kami juga membuka kesempatan pada kota-kota lain. Suarakan minat Anda di sini.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *